Sabtu di Lippo Mal Puri

Hari Sabtu lalu, saya dan Bebi Vendra menikmati waktu bersama di Lippo Mal Puri, Jakarta Barat. Kebetulan, saya ada janji temu dengan teman-teman kriyawan sabun alias geng #soaparisan.

Kami memilih untuk duduk ngopi sambil ngobrol di Excelso Café. Dua dari 3 teman yang datang juga membawa anak-anak. Ada yang berniat ingin mencari Pokemon, ada yang memang nempel sama Mama. Seperti Bebi Vendra.

Karena kami duduk ngopi di area luar kafe, maka anak-anak bisa bermain dan berlarian. Kebetulan, di dekat situ ada taman juga.


Look at those shoes!


Pay attention to the parking duration!

Mama asyik ngerumpi, anak-anak bermain seru. Sampai ‘lupa’ waktu. Kami saling berpamitan. Sebelum meluncur pulang, saya dan Bebi Vendra mampir makan dulu di Food Avenue, Lantai 1. Lalu bergelut dengan kemacetan jalan raya di malam Minggu.

#KippabuwHoliday2015

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Desember adalah bulan yang paling saya tunggu-tunggu, dalam satu tahun. Tidak hanya acara pulang kampung, bertemu keluarga besar tercinta, tapi juga jatahku untuk menikmati kebersamaan dengan suami tersayang dan Bebi Vendra. Sepanjang tahun, kami masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan sendiri-sendiri. Apalagi, tahun ini, Bebi Vendra mulai masuk sekolah. Saya, si ibu penuh waktu, jadi agak merasa sendirian, ketika kedua lelaki kesayangan itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Kami biasa mudik bertiga, bersama CiKA, si City car AKAP, yaitu Suzuki New Karimun Estilo warna abu-abu metalik. Karena itu, beberapa hari sebelum jalan, saya terbiasa melakukan pengecekan kondisi kendaraan di bengkel resmi Suzuki, Tangerang. Wipernya sudah diganti baru, sebulan lalu. Jadi, tinggal ganti oli mesin. Dan kami siap berpetualang.

Kami berangkat dari Ciledug, Tangerang, hari Sabtu malam, 19 Desember 2015. Seperti biasa, lewat jalur selatan. Situasi lalu lintas belum terlalu padat. Sekitar jam 2 pagi, kami istirahat di sebuah pom bensin, di Jalan Raya Gentong, Tasikmalaya. Menikmati kopi hitam dengan madu, ditemani udara yang mulai sejuk. Tak lama, kami malah terlelap di dalam mobil, hingga hari terang.

Perjalanan berlanjut hingga Restoran Pringsewu Banjar. Kami menikmati sarapan dulu, sembari numpang mengisi ulang daya baterai ponsel masing-masing. Setelah tenaga tubuh dan daya ponsel penuh lagi, kami meluncur lagi. Mulai Gombong, perjalanan agak tersendat, karena banyak titik jalan yang sedang diperbaiki, sehingga kendaraan yang melintas harus berjalan bergantian. Akhirnya, kami tiba di rumah orang tua saya, di Sleman, setelah 26 jam perjalanan.

Senin pagi, kami ingin sarapan. Bingung, saking banyaknya tujuan kuliner yang sudah diincar sejak masih di Tangerang. Karena lokasinya dekat dari rumah, maka kami memutuskan untuk sarapan nasi dan ayam goreng bacem empuk Pak Kromo III, Paingan. Bebi Vendra, yang tidak begitu suka makan daging ayam karena malas mengunyah, pun mampu melahap satu potong paha ayam.

Setelah makan, saya merasa ingin gelato. Entah kenapa, sejak tiba di Yogyakarta, saya jadi berhasrat untuk mencicipi berbagai sajian gelato, yang katanya bertebaran seantero kota. Tadinya, saya kepikiran untuk mencicipi gelatonya Parsley Bakery & Café, yang berlokasi di Jalan Solo. Ternyata tidak ada. Hanya roti, kue dan restoran. Akhirnya, kami nyasar nongkrong di Eastern Kopi TM, Seturan. Rasanya berat, untuk menjelajah terlalu jauh dari seputar area tersebut.

Hujan pun sempat mengguyur dengan deras. Membuat kami semakin malas bergerak jauh-jauh. Tak terasa, hari sudah hampir gelap. Kami beranjak, bermaksud pulang, namun mampir nongkrong (lagi) di angkringan dekat rumah. Setelah habis sebungkus nasi kucing dan segelas susu jahe, kami segera mendarat di rumah dan terlelap dalam waktu singkat.

Besoknya, kami ingin sarapan lontong opor di Condong Catur. Sayangnya, sudah kehabisan. Jadi kami bablas ke warung makan Mbak Diah. Kebetulan, di bagian depan warung makan tersebut ada tempat pencucian mobil dan motor. Jadi, CiKA bisa sekalian dibersihkan dari debu dan lumpur yang menderanya, setelah perjalanan sejauh 500 kilometer lebih. Nasi merah dengan gudangan alias urap dan tempe mendoan serta siraman kuah sayur asem, masih tetap jadi favorit saya.

Kali ini, kami menjelajah jauh ke daerah selatan Yogyakarta. Yap, apalagi kalau bukan Nanamia Pizzeria. Salah satu tujuan makan yang tidak boleh terlewatkan, ketika mengunjungi Yogyakarta. Kami nongkrong dari siang sampai malam di sana. Hehehe. Karena ketika tiba di sana, disambut hujan, maka bagian taman restoran tersebut agak becek. Namun, di situlah, Bebi Vendra menemukan kebahagiaan. Lengkap dengan sepatu botnya, anak 5,5 tahun itu asyik becek-becekan hingga pakaiannya basah kecipratan.

Pulangnya, kami dapat kabar duka kalau salah satu teman kami telah berpulang. Jadi, besoknya, kami siap untuk melayat. Sekaligus reuni dengan teman-teman yang sudah lama banget tidak jumpa. Setelah melayat, Bebi Vendra minta jalan-jalan ke Lippo Plaza, Yogyakarta. Tapi, Mama dan Papa, yang haus akan alam terbuka, bersekongkol untuk membelokkan tujuan kami ke Kaliurang. Wedang ronde, bakso, mi ayam, teh poci, roti bakar, pun kami nikmati di depan Taman Kaliurang, di tengah cuaca gerimis dan berkabut. Menjelang gelap, kami turun. Mampir menikmati Mister Burger di Jalan Kaliurang. Lalu pulang dan tertidur.

Hari Kamis, kami sarapan di Pecel Madiun, Mbak Yanti, di seputar Jalan Tajem, Maguwoharjo. Lalu meluncur ke Mary Anne’s yang berlokasi di depan Hotel Santika. Tak jauh dari Tugu Yogyakarta. Saya sempat melepas rindu dan bercengkrama sedikit dengan beberapa teman alumni #KippabuwSoapClass. Setelah mereka berpamitan, kami bertiga masih nongkrong sampai hari gelap.

Gelato yang bikin saya jatuh cinta adalah Double Choco Almond. Choco Rum Raisin-nya juga lumayan, tapi Baileys-nya terlalu samar. Tadinya, saya berencana untuk lanjut ke ibadah malam natal di GKJ Sawokembar. Tapi jadwal ibadah yang terlalu malam, membuat saya sudah lelah duluan. Maka kami pulang dan segera pulas.

Hari Natal, kami sekeluarga ke GKJ Maguwoharjo. Lalu sarapan bakso Sidan di perempatan stadion Maguwoharjo. Arah pulang, kami membungkus es oyen yang mangkal tak jauh dari situ.

Di rumah, kami sempat merem sebentar, lalu meluncur ke makam Terban. Janjian sama Opa, juga Tante dan anak-anaknya, yang meluncur dari Semarang. Menengok makam Oma kami. Saya, suami tersayang, Bebi Vendra, adik tercinta dan kekasih hatinya langsung mlipir. Akibat celetukan Bebi Vendra, kami nyangkut di Mary Anne’s lagi.

Kali ini, kami kelaparan, jadi kami masing-masing memesan makanan utama. Setelah itu, saya dan Bebi Vendra tak mau melewatkan gelato. Kami pulang karena dicariin para orang tua, yang menuntut kami semua kumpul keluarga. Hehehe.

Tanggal 26 Desember, sesuai rencana, kami piknik ke pantai Parangtritis. Sebenarnya, saya pribadi lebih suka ke pantai Gunung Kidul. Namun jarak yang agak terlalu jauh, akses yang agak merepotkan, juga bayangan akan keramaian yang terjadi, membuat kami mengurungkan niat. Bebi Vendra suka ke pantai untuk main pasir. Tapi ia ogah kalau diajak main air di bibir pantai.

Setelah beberapa lama menunggu Bebi Vendra main pasir, sembari menikmati sebuah kelapa muda segar, kami pindah ke Gumuk Pasir. Ini merupakan surga lain bagi Bebi Vendra. Hanya hamparan pasir luas, tanpa air sama sekali!

Bebi Vendra main lagi di pasir, selama beberapa lama. Para orang dewasa pun sibuk sendiri berfoto. Menjelang gelap, kami menuju rumah Ardha untuk menumpang mandi. Tubuh kami sudah bauu keringat tak keruan, ditambah pasir yang menempel, bercampur aroma amis sisi laut. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami pamitan pulang.

Agak padat di salah satu titik Ring Road Selatan. Waze melaporkan, ada kecelakaan. Ternyata sebuah Nissan Evalia ringsek melintang di tengah jalan. Ring Road memang jalur yang perlu konsentrasi tinggi. Lintasannya lurus mulus, tak jarang membuat para pengendali setir terlena menginjak pedal gas.

Mendekati rumah, kami mampir ke angkringan, untuk menikmati segelas minuman hangat. Pilihan saya, selalu, susu jahe. Saya dan Bebi Vendra juga sempat berbagi sebungkus nasi kucing yang dinikmati bersama sepotong mendoan. Sampai rumah, kami langsung pulas.

Hari Minggu pagi, suami tersayang ada janji temu dengan kenalannya, sesama penggemar burung dara, di daerah Kalasan. Saya dan Bebi Vendra mengantarkannya, kemudian meluncur menuju Lippo Plaza Yogyakarta. Rasa penasaran Bebi Vendra pun terjawab sudah. Di pusat perbelanjaan tersebut tidak ada apa-apa yang menarik. Bebi Vendra kecewa. Maka saya mengajaknya pindah ke Galeria Mall.

Awalnya, ia tertarik ingin makan di Wendy’s, namun antrian yang lama, karena pelanggan di depan terlalu bingung untuk memesan menu apa, kami pindah ke Suba Foodcourt. Saya langsung memesan bubur di Moy Moy. Sebelum pulang, kami membungkus beberapa paket nasi dan ayam goreng Wendy’s, untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga kami di rumah.

Saya sempat melirik beberapa toko kain di Jalan Urip Sumoharjo. Namun, tak ada yang tampak menarik. Harganya pun terlalu mahal. Sedangkan saya ingin membeli kain untuk dijahit menjadi pakaian untuk kami bersembilan. Saya, suami tersayang, Bebi Vendra, Mama, adik, kekasih adik, Mama mertua, adik ipar perempuan, dan adik ipar laki-laki. Rasanya tidak rela, mengeluarkan hampir sejuta rupiah untuk kain dengan motif yang kurang saya sukai.

Sampai di rumah, kami makan bersama, lalu Bebi Vendra asyik sendiri menonton film anak-anak di televisi. Hari itu kami habiskan dengan bersantai di rumah.

Tanggal 28 Desember, kami berencana meninggalkan Yogyakarta. Suami tersayang bermaksud ingin mampir mengunjungi kawannya di Ketanggungan, Brebes. Tapi tujuan kami sebelumnya adalah mata air Guci, Tegal. Setelah sarapan ayam goreng Pak Kromo, juga membungkus satu ayam goreng utuh, kami pun meluncur. Hujan deras dan banjir ketika akan keluar Temanggung. Lalu kami makan siang di Warung Djoglo, Wonosobo.

Perjalanan naik turun bukit pun dilanjutkan. Lalu Waze mengerjai kami, membuat kami harus melalui jalan menanjak super tinggi yang terasa tak berujung. Kami sampai di kawasan wisata Guci, sekitar jam 9 malam. Mencari penginapan, lalu beristirahat.

Besok paginya, kami berkeliling melihat pemandangan kaki gunung Slamet yang sejuk. Lalu berendam air panas. Setelah mandi, makan, berfoto, dan menikmati susu jahe, kami melanjutkan perjalanan menuju Ketanggungan.

Lagi-lagi, Waze menunjukkan jalan pintas yang absurd untuk dilalui. Kami bermalam di Ketanggungan. Dan hari Rabu pagi, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ciledug. Sebelum masuk gerbang tol Pejagan, masih ada beberapa titik jalan yang diperbaiki. Sehingga kendaraan harus bergantian melintas.

Tol agak ramai, tapi tidak macet. Beberapa tempat istirahat sudah mulai beroperasi, namun kebanyakan masih seadanya. Bahkan, minimarketnya masih berupa tenda. Kalau dibandingkan dengan tempat-tempat istirahat di tol Cipularang, di tol Cipali ini jauh dari tampak menarik dan kelihatannya dibangun asal-asalan. Sudah udaranya panas khas pantura, tempat istirahatnya kurang nyaman. Uh!

Sisa perjalanan kami cukup lancar. Saya sempat berburuk sangka, mulai Cikampek, Bekasi, lalu lintasnya macet, ternyata tidak. Kami sampai di rumah kontrakan kami, di Ciledug, sebelum magrib. Debu sudah cukup menumpuk, jadi saya harus bersih-bersih sedikit, menggelar kasur, lalu beristirahat.

Demikianlah petualangan kami sejauh 1524 kilometer dan 73.02 liter Pertalite. Tak sabar untuk petualangan lainnya!

Bebi Vendra: Wisata Edukasi Semester I 2015

Hari Selasa, 8 Desember 2015 lalu, Bebi Vendra bersama teman-teman sekolahnya mengikuti kegiatan wosata edukasi semester pertama di Pelita Desa, Ciseeng, Kabupaten Bogor. Kami berangkat dari sekolah, dengan 3 bis besar dan satu bis kecil. Hampir setiap anak didampingi, oleh mamanya, atau oleh papanya.

Tiba di lokasi, kami disambut welcome drink teh hangat super manis dan sepotong jagung rebus. Lalu, kami mulai berkegiatan seru bergaya outbound. Menyeberangi jembatan goyang, jembatan tali, naik kerbau pembajak sawah, menanam padi, menumbuk padi, memerah sapi, naik rakit, meluncur dengan flying fox, lomba tarik tambang, main air, menangkap ikan di kolam. Di tengah-tengah kegiatan, kami dapat snack semangkuk bakso komplit. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami makan siang bersama.

Sekitar jam 3 sore, kami sudah meluncur kembali ke sekolah lagi. Jalanannya rusak parah di beberapa titik. Lelah, tapi kami merasa senang. Dan saya sendiri takjub, anak-anak kota, yang biasanya takut kotor, semuanya bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di sana. Sayangnya, saya tidak bawa kamera. Foto-foto di atas saya ambil dari grup kelompok kelas. Wisata selanjutnya, mungkin saya ingin menempelkan action camera di dada Bebi Vendra, hihihi.

Happy Birthday, Matt Damon!

Sudah beberapa bulan, saya ketinggalan perkembangan film bioskop terbaru. Ketika Hotel Transylvania 2 diputar saja, aku ngehnya dari mainan Happy Meal di McDonald’s.

Minggu lalu, Bebi Vendra dan Athan, temannya, yang merupakan anak dari kawan nongkrongku, nonton bareng sekuel film drakula lucu tersebut di Puri XXI. Mumpung di bioskop, saya jadi bisa melihat, film apa saja yang sedang main. Saya tertarik untuk cari info soal film The Martian. Ternyata, baca sinopsisnya cukup menarik. Ditambah, pemeran utamanya adalah Matt Damon.

Saya bukan penggemar berat Matt Damon. Tapi saya suka penampilan beliau. Yang menarik perhatianku adalah perannya sebagai Jason Bourne. Dari situ, saya jadi penasaran, setiap ada film baru di mana beliau tampil.

Hari Minggu lalu, saya dan suami, juga Bebi Vendra nonton The Martian. Di Puri XXI, Jakarta Barat, juga. Karena sudah malam, dan sesiangan Bebi Vendra sudah kelelahan bermain, sepanjang kencan nonton film tersebut, ia banyak tidur.

Jadinya, sampai hari Selasa, ia masih penasaran nonton film astronot. Memang, kisah The Martian ini menarik, karena berlatar belakang planet Mars dan luar angkasa. Hal yang menarik untuk anak 5 tahun yang sedang belajar banyak hal baru.

Hari Rabu kemarin, saya nonton The Martian lagi. Kali ini, siang hari, sepulang sekolah. Jadi Bebi Vendra masih segar bugar dan tidak mengantuk. Menonton film ini untuk kedua kalinya, saya sih asyik-asyik saja. Toh nonton Matt Damon. Bebi Vendra sendiri menikmati film tersebut, meskipun durasinya cukup panjang. Karena suguhan visualnya menarik untuk memuaskan rasa ingin tahunya soal ruang angkasa.

Dan saya baru tersadar, kalau 8 Oktober 1970 adalah hari lahir Matt Damon. So, I am going to wish him a happy birthday. Also, wishing you a good health and joy, Matt Damon!

One Rockstar Trip

Ya, aku merasa seperti rockstar.

Ceritanya, beberapa bulan lalu, salah seorang kawan meminta band metal hardcore ku untuk main di acara yang diadakannya di Yogyakarta. Kami langsung mengiyakannya, waktu itu. Tanpa berpikir lagi kalau aku, sang vokalis, sekarang tinggal di Tangerang dan si penabuh dram saat ini berdomisili nun jauh di pulau Sulawesi.

Waktu pun berlalu, dan acara tersebut tinggal beberapa hari lagi. Aku tak melihat kemungkinan untuk kami tampil. Si penabuh dram sedang tak berada di Yogyakarta, sedangkan pemain pengganti pun tak ada yang bisa.

Ternyata, hari Jumat malam, si dramer meneleponku untuk mengabarkan kalau ia akan berada di Yogyakarta pada hari yang dijadwalkan untuk kami tampil. Bahkan, Sabtu malamnya, ia sudah berada di Yogyakarta.

Aku pun segera mencari tiket transportasi umum ke Yogyakarta. Tak disangka, aku malah dapat penerbangan Indonesia Air Asia dengan harga sekitar 600.000 rupiah, pulang pergi. Beruntungnya aku!

Aku berangkat Senin siang dari Cengkareng. Sampai Yogyakarta langsung latihan. Selasa malamnya tampil. Dan Rabu sorenya aku sudah tiba di Cengkareng lagi.

Sayang juga sih nggak berlama-lama di Yogyakarta. Tapi memang aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan Kippabuw di rumah.

Jalan-jalan Karimun Wagon R 2014

Hari Sabtu, 10 Mei 2014 lalu, aku ikutan seseruan di acaranya Suzuki, yaitu Jalan-Jalan Karimun Wagon R. Acara ini adalah bagian dari promosi mobil murah terbaru bermerek Suzuki, Karimun Wagon R. Namun, acara ini terbuka untuk seluruh anggota keluarga Suzuki Karimun. Mulai dari Karimun kotak hingga Karimun Estilo. Kebetulan, aku pengendara Suzuki New Karimun Estilo.

Pendaftaran peserta dibuka di dealer Suzuki terdekat. Aku beruntung, dibantu oleh tenaga penjualan yang membuatku membeli mobil ini, untuk mendaftarkan diriku ikutan acara ini.

Aku sampai di titik kumpul hampir jam 7 pagi. Aku memilih titik kumpul di Suzuki BSD. Setelah daftar ulang, menempelkan stiker di mobil, berganti kaos yang disediakan, juga mengganjal perut dengan roti yang dibagikan, kami mulai konvoy menuju Taman Budaya, Sentul, Bogor.

Biasanya, aku sebal terhadap konvoy kendaraan di jalanan. Karena itu, aku merasa agak sungkan. Ditambah, petugas kepolisian yang mengawal kami meminta untuk menyalakan lampu hazard sepanjang perjalanan. Sudah nggak enak pada pengendara lain, ditambah merasa bodoh dan norak, menyalakan lampu hazard. Bukannya konvoy cukup dengan menyalakan lampu utama saja?

Sesampainya di lokasi acara, kami termasuk yang belakangan datang. Karena itu, kami dapat tempat parkir cukup jauh dari area utama keseruan.

Setelah berjalan kaki sekitar 400 meter, kami mengambil jatah makan. Sejak awal tadi, apapun yang dibagikan adalah sebanyak 4 buah. Baik kaos, maupun kotak roti untuk sarapan. Dan jatah makan berupa kotak KFC berisi dua potong ayam goreng dan nasi pun kami terima sebanyak 4 kotak.

Padahal, aku hanya berdua saja dengan Bebi Vendra. Kebetulan, suamiku tercinta ada acara band. Jadilah, aku harus menenteng sangat banyak barang selama acara.

Setelah ritual pembukaan acara, aku menawarkan Bebi Vendra untuk ikutan lomba melukis kaos. Tidak ada ambisi untuk menang. Semata-mata karena aku ingin Bebi Vendra mengikuti kegiatan yang membantunya belajar mengembangkan diri.

Aku pun tidak seribet orang tua lain. Aku mendampingi di dekat Bebi Vendra, tapi tidak mendiktenya. Hanya memberitahukan caranya mewarnai kaos di hadapannya. Biarkan saja Bebi Vendra mengikuti kreativitasnya sendiri.

Setelah mewarnai kaos, kami mengantri untuk menikmati es krim Häagen-Dazs. Sementara kotak makanan ringan mulai disiapkan oleh panitia.

Sempat hujan deras. Sebentar tapi cukup membuat area becek dan berlumpur.

Bebi Vendra sendiri lebih tertarik memperhatikan truk pemadam kebakaran yag terparkir di area acara. Ya, truk memang kegemarannya.

Menjelang akhir acara, sembari menikmati kotak makanan ringan dan duduk-duduk, aku menyeruput kopi hitam, sedangkan Bebi Vendra asik meneguk teh hangat.

Aku juga sempat test drive Karimun Wagon R. Terasa ringan, dan terasa ringkih dibandingkan New Karimun Estilo. Mobil murah sih ya?

Dan aku merasa risih dengan Shift, fitur yang memberi tanda untuk pindah gigi persneling. Aku sudah kebiasaan menaikkan gigi persneling di 3500-4000 rpm!

Acara selesai sekitar jam 5 sore. Pulangnya tidak dikawal lagi. Padahal jalan tol ke arah Jakarta cukup macet. Kembali jadi pengendara biasa, yang tampak nyeleneh dengan stiker besar-besar di sekeliling body mobil.

Lelah, tapi kami cukup senang.

Terima kasih, Inggit!

Bulan Februari 2014 lalu, aku mengadakan giveaway #FoodForBeautyChallenge. Dan Inggit adalah salah satu pemenangnya. Ia pun menulis review tentang produk Kippabuw yang kukirimkan sebagai hadiah. Silakan baca tulisan Inggit di Inggit’s World.

Terima kasih atas penilaian positifnya, Inggit. Mudah-mudahan, semua apresiasi yang kuterima justru membuatku semakin terpacu untuk memberikan yang terbaik.

Salam!

Nothing – A Day and A Thousand Years (Walls of Jericho Cover)

This video was recorded live during Nothing‘s live performance in early 2006. A Day and A Thousand Years by Walls of Jericho is one of our favorite cover song to play. And, in this video, the audience responses was crazy!

Punk the Way I Am

I was introduced to punk through music. Didn’t know why, in my teen ages, I was attracted to bands with distorted guitars sound, heart pumping beats, and screaming or yelling vocals. Followed by vulgar words as lyrics. I feel recharged and alive when listening to those bands. Then, I started to show to the world that I am punk.

Wearing band t-shirts everyday, doc mart boots, also get into years where I put “X” sign on my hands.

But now, as you can see, I don’t look like a punk anymore. But I still believe in the values that I learned from punk and hardcore scene.

Equality. I still believe in it. In my own way. So, you ladies, don’t be too sensitive if I seem too hard to you. Because I don’t want to look at the gender segregation. Also, I don’t mind to bring some heavy things like men do, whenever I can. Or driving across the island. Well, don’t get me wrong. It takes thousands of words to explain how I look at this equality thing. We can talk privately, if you want to discuss about this.

DIY. I used to make anything I can make by myself. At least, the alternatives. That value also brings me to make Kippabuw. It was inspired by the simple DIYs.

Now, I believed that being punk is not an obligation to looked like a punk. Besides, I am what I am now is also shaped by believing in some views that I learned from punk scene.