Drama

Saya kembali lagi dengan lagu baru!
Meskipun lirik lagunya terasa agak berat, tapi waktu menulisnya semua mengalir begitu saja. Terpikir untuk membuat versi bahasa Inggrisnya, tapi belum dapat padanan yang pas.

Videonya direkam oleh Bebi Vendra, yang menawarkan diri menjadi sutradara sekaligus kamerawan. Jadi, jangan kaget kalau videonya geser-geser, goyang-goyang, bahkan ada tangan kecil muncul. Paling tidak, bocah 7 tahun itu paham kalau tugas sutradara adalah teriak ‘Action!’ dan ‘Cut!’, hehehe…

Drama

Kisah bergulir dari awal jenaka
Membuai mengalun langkah dan terlena
Tiba saatnya konflik datang menyapa
Meruntuhkan semangat hingga terpana

Emosi yang bergejolak
Naik turun bak gelombang

Cerita membawamu melayang
Ke tempat yang paling tinggi di atas
Ada saat terpaan menggoyahkan
Tanpa ampun jatuhkanmu ke dasar

Hempasan problema pun mulai mereda
Senyum indah tampak kembali merekah
Meski tawa hanya tahan sementara
Murka dan air mata mendera

Emosi yang bergejolak
Turun naik bak gelombang

Cerita menyeretmu ke bawah
Ke tempat yang paling gelap di dasar
Ada saat hembusan menerbangkan
Melambungkan tinggi ke atas awan

Nikmatilah
Setiap alur kisah

Dan berlari menyongsong cahaya
Tak pernah berhenti untuk menyerah
Rintangan gangguan hanya selingan
Berjuang hingga menggapai akhir bahagia

Advertisements

Hari Merdeka

Bulan Agustus adalah bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Karena pada tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan.

Saya dan Bebi Vendra ikut merasakan kemeriahan peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 kali. Karena di televisi dan di tempat-tempat umum mulai banyak mengumandangkan lagu-lagu wajib nasional, maka saya mulai membuat beats untuk lagu Hari Merdeka (Ciptaan H. Mutahar) pada aplikasi android drum sequencer. Dari beats sederhana yang sangat pop-punk, kemudian melalui beberapa kali proses penyuntingan, jadilah lagu Hari Merdeka versi kami.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Kikuk

Lagu ini sudah beberapa minggu lalu saya tulis. Kalau didengarkan, sepertinya, pada waktu itu sedang dalam suasana hati muram, hehehe…

Liriknya menceritakan tentang seseorang yang selalu saja menyenggol sesuatu, setiap kali bergerak atau melangkah. Kami punya sedikit masalah dengan situasi seperti itu di rumah.

KIKUK
Ketika ku harus melempar langkah
Kecil maupun besar tidak mudah
Selalu saja berujung akibat
Sentuh dan jatuh apapun terdekat

Dalam sekedip mata
Hanya sekejap saja

Setiap gerak perlu perhitungan
Jarak dan perkirakan kekuatan
Peristiwa yang selalu saja
Hanya sekedipan mata

Dalam sekedip mata
Hanya sekejap saja

Setiap kali adalah singgungan
Hanya dalam sekedipan
Akhiri semua namun tak mudah
Dalam sekedipan mata

Ketika ku harus melempar langkah
Jarak dan perkirakan kekuatan
Apapun jatuh dalam jangkauan
Hanya sekedipan mata

Dalam sekedip mata
Hanya sekejap saja

Setiap kali adalah singgungan
Hanya dalam sekedipan
Akhiri semua namun tak mudah
Hanya sekedipan saja
Dalam sekedipan mata

#RIPChester

Sebenarnya, saya bukan termasuk orang yang suka ikutan heboh dengan trending topic. Bahkan, bisa dibilang, saya hampir tidak peduli dengan hal-hal yang ramai dibicarakan orang, baik di tongkrongan maupun di media sosial. Misalnya, soal Despacito, atau kasus bullying di Thamrin City, atau hak angket KPK, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kebanyakan, sumber berita saya adalah Instagram. Saya suka mengklik tombol bersimbol kaca pembesar di Instagram, awalnya untuk mencari inspirasi desain sabun. Lama-lama, laman tersebut jadi sumber berita saya. Kebanyakam berita terbaru, saya dapatkan dari sana. 

However, #LinkinPark was one of my musical influences. #ripchester #chesterbennington

A post shared by Veronica Lucia Handayani (@kippabuw) on

Kemarin, waktu menunggui Bebi Vendra pulang sekolah, saya juga sempat mengintip tab search Instagram. Tumben-tumbenan, ada gambar Chester Bennington. Maka saya lihat saja gambar tersebut. Dan saya terkejut membaca keterangan gambarnya, bahwa Chester meninggal dunia bunuh diri.

Saya bukan penggemar berat Chester atau Linkin Park. Tapi ada masa di mana saya mendengarkan Linkin Park. Bahkan, band semasa SMA saya pernah membawakan beberapa lagu Linkin Park. Saya juga pernah mengalami saat di mana saya diejek oleh teman-teman penyuka genre musik yang sama, karena saya mendengarkan Linkin Park, hingga membeli kaset album musik mereka.

Saya tidak peduli pendapat atau komentar orang lain soal kepergian Chester. Baik yang sedihnya lebay, hingga yang mencela dan mengkait-kaitkan dengan isu agama (apaan sih, semua-semua disambungin sama isu agama?). Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, atau apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan Chester. Saya hanya berharap, Chester tenang di sana. Bagaimanapun, Linkin Park (awal) adalah salah satu yang membentuk musikalitas saya secara pribadi.

Tunda

Akhir minggu lalu, saya menulis sebuah lagu baru. Begini liriknya…

TUNDA

Kubuka mataku yang terasa berat
Dan memaksa tubuhku meskipun penat
Yang sudah menungguku deretan tugas
Waktu yang singkat semua harus tuntas

Biarkan mereka
Biarkanlah saja
Biarkan menunda
Nanti saja

Kumpulkan semangat dan tenaga lagi
Bangkitkanlah juga suasana hati
Yang kuperlukan hanyalah dukungan
Apresiasikan semua bantuan

Biarkan mereka
Biarkanlah saja
Kuhanya ingin menunda

Setiap hal yang harus dikerjakan menunggu
Ku jadi terburu-buru
Garis akhir tampak masihlah jauh
Harap menunggu tak jenuh

Akhirnya ku hanya duduk termenung
Tak hiraukan peringatan yang meraung
Sesaat kututup saja telingaku
Tersadar semua hanya buang waktu

Biarkan mereka
Biarkanlah saja
Kuingin lari saja

Setiap hal yang harus dikerjakan menunggu
Ku jadi terburu-buru
Garis akhir masih belum tampak lugas
Harap menunggu tak jenuh hingga semua tuntas

Dan, seperti ini lagunya.

Seperti biasa, rekaman dilakukan secara live di rumah. Dengan iringan drum sequencer dari aplikasi di ponsel.

Liriknya cocok untuk teman-teman yang setiap bangun pagi, teringat to-do list yang panjang, atau dikejar deadline pekerjaan. Situasi seperti ini dialami tidak hanya oleh teman-teman pekerja kantoran, tapi juga para full time mom.

Selamat menikmati!

Workaholik

Beberapa hari lalu, saya menulis lagu baru. Ini dia…

WORKAHOLIK

Selamat pagi!
Nikmati hangatnya sapaan sinar mentari
Tersenyumlah!
Udara baru yang segar ini kau hiruplah

Hari baru datang membawa harapan
Dan membawa kisah
Hari baru datang membawa cerita
Petualangan berbeda

Mari sambut hari baru dengan senyum dan semangat
Manfaatkan waktu yang ada untuk berkarya (terus)

Selamat malam!
Nikmati indahnya kerlip cahaya bintang
Tersenyumlah!
Satu hari lagi telah berhasil kau lalui

Semua usaha tidak sia-sia
Esok masih ada
Semua cerita menjadi inspirasi
Untuk hari yang lain

Mari sambut hari baru dengan senyum dan semangat
Manfaatkan waktu yang ada untuk berkarya (selalu)

Dan, seperti ini lagunya…

Musiknya direkam live di rumah, menggunakan ponsel. Dengan iringan drum sequencer dari aplikasi di ponsel. Videonya juga direkam menggunakan ponsel dan penggabungan audio dan videonya juga menggunakan aplikasi bawaan ponsel.

Proses penciptaan lagu ini juga terbilang singkat. Dimulai dari ide ketukan dram, kemudian nadanya, dan terakhir lirik lagunya. Kenyataannya, menulis lirik lagu positif memang lebih cepat, dibandingkan lirik lagu yang mengeluh, sedih, atau mencela. Hehehe… Mungkin, karena saya orang yang berpikiran positif?

Meskipun hasil rekamannya kurang bagus, mudah-mudahan, hasil karya saya ini bisa diterima ya.

소녀시대 SNSD Girls’ Generation – Lion Heart (Lipsync by Vero)

Ya, di antara playlist musik saya saat ini memang terselip album Lion Heart-nya SNSD Girls’ Generation dan Made-nya Big Bang. Dan, inilah saya, lipsync lagu Lion Heart-nya SNSD Girls’ Generation, sambil berkendara pulang, setelah mengantar Bebi Vendra ke sekolah.

Ngomong-ngomong soal Korea, dua hari lalu, Bebi Vendra menulis nama Bebi dalam huruf hangul. Meniru dari yang saya tuliskan untuknya.

Bebi Vendra belum bisa membaca, sebenarnya. Tapi sudah mengenal huruf dan angka. Ia melihatnya di televisi, papan-papan iklan di jalanan, atau Youtube, lalu bertanya dan saya menjelaskan tentang tulisan yang ia lihat. Ia juga sering bertanya, jika ingin melakukan pencarian video di Youtube, harus mengetik huruf apa saja, lalu ia mengetiknya sendiri.

Sehari-hari, kami bicara dalam bahasa Indonesia. Kami bukan orang tua yang memaksakan anaknya berbahasa Inggris sejak dini. Lebih mudah belajar bahasa Inggris, daripada bahasa Indonesia yang baik. Buktinya, dari Youtube, televisi, dan film bioskop, ia jadi mulai paham bahasa Inggris, juga bahasa Korea. Bahasa Korea, saya bisa menjelaskan sedikit-sedikit, karena saya sendiri juga mempelajarinya. Tapi kalau ia sudah menirukan bahasa Rusia, haha, saya hanya bisa nyengir.

One Rockstar Trip

Ya, aku merasa seperti rockstar.

Ceritanya, beberapa bulan lalu, salah seorang kawan meminta band metal hardcore ku untuk main di acara yang diadakannya di Yogyakarta. Kami langsung mengiyakannya, waktu itu. Tanpa berpikir lagi kalau aku, sang vokalis, sekarang tinggal di Tangerang dan si penabuh dram saat ini berdomisili nun jauh di pulau Sulawesi.

Waktu pun berlalu, dan acara tersebut tinggal beberapa hari lagi. Aku tak melihat kemungkinan untuk kami tampil. Si penabuh dram sedang tak berada di Yogyakarta, sedangkan pemain pengganti pun tak ada yang bisa.

Ternyata, hari Jumat malam, si dramer meneleponku untuk mengabarkan kalau ia akan berada di Yogyakarta pada hari yang dijadwalkan untuk kami tampil. Bahkan, Sabtu malamnya, ia sudah berada di Yogyakarta.

Aku pun segera mencari tiket transportasi umum ke Yogyakarta. Tak disangka, aku malah dapat penerbangan Indonesia Air Asia dengan harga sekitar 600.000 rupiah, pulang pergi. Beruntungnya aku!

Aku berangkat Senin siang dari Cengkareng. Sampai Yogyakarta langsung latihan. Selasa malamnya tampil. Dan Rabu sorenya aku sudah tiba di Cengkareng lagi.

Sayang juga sih nggak berlama-lama di Yogyakarta. Tapi memang aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan Kippabuw di rumah.