My Own Fiction

Memori Park Seo Bin: Bagian 1

“Pe-perawat!” teriak Jong Wan Ji panik.
Seorang perawat berwajah keibuan masuk ke dalam kamar dengan sigap, namun tenang. “Se-sepertinya… Seo Bin… Sadar,” Jong Wan Ji minggir, memberikan ruang bagi perawat untuk memeriksa pasien wanita berusia 26 tahun yang terbaring dengan berbagai selang membelit tubuh kurusnya.
Kemudian, seorang dokter ganteng, dengan label nama Shin Eun Woo, masuk pula ke dalam kamar. Jong Wan Ji bergabung dengan kakak perempuannya, yang sejak tadi duduk gelisah di sofa, di sudut kamar. Dokter mengobrol sebentar dengan perawat, lalu mulai memeriksa kondisi pasien.
Benar saja. Jari-jari pasien mulai bergerak-gerak lemah. Semakin lama, tampak semakin kuat. Beberapa menit kemudian, ia membuka matanya.
“Halo, Nyonya Park Seo Bin!” sapa dokter Shin Eun Woo, ketika si pasien tampak sudah sadar.
“Sa-ya… Kenapa?” tanyanya sambil meringis, kepala dan tubuhnya terasa nyeri.
“Anda ingat nama Anda?” dokter malah balik bertanya.
“Nama sa-ya… Putri Evangeline,” jawab si pasien. Rasa nyeri di seluruh tubuhnya semakin terasa jelas. “Eh, kenapa bahasanya gini?” ia jadi kaget sendiri, baru tersadar kalau ia sedang bicara bukan dalam bahasa Indonesia. “Saya di mana?” tapi ia bertanya lagi, dalam bahasa asing itu.
“Kita di Seoul. Nama Korea Anda, Park Seo Bin,” jawab dokter Shin Eun Woo, lalu menoleh ke arah kakak-beradik yang masih tampak gelisah, di sudut kamar. “Suami Anda, Jong Wan Ji. Dan kakak ipar Anda, Jong Chan Young,” dokter menoleh lagi ke arah Putri. “Anda ingat?”
“Su-suami?” Putri terlonjak kaget sampai hampir melompat dari ranjang. Perawat membantunya berbaring lagi. Kepala Putri juga terasa semakin nyeri.
“Anda mengalami kecelakaan mobil,” jelas dokter. “Kepala Anda terbentur keras.”
“Am-ne-sia?” Putri merasa tubuhnya semakin lemas.
“Ada memori yang hilang, akibat trauma tersebut,” angguk dokter Shin Eun Woo menjelaskan.
“Apakah, em, memori saya bisa kembali?” tanya Putri sambil melirik ngeri ke arah kedua orang yang tadi disebutkan sebagai suami dan kakak iparnya.
“Kita akan berusaha,” jawab dokter Shin Eun Woo sambil tersenyum optimis. “Yang penting, sekarang kita perlu memulihkan kondisi fisik Anda dulu.” Dokter Shin Eun Woo mengangguk sopan, pamit keluar kamar.
“Seo Bin,” Jong Wan Ji bergerak mendekati Putri. “Kamu tidak ingat aku?” tanyanya tak percaya. Berharap istrinya hanya berpura-pura. Menunggu ledakan tawa ceria khas istrinya yang menggemaskan itu.
“Maaf,” gumam Putri sambil menggeleng lemah.
“Permisi, Nyonya Park Seo Bin harus istirahat,” perawat menyuntikkan cairan bening melalui selang infus, kemudian mengajak Jong Wan Ji dan Jong Chan Young keluar kamar.