#KippabuwHoliday2016

Karena mama, adik dan opa saya tinggal di Yogyakarta, maka kota tersebut jadi tujuan pulang kampung kami. Dan karena mereka merayakan natal, maka momen akhir tahun tersebut jadi waktu pulang kampung kami. Mudik natal pun jadi agenda liburan tahunan keluarga kecil kami.

Mudik natal tahun 2016 ini, kami berangkat tanggal 21 Desember malam. Memang rencana lewat jalur utara, dan Waze memang menyarankan demikian. Sebenarnya, kami belum tahu soal jembatan Cisomang di tol Cipularang yang bergeser, sehingga mengharuskan rekayasa lalu lintas.

Kami berhenti untuk makan di tempat istirahat tol Cikampek km 39, lalu berhenti lagi di tempat istirahat tol Cipali km 102. Karena ternyata waktu sudah hampir subuh, kami merem sebentar hingga hari terang.

Perjalanan cukup lancar, namun tersendat di beberapa titik pertemuan lalu lintas dan harus berhati-hati di beberapa titik yang jalannya rusak parah atau sedang diperbaiki. Kami sampai di Yogyakarta sekitar jam 00.30 tanggal 23 Desember.

Setelah tidur hingga hari terang, tujuan makan pagi kami adalah Ayam Pak Kromo. Ini adalah salah satu makanan wajib yang harus dinikmati, setiap kali kami ke Yogyakarta. Ayam goreng yang dimasak bacem, empuk namun tidak hancur dagingnya.

Malamnya, kami makan dan nongkrong di Angkringan Kebon, tak jauh dari rumah Mama.

Besoknya, Bebi Vendra membantu Oma-nya menghias pohon terang.

Lalu sorenya, kami mengikuti ibadah malam natal di GKJ Maguwoharjo. Begitu pula besok paginya, kami beribadah natal di gereja yang sama.

Tanggal 25 Desember malam, kami mencoba restoran Pizza Pazza, yang berlokasi di Jalan Kaliurang km 8,8. Biasanya, ketika ke Yogyakarta, kami mengunjungi Nanamia Pizzeria. Tapi entah kenapa, kali ini kami malas banget kalau harus berjuang di tengah kemacetan menuju bagian selatan Yogyakarta.

Berhubung ketika browsing menemukan restoran pizza di bagian utara Yogyakarta, yang lebih mudah dijangkau, maka kami mencobanya. Restoran ini milik orang Italia asli, kata Google. Maka kami sudah terbayang disuguhi pizza tipis renyah, yang memang kesukaan kami.

Tanggal 26 Desember, kami makan pagi di Pecel Madiun Maguwoharjo. Ini juga salah satu tempat makan favorit saya sejak lama. Rasa bumbu pecelnya ‘Madiun’ banget, pas berpadu dengan peyek ebi-nya.

Setelah itu, kami meluncur menuju Gunung Kidul. Pantai adalah salah satu agenda wajib liburan kami juga. Bebi Vendra bahkan membawa mainan truk dan ekskavator-nya. Sebelum-sebelumnya, ia hanya ingin main pasir dan tidak mau kena air laut. Tapi, belakangan, ia mulai suka main air juga.

Setelah mandi, kami sempat menikmati matahari terbenam. Oiya, kami bermain pasir dan air di pantai Slili. Menginap di pantai itu juga. Sekitar 4 tahun tak berkunjung, pantai ini sudah menjadi sangat ramai, seiring meningkatnya minat pengunjung.

Dulu, kami hanya bisa menginap di pantai Kukup, karena pantai Slili sangat sepi setelah matahari terbenam. Hampir tak ada tanda kehidupan. Sekarang, ada banyak pilihan penginapan juga tempat untuk makan malam.

Tanggal 27 Desember dini hari, sempat turun hujan deras, sehingga matahari terbitnya tak begitu kelihatan. Setelah main pasir dan air lagi, lalu mandi, kami berkemas untuk kembali ke rumah mama.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir makan di Mbok Berek Garden, yang masih soft opening.

Besoknya, kami di rumah saja kumpul keluarga. Tak lupa, menikmati sajian sedap masakan khas keluarga mama saya, masakan bergaya Manado.

Tanggal 29 Desember, kami menikmati pagi di Taman Kaliurang. Berjalan-jalan menikmati udara sejuk, jajan wedang ronde dan sate, lalu mencoba beberapa wahana permainan yang disediakan. Bebi Vendra mencoba flying fox junior juga.

Karena hari masih cukup siang, maka dari Kaliurang kami meluncur menuju Bandara Adisucipto. Idenya adalah untuk naik kereta api dari stasiun Maguwo, karena Bebi Vendra menyebutkan ingin naik kereta diesel.

Namun, karena tiket kereta api habis, maka sebagai rencana cadangan, kami naik bus Trans Jogja menuju Malioboro, lalu kembali ke stasiun Maguwo naik KA Prameks. Tiket kereta api bisa dibeli lebih dahulu, tapi sekarang wajib pakai identitas diri. Tanpa tanda pengenal yang sah, petugas menolak menjual tiket.

Naik bus Trans Jogja pun tak berjalan mulus. Jalur yang menuju Malioboro penuh terus, sehingga kami tidak kebagian naik. Akhirnya, kami memilih jalur lain yang lewat Taman Pintar.

Dari Taman Pintar, kami jalan kaki menuju Malioboro. Mampir makan siang pecel di Pasar Beringharjo. Saya dan suami tersayang juga sempat bernostalgia, ketika melewati tempat di mana kami ketemu untuk pertama kalinya, di depan Kantor Gubernur DIY.

Karena masih ada waktu sebelum kami harus naik KA Prameks untuk kembali ke Bandara Adisucipto, kami beristirahat bersantai sembari ngopi di Kedai Kopi Mataram.

Berlokasi di Jalan Mataram, tempatnya cukup nyaman untuk nongkrong, meskipun terasa agak gerah. Menu minumannya oke, menu makanannya biasa saja. Karena mengeposkan foto di Instagram, kami dapat pai susu sebagai komplimen.

Ketika hari mulai gelap, kami jalan kaki lagi menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah menunggu, akhirnya tiba waktunya kami naik KA Prameks. Hanya sebentar, karena kami turun di perhentian kedua. Yang penting, rasa penasaran Bebi Vendra untuk naik kereta diesel sudah terpenuhi.

Tanggal 30 Desember siang, kami memulai perjalanan kembali ke Tangerang. Dengan membalik rute yang sama ketika berangkat, yaitu lewat Semarang lalu menyusuri jalur utara Jawa. Perhentian pertama kami adalah Banaran9, Secang. Kebetulan, suami saya juga harus menyelesaikan sebuah pekerjaan desain. Sembari kami mengisi daya ponsel juga. Saking banyaknya gawai, ketika bepergian seperti ini, kami bahkan membawa tambahan colokan listrik sendiri, hehehe.

Setelah hari gelap, kami melanjutkan perjalanan. Menjelang tengah malam, kami istirahat sambil makan nasi megono di Alun-alun Batang. Lewat tengah malam, kami merem sebentar di sebuah pom bensin setelah keluar kota Pekalongan.

Setelah hari terang, kami melanjutkan perjalanan dan mampir ke pantai Widuri, Pemalang. Bebi Vendra main pasir bersama mainan truk dan ekskavatornya, juga majn air. Sedangkan saya dan suami duduk santai menikmati udara pantai sambil ngopi dan mengobrol.

Menjelang tengah hari, kami melanjutkan perjalanan. Setelah berhenti di tempat istirahat tol Cipali km 120, sisa perjalanan sejauh 150 kilometer bisa digeber tanpa menginjak pedal rem. Dan sisa 5 kilometer lagi, setelah keluar tol Joglo, agak padat. Namun kami merasa bersyukur bisa sampai rumah lagi setelah sekitar 27 jam perjalanan.

Kami pun merayakan malam pergantian tahun di rumah. Selamat tahun baru, teman-teman! Mudah-mudahan, apa yang diharapkan di tahun 2017 ini dapat terwujud.

Makan Siang di Ikkudo Ichi, Puri Indah Mall

Seminggu yang lalu, sepulang sekolah, kami keluyuran ke area Puri Indah. Ada beberapa barang yang perlu dibeli. Setelah berkeliling dan belanja, kami mulai merasa lapar.

Awalnya, ingin makan di Marutama Ramen. Tapi ternyata gerainya sudah tutup, dan akan digantikan Sunny Side Up. Ada Marugame Udon, di dekatnya, tapi saya pribadi kurang suka udon. Entah kenapa.

Lalu teringat, ada gerai Ikkudo Ichi juga di sana. Kami pun sepakat untuk makan siang di sana.

Anehnya, ketika memesan, kami malah tidak memesan ramen sama sekali. Justru Chicken Karaage Don, Gyoza, dan Chahan.

Bebi Vendra suka gyoza goreng di gerai ini. Memang, gyoza goreng di Ikkudo Ichi rasanya paling cocok di lidah kami. Garing dan renyah, namun tidak kehilangan rasa khas. Di tempat lain, gyoza goreng yang disediakan cenderung seperti kue pastel.

Bebi Vendra juga minta nasi dengan ayam goreng tepung. Karaage di Ikkudo Ichi rasanya unik. Tepungnya tebal namun terasa ringan dan nggak bikin eneg. Kalaupun tidak habis 1 porsi, ya karena kapasitas sekali makan kami yang kecil. Toh sisa separo porsi yang dibungkus untuk dibawa pulang, langsung ludes, tak lama kami sampai di rumah.

Saya suka chahan, nasi goreng khas Jepang dengan rasanya yang gurih. Favorit nomor satu adalah chahan dari Ramen 38 Sanpachi. Sajian Ikkudo Ichi ini adalah favorit nomor dua. Keduanya punya rasa khas sendiri. Dan Ikkudo Ichi menambahkan sayuran potong ke dalamnya.

Selama kunjungan makan, kami cukup berisik. Sedang dalam mood jahil. Mohon maaf ya atas gangguannya. Hihihi…

#ootd saya, sangat sederhana. Hanya kaos hitam, dipadukan dengan celana jins hitam dan sepatu Airwalk andalan.

#fotd nya juga tidak menonjol. Hanya Kippabuw Autumn Colors Nude Tinted Balm sebagai pelembab wajah. Maybelline Hyper Sharp Liner sebagai eyeliner. Kippabuw Autumn Colors Brow Balm untuk alis mata. Dan Kippabuw Rose Tinted Balm untuk bibir.

Makan Siang di Go!Curry

Beberapa hari lalu, saya dan Bebi Vendra makan siang di Go!Curry, Lippo Mall Puri, Jakarta Barat.

Saya memilih Brown Curry, tidak pedas sama sekali (maklum, makan bersama anak-anak), dengan Chicken Katsu dan Long Grain Rice. Dengan tambahan Low Carb, alias sayuran rebus.

Saya suka menu yang praktis dan lengkap, sudah termasuk karbohidrat, protein dan sayuran. Soal rasa, menu yang disajikan Go!Curry ini memang nasi kari yang paling cocok di lidah saya. Pernah coba di beberapa restoran kasual Jepang, tapi rasanya masih belum pas.

Kari yang disediakan Go!Curry ini cukup kuat, namun tidak berlebihan. Kekentalannya cukup, perpaduan bumbu-nya pun tidak saling mendominasi, tapi saling melengkapi.

Chicken Katsu-nya, ayam goreng dengan tepung, potongannya cukup besar. Daging ayam-nya cukup empuk, hingga Bebi Vendra, yang malas mengunyah daging ayam pun bisa melahapnya. Dengan nasi putih panas, juga sayuran rebus (kembang kol, wortel, jagung muda, kentang kecil, dan string beans), keseluruhan menu ini membuat kami kenyang namun senang.

Untuk makan siang kali ini, saya harus membayar sebesar 140.421 rupiah. Pantas juga sih. Porsi besar, pas untuk saya dan Bebi Vendra. Enak pula.

Soal pelayanan, hmm… Entah karena kami pengunjung pertama di hari itu, atau memang para staf sedang kurang konsentrasi bekerja. Saya memergoki satu staf di dapur mengaduk masakan sambil fokus ke ponsel. Juga 2 staf di belakang konter, tampak asyik dengan ponsel masing-masing.

Di restoran ini juga disediakan pensil warna, untuk anak-anak yang ingin mewarnai alas makan mereka yang sederhana namun lucu. Yaitu gambar polos kostum daerah-daerah asal kari yang disajikan. Ada Jepang, Thailand, Indonesia.

Sarapan di Mobil, GIIAS 2016, Pameran Alutsista, Kyochon Living World

Hari Jumat lalu, saya mengantar Bebi Vendra ke sekolah. Sembari saya mengemudikan mobil, Bebi Vendra duduk di belakang, di child seat booster-nya dengan sabuk keselamatan terpasang, sarapan bubur ayam yang dibeli dekat rumah, menggunakan wadah kaca bulat bertutup dari Ikea.

Pulang sekolah, saya langsung mengemudikan mobil menuju ICE BSD. Sejak malam sebelumnya, saya memang sudah berniat untuk mengajak Bebi Vendra mengunjungi GIIAS 2016, pameran otomotif yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Saya berpikir, Bebi Vendra akan senang melihat mobil-mobil mewah atau aksesorisnya.

Saya juga dapat info kalau menunjukkan STNK asli kendaraan Suzuki akan mendapatkan 2 tiket masuk pameran. Gratis!

Lumayan banget kan. Karena tiket masuk di hari biasa 50.000 rupiah per tiket, dan 70.000 rupiah di akhir minggu.

Tak disangka, ternyata ada pameran karoseri bus dan pameran truk juga. Jadi, Bebi Vendra malah berkeliaran seru di area kendaraan-kendaraan besar tersebut. Mobil mewah, sudah tak dipedulikannya lagi. Bahkan, Bebi Vendra langsung pasang pose di depan truk-truk tersebut dan minta difoto.

Kami mulai merasa lapar. Saya mengemudikan mobil lagi ke Living World, Alam Sutera, Tangerang. Kami makan siang di Kyochon (쿄촌 치킨).

Saya memilih Combo 2, nasi dengan Green Salad, 2 potong Salsal (daging ayam tanpa tulang yang digoreng dengan tepung beras), 2 potong sayap ayam (boleh pilih yang Original/ tidak pedas, atau Red/ pedas), dan segelas es teh. Harga per paket 65.000 rupiah, sudah termasuk pajak dan service.

Bebi Vendra tampak menyukainya, karena ia berhasil menghabiskan 1 porsi. Atau mungkin memang lapar, setelah mengarungi luasnya ICE BSD?

Sejak waktu makan, Bebi Vendra sudah tidak konsentrasi. Perhatiannya terpecah ke halaman luar mal. Di sana ada Pameran Alutsista (alat utama sistem sejata) Tentara Nasional Indonesia. Selesai melahap makanannya, ia langsung mengajak saya segera mengajaknya melihat pameran tersebut.

Beberapa kendaraan khusus tentara tampak diparkir di area halaman mal. Banyak yang bisa dinaiki. Lagi-lagi, Bebi Vendra pasang pose dan minta difoto.

Lihat saja ekspresi kegembiraan di wajahnya.

Sampai rumah, ia langsung mandi sore. Lalu mengambil buku gambar dan peralatan menggambarnya. Dan ia mulai menggambar truk-truk yang dilihatnya tadi.

Bebi Vendra & Bahasa Korea

Beberapa hari lalu, sepulang sekolah, kami keluyuran ke Lippo Mal Puri, Jakarta Barat. Bebi Vendra sudah dapat makan di sekolah. Menu hari itu, nasi dengan sayur sop. Sedangkan Mama, baru mengganjal perut dengan beberapa potong digestive biscuits.

Karena Mama yang kelaparan, jadi Mama yang memilih menu makan siang. Untungnya, di mall tersebut ada gerai Aree (아리). Saya memang suka bibimbap (비빔밮) yang disediakan gerai tersebut.

Ternyata, bibimbap-nya agak berbeda dengan yang disediakan di gerai mereka di Mall @ Alam Sutera. Kecambah dan wortel-nya tidak segar, jamur dan terong-nya dimasak dengan kecap, tidak ada kimchi dan remah nori. Tidak ditambahkan minyak wijen pula.


Ini bibimbap yang disajikan di Mall @ Alam Sutera.

Namun, Bebi Vendra menyukainya. Pada akhirnya, ia yang makan lebih banyak. Saya sih senang saja. Mama mana yang tak senang, anaknya makan dengan baik?

Selesai makan, saya menjawab pesan whatsapp dan email dulu di ponsel. Sedangkan Bebi Vendra berkeliaran di area resto.

Tak lama, Bebi Vendra berlari ke arah saya sambil cengengesan. “Mama, itu orang Korea,” ia menunjuk ke arah seorang Bapak yang duduk tak jauh dari meja kami. “Aku tadi bilang ‘anyeonghaseyo’ (안녕하세요)”, kisahnya, sambil masih cengengesan.

“Terus, Bapak itu bilang apa?” Saya penasaran. “Aku nggak ngerti bahasa Korea, jadi aku kabur,” jawabnya polos. Saya hanya bisa tertawa geli.

Lalu Bapak itu menghampiri meja kami, membawakan es krim vanila untuk Bebi Vendra, “this is for you,” katanya. Dan Bebi Vendra pun berucap, “kamsahamnida (감사함니다)” lalu mulai asyik melahap es krim.

Karena saya sering menonton drama Korea, Bebi Vendra juga jadi terbiasa dengan bahasa Korea. Bahkan, ia bisa menangkap, jika ada orang yang berbicara dalam bahasa Korea. Ia jadi sering terpancing untuk menyapa orang-orang Korea tersebut.

Sepertinya, Bebi Vendra mirip dengan saya, dalam soal bahasa. Kami suka belajar banyak bahasa. Mama dukung, Beb! Nanti kita jalan-jalan keliling dunia bersama ya.

FOTD hari itu, sangat sederhana. Waktu berangkat menjemput Bebi Vendra ke sekolah, saya sendiri memang tidak ada rencana kemana-mana. Namun, tiba-tiba, Bebi Vendra mengajak ke mall, sepulang sekolah.

Seperti biasa, sembari mandi pagi, saya mencuci muka pakai Kippabuw Active Charcoal Soap. Setelah mengeringkan tubuh dan wajah dengan handuk, saya menyemprotkan Kippabuw Holiday Hooray Face Spray sebagai toner wajah. Setelah kering sendiri, saya mengaplikasikan Kippabuw Tinted Face Balm. Dan bibir hanya dipulas tipis Rose Tinted Balm. As simple as that!

OOTD-nya, hanya kaos hitam, celana panjang hitam, kalung dog tag, dan pasmina hitam. Tas-nya saja, hanya tas belanja dari Bali Buda. Lagi-lagi, karena tidak berniat ke mall.

Sabtu di Lippo Mal Puri

Hari Sabtu lalu, saya dan Bebi Vendra menikmati waktu bersama di Lippo Mal Puri, Jakarta Barat. Kebetulan, saya ada janji temu dengan teman-teman kriyawan sabun alias geng #soaparisan.

Kami memilih untuk duduk ngopi sambil ngobrol di Excelso Café. Dua dari 3 teman yang datang juga membawa anak-anak. Ada yang berniat ingin mencari Pokemon, ada yang memang nempel sama Mama. Seperti Bebi Vendra.

Karena kami duduk ngopi di area luar kafe, maka anak-anak bisa bermain dan berlarian. Kebetulan, di dekat situ ada taman juga.


Look at those shoes!


Pay attention to the parking duration!

Mama asyik ngerumpi, anak-anak bermain seru. Sampai ‘lupa’ waktu. Kami saling berpamitan. Sebelum meluncur pulang, saya dan Bebi Vendra mampir makan dulu di Food Avenue, Lantai 1. Lalu bergelut dengan kemacetan jalan raya di malam Minggu.

Kencan di Pat Bing Soo (팥빙수)

Beberapa hari lalu, kami berdua menikmati siang terik di Flavor Bliss. Bebi Vendra sudah siap dengan Lego Bulldozer-nya.

Saya memesan Yeoksam Bingsoo (역삼 빙수), hidangan pencuci mulut berisi es serut (alias pat), ogura (alias kacang merah), potongan buah stroberi, dan es krim ogura. Disajikan dengan susu kental manis, yang tidak saya siramkan, tapi dinikmati begitu saja oleh Bebi Vendra. Kombinasi manis dan kecut segar yang seru.

Makanannya, saya memesan Kimbap. Karena saya merasa agak lapar. Isinya ada potongan daging sapi, sosis, telur dan sayuran. Aroma dan rasanya memang khas masakan Korea banget. Agak beda dengan sushi bergaya Jepang.

Karena Bebi Vendra merasa mengantuk, kami pun meluncur pulang.

Lego City Bulldozer 60074

Memang benar, hari raya merupakan hari yang membahagiakan. Ini berlaku juga bagi Bebi Vendra. Terutama soal salam tempel-nya. Hehehe.

Beberapa hari setelah hari raya lalu, kami bertiga ke Living World, untuk mengantar Bebi Vendra membeli Lego yang sudah diincarnya.

Kali ini, Bebi Vendra memilih Lego City Bulldozer.

Setelah makan siang di Solaria, Living World. Kami pindah ke The Flavor Bliss untuk merakit Lego sambil bersantai menikmati udara di luar ruangan.

Papa dan Bebi Vendra asyik berdua, bekerja sama merakit buldozer. Papa mengambilkan yang harus dipasang. Bebi Vendra yang memasangkan setiap komponen. Kerjasama yang bagus!

#haripertamasekolah

Ini kisah hari pertama sekolah Bebi Vendra, di tahun pelajaran 2016-2017. Tahun ini, Bebi Vendra di TK B lagi. Mematangkan umur, agar pas tahun depan bisa mendaftar ke SD Negeri.

Sekolah dimulai tanggal 18 Juli 2016, namun, di tanggal 15 Juli 2016, guru di sekolah Bebi Vendra mengundang saya, juga orang tua murid lainnya untuk rapat di sekolah.

Ternyata, pengarahan tentang kegiatan Kemendikbud, yaitu Peresmian Kerjasama Pendidikan Anak Usia Dini dengan pemerintah New Zealand.

Hari Senin, kami berangkat pagi-pagi sekali. Seragam batik yang biasa dipakai hari Kamis untuk anak-anak, dan batik berwarna gelap untuk para orang tua murid.

Acara dimulai sekitar jam 10 pagi, sebenarnya. Tapi kami sudah diminta untuk bersiap-siap sejak pagi karena acara ini dihadiri Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan Mr. John Key, Perdana Menteri Selandia Baru.

Sembari menunggu, anak-anak tentu tak mau melewatkan kesempatan untuk bermain dan berlarian. Bebi Vendra dan 39 temannya bertugas menyambut dengan bendera merah putih di tangan kanan, dan bendera Selandia Baru di tangan kiri. Para orang tua, mendampingi anak sebentar, lalu mengikuti rangkaian acara di dalam ruangan.

Acara diakhiri dengan makan siang bersama. Kami sampai di rumah lagi sekitar pukul 2 siang.

Tak disangka, sekitar sepuluh hari kemudian, posisi Pak Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, digantikan oleh Pak Muhadjir Effendi. Well, saya, sebagai rakyat hanya bisa mendukung dan berharap yang terbaik. Meskipun, sebagai orang tua murid, saya agak cemas membayangkan sistem dan prosedur pendidikan di Indonesia akan berubah lagi (dan tanpa sosialisasi yang jelas, bahkan para pelaku pendidikan pun tidak paham, sehingga para orang tua akhirnya dilempar-lempar kesana kemari tanpa kejelasan).

Wajar dong ya, apalagi, tahun depan, Bebi Vendra berencana akan masuk SD. Mudah-mudahan tidak carut marut lah. Orang tua murid hanya ingin sistem yang jelas dan transparan kok. Bodo amat sama sepak terjang politik.

Nah lho, jadi ngelantur…