Pengalaman Pertama Pakai Cawan Menstruasi

Akhirnya saya beralih ke cawan menstruasi!

Sebenarnya sudah lama saya mendengar gaung menstrual cup yang fenomenal ini. Semakin lama semakin santer. Apalagi seiring gaya hidup tanpa sampah yang semakin ngetren belakangan ini.

Kesan pertama, saya skeptis. Penemuan apa lagi ini?

Melihat bentuk dan ukurannya, cukup membuat saya gentar. Awalnya memang hanya ada di luar Indonesia, dengan standar ukuran tubuh bule yang rata-rata lebih besar daripada orang Indonesia.

Lalu saya berpikir, bayi seberat 2,9 kilogram saja bisa keluar lewat situ. Silikon berbentuk seperti lonceng dengan diameter maksimal 5 sentimeter tentunya akan jauh lebih mudah untuk masuk dan keluar.

Lalu saya khawatir soal bahannya. Silikon. Karet. Memang beda, silikon bukan karet. Sempat terpikir akan muncul reaksi alergi.

Untungnya, referensi bacaan dan video soal cawan menstruasi ini berlimpah di dunia maya. Dalam bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris, dalam bentuk blog berkedok iklan maupun sungguhan blog pengalaman pribadi, semuanya tersedia.

Setelah baca sana-sini dan melihat video ini-itu, saya mulai mendapatkan pencerahan. Tapi saya baru membeli pembalut kain yang ketiga.

Menspads

Sejak setelah melahirkan, saya memakai pembalut kain. Sekali beli 12 buah. Cukup untuk pemakaian saya yang sering ganti pembalut. Dengan metode cuci-kering-pakai, tentu saja.

Setiap pembalut kain itu saya pakai selama 3 tahun. Jadi, hingga saat ini, saya sudah 2 kali beli pembalut kain yang baru lagi.

Bagi saya, pembalut kain nyaman dipakai. Bahannya tidak membuat kulit iritasi. Saya juga tidak perlu menderita gatal-gatal akibat serbuk pengubah cairan menjadi gel yang terdapat pada pembalut sekali pakai.

Selama 9 tahun, menstruasi saya tidak menyebalkan. Dan saya bisa berkegiatan seperti biasa. Kecuali berenang. Tentu saja.

Memang agak repot ketika harus bepergian. Urusan menjemur pembalut kain adalah sesuatu yang bikin maju-mundur. Tapi suami dan anak sudah (terpaksa) maklum jika saya menjemur pembalut di mobil. Hehehe…

Kembali ke cawan menstruasi.

Saya tidak langsung beli cawan menstruasi karena tidak ingin terjebak konsumersime. Hal yang mengganggu saya soal tren gaya hidup tanpa sampah ini adalah beli ini-itu yang baru untuk menggantikan barang lama yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.

Waktu itu, saya berpikir, pembalut kain saya masih bisa dipakai dan saya tidak ada masalah dengan itu. Jadi saya selesaikan dulu memakai pembalut kain hingga tiga tahun penuh.

Dan saya beruntung, karena ketika pembalut kain terakhir saya sudah tiga tahun, sudah mulai muncul cawan menstruasi buatan lokal yang harganya jauh lebih terjangkau. Pilihan saya jatuh pada Girl’s Menstrual Cup.

Silikonnya tebal tapi elastis dan terasa lembut di kulit. Waktu baru datang, saya sempat bingung merebusnya. Panci-panci di rumah tentunya biasa dipakai untuk masak mi instan atau makanan berkuah lainnya dengan rempah kuat atau santan.

Merebus pakai panci yang biasa kami pakai merebus air untuk menyeduh kopi atau teh pun rasanya tidak mungkin. Panci jangan sampai mengontaminasi cawan menstruasi, begitu juga sebaliknya. Cawan menstruasi pun jangan sampai mengontaminasi panci.

Akhirnya saya merebus air hingga mendidih. Menempatkan cawan mesntruasi di wadah plastik (bebas BPA, tentu saja) yang jarang dipakai. Lalu menyiramkan air mendidih. Setelah air agak dingin, saya mengganti air mendidihnya sekali lagi.

Lantas saya bertanya-tanya. Haruskah saya beli panci baru demi urusan sterilisasi cawan menstruasi?

Ah! Jangan beli sesuatu yang baru lagi dong, please…

Saya juga tidak mau tergoda dengan sabun khusus, alat sterilisasi khusus, bahkan tisu pembersih khusus untuk cawan menstruasi. Saya akan memikirkan semuanya sambil jalan.

Akhirnya si bulan yang ditunggu-tunggu datang juga. Meskipun saya bermasalah dengan keseimbangan hormon, tapi siklus menstruasi saya termasuk teratur.

Hari pertama, masih sedikit. Percobaan pemasangan pertama rasanya sukses saja. Dan ternyata tidak terasa mengganjal. Saya bisa berkegiatan seperti biasa. Duduk lesehan, duduk di sofa empuk hingga pantat tenggelam, berjongkok, berjalan, buang air kecil, semuanya lancar tanpa ada rasa risih.

Hari pertama dan kedua, saya masih belum bisa menduga volume menstruasi saya. Jadinya saya mengecek si cawan setiap 2-3 jam sekali. Padahal masih terisi sedikit.

Dibawa tidur malam pun nyaman saja. Saya tidak perlu merasa khawatir tembus dan belepotan menodai seprai. Dan baru pagi setelah benar-benar bangun, saya mengecek dan membersihkan si cawan. Maklum, masih libur sekolah anak. Jadi saya tetap terbangun ketika adzan subuh tapi lantas tidur lagi. Hihihi…

Hari ketiga dan keempat, saya bisa lebih cuek. Mengecek cawan menstruasi hanya di sore hari sekalian mandi, lalu saya bersihkan lagi malam sebelum tidur.

Unscented Liquid Soap

Untuk membersihkan cawan menstruasi dan mencuci tangan, saya pakai Unscented Liquid Soap-nya Kippabuw. Tanpa detergen, formulanya lembut, dan tanpa pewangi. Saya terpikir juga, apakah boleh menambahkan minyak atsiri tea tree ke sabun cair yang saya pakai?

Sebagai seseorang yang kecanduan essential oil, tea tree ini sudah tertanam di otak sebagai aroma sesuatu yang bersih.

Satu hal lagi yang membuat saya merasa senang beralih ke menstrual cup adalah lebih hemat air. Mencuci menstrual pad perlu membilas beberapa kali agar benar-benar bersih. Tentunya cawan menstruasi ini akan menjadi teman perjalanan yang tidak merepotkan.

Mungkin bulan depan saya akan mencoba berenang.