Mister Donut

Siang itu, kami berdua berpetualang seperti biasa. Saya percaya, ‘sering jalan-jalan’ dapat membantu memperluas wawasan Bebi Vendra. Banyak hal yang dapat dilihatnya, dan tentu dipelajarinya. Banyak pengalaman baru, setiap hari, yang belum tentu didapatkan di sekolah atau di rumah.

Kami mampir ke Indomaret yang berlokasi di Pasar 8, Alam Sutera. Dan menemukan pajangan donat yang tampak menggiurkan.

Kami tergoda untuk mencoba. Kebetulan sedang promo. Harga satuan 7.500 rupiah, tapi kalau beli 3 buah, hanya perlu membayar 17.000 rupiah. Donatnya ringan, topingnya juga tidak terlalu manis. Cocok dengan lidah kami!

Sayangnya, hanya tersedia di Indomaret tertentu.

Advertisements

Milan Pizzeria Ciledug

Kami baru sempat mencoba restoran pizza yang berlokasi dekat McDonald’s Larangan ini, setelah beberapa lama dibuka. Dan saya mengeposkan tulisan ini pun setelah beberapa bulan lalu mengunjunginya, hehehe…

Menu yang disediakan, baik makanan maupun minuman, cukup bervariasi. Bahkan, beberapa menu makanan tersedia dalam ukuran berbeda.

Pizza tersedia dalam berbagai pilihan varian, dengan ukuran kecil maupun besar. Kebanyakan seperti Pizza Hut, rotinya tebal, namun ada juga pizza tipis. Lucunya, semua pizza di restoran ini tampak tak memakai pasta tomat, dan saya tak merasakan aroma oregano. Jadi pizza di sini lebih terasa seperti roti dengan berbagai topping saja.

Minumannya juga cukup variatif. Banyak yang bisa dipilih dan lumayan.

Karena mengeposkan foto di Instagram, kami juga pernah dapat es krim sebagai komplimen.

Soal harga, kami bertiga cukup menghabiskan 150.000-200.000 rupiah. Yang penting, suasana dan desain interior restoran ini nyaman untuk sekedar makan maupun nongkrong. Pelayanan ramah, meskipun agak lama. Atau mungkin karena kurang personil, sedangkan restoran ini seringnya cukup ramai pengunjung, sehingga tamu seringkali perlu menunggu sebelum dilayani.

Secara keseluruhan, restoran ini cukup oke lah! ⭐⭐⭐

#KippabuwHoliday2016

Karena mama, adik dan opa saya tinggal di Yogyakarta, maka kota tersebut jadi tujuan pulang kampung kami. Dan karena mereka merayakan natal, maka momen akhir tahun tersebut jadi waktu pulang kampung kami. Mudik natal pun jadi agenda liburan tahunan keluarga kecil kami.

Mudik natal tahun 2016 ini, kami berangkat tanggal 21 Desember malam. Memang rencana lewat jalur utara, dan Waze memang menyarankan demikian. Sebenarnya, kami belum tahu soal jembatan Cisomang di tol Cipularang yang bergeser, sehingga mengharuskan rekayasa lalu lintas.

Kami berhenti untuk makan di tempat istirahat tol Cikampek km 39, lalu berhenti lagi di tempat istirahat tol Cipali km 102. Karena ternyata waktu sudah hampir subuh, kami merem sebentar hingga hari terang.

Perjalanan cukup lancar, namun tersendat di beberapa titik pertemuan lalu lintas dan harus berhati-hati di beberapa titik yang jalannya rusak parah atau sedang diperbaiki. Kami sampai di Yogyakarta sekitar jam 00.30 tanggal 23 Desember.

Setelah tidur hingga hari terang, tujuan makan pagi kami adalah Ayam Pak Kromo. Ini adalah salah satu makanan wajib yang harus dinikmati, setiap kali kami ke Yogyakarta. Ayam goreng yang dimasak bacem, empuk namun tidak hancur dagingnya.

Malamnya, kami makan dan nongkrong di Angkringan Kebon, tak jauh dari rumah Mama.

Besoknya, Bebi Vendra membantu Oma-nya menghias pohon terang.

Lalu sorenya, kami mengikuti ibadah malam natal di GKJ Maguwoharjo. Begitu pula besok paginya, kami beribadah natal di gereja yang sama.

Tanggal 25 Desember malam, kami mencoba restoran Pizza Pazza, yang berlokasi di Jalan Kaliurang km 8,8. Biasanya, ketika ke Yogyakarta, kami mengunjungi Nanamia Pizzeria. Tapi entah kenapa, kali ini kami malas banget kalau harus berjuang di tengah kemacetan menuju bagian selatan Yogyakarta.

Berhubung ketika browsing menemukan restoran pizza di bagian utara Yogyakarta, yang lebih mudah dijangkau, maka kami mencobanya. Restoran ini milik orang Italia asli, kata Google. Maka kami sudah terbayang disuguhi pizza tipis renyah, yang memang kesukaan kami.

Tanggal 26 Desember, kami makan pagi di Pecel Madiun Maguwoharjo. Ini juga salah satu tempat makan favorit saya sejak lama. Rasa bumbu pecelnya ‘Madiun’ banget, pas berpadu dengan peyek ebi-nya.

Setelah itu, kami meluncur menuju Gunung Kidul. Pantai adalah salah satu agenda wajib liburan kami juga. Bebi Vendra bahkan membawa mainan truk dan ekskavator-nya. Sebelum-sebelumnya, ia hanya ingin main pasir dan tidak mau kena air laut. Tapi, belakangan, ia mulai suka main air juga.

Setelah mandi, kami sempat menikmati matahari terbenam. Oiya, kami bermain pasir dan air di pantai Slili. Menginap di pantai itu juga. Sekitar 4 tahun tak berkunjung, pantai ini sudah menjadi sangat ramai, seiring meningkatnya minat pengunjung.

Dulu, kami hanya bisa menginap di pantai Kukup, karena pantai Slili sangat sepi setelah matahari terbenam. Hampir tak ada tanda kehidupan. Sekarang, ada banyak pilihan penginapan juga tempat untuk makan malam.

Tanggal 27 Desember dini hari, sempat turun hujan deras, sehingga matahari terbitnya tak begitu kelihatan. Setelah main pasir dan air lagi, lalu mandi, kami berkemas untuk kembali ke rumah mama.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir makan di Mbok Berek Garden, yang masih soft opening.

Besoknya, kami di rumah saja kumpul keluarga. Tak lupa, menikmati sajian sedap masakan khas keluarga mama saya, masakan bergaya Manado.

Tanggal 29 Desember, kami menikmati pagi di Taman Kaliurang. Berjalan-jalan menikmati udara sejuk, jajan wedang ronde dan sate, lalu mencoba beberapa wahana permainan yang disediakan. Bebi Vendra mencoba flying fox junior juga.

Karena hari masih cukup siang, maka dari Kaliurang kami meluncur menuju Bandara Adisucipto. Idenya adalah untuk naik kereta api dari stasiun Maguwo, karena Bebi Vendra menyebutkan ingin naik kereta diesel.

Namun, karena tiket kereta api habis, maka sebagai rencana cadangan, kami naik bus Trans Jogja menuju Malioboro, lalu kembali ke stasiun Maguwo naik KA Prameks. Tiket kereta api bisa dibeli lebih dahulu, tapi sekarang wajib pakai identitas diri. Tanpa tanda pengenal yang sah, petugas menolak menjual tiket.

Naik bus Trans Jogja pun tak berjalan mulus. Jalur yang menuju Malioboro penuh terus, sehingga kami tidak kebagian naik. Akhirnya, kami memilih jalur lain yang lewat Taman Pintar.

Dari Taman Pintar, kami jalan kaki menuju Malioboro. Mampir makan siang pecel di Pasar Beringharjo. Saya dan suami tersayang juga sempat bernostalgia, ketika melewati tempat di mana kami ketemu untuk pertama kalinya, di depan Kantor Gubernur DIY.

Karena masih ada waktu sebelum kami harus naik KA Prameks untuk kembali ke Bandara Adisucipto, kami beristirahat bersantai sembari ngopi di Kedai Kopi Mataram.

Berlokasi di Jalan Mataram, tempatnya cukup nyaman untuk nongkrong, meskipun terasa agak gerah. Menu minumannya oke, menu makanannya biasa saja. Karena mengeposkan foto di Instagram, kami dapat pai susu sebagai komplimen.

Ketika hari mulai gelap, kami jalan kaki lagi menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah menunggu, akhirnya tiba waktunya kami naik KA Prameks. Hanya sebentar, karena kami turun di perhentian kedua. Yang penting, rasa penasaran Bebi Vendra untuk naik kereta diesel sudah terpenuhi.

Tanggal 30 Desember siang, kami memulai perjalanan kembali ke Tangerang. Dengan membalik rute yang sama ketika berangkat, yaitu lewat Semarang lalu menyusuri jalur utara Jawa. Perhentian pertama kami adalah Banaran9, Secang. Kebetulan, suami saya juga harus menyelesaikan sebuah pekerjaan desain. Sembari kami mengisi daya ponsel juga. Saking banyaknya gawai, ketika bepergian seperti ini, kami bahkan membawa tambahan colokan listrik sendiri, hehehe.

Setelah hari gelap, kami melanjutkan perjalanan. Menjelang tengah malam, kami istirahat sambil makan nasi megono di Alun-alun Batang. Lewat tengah malam, kami merem sebentar di sebuah pom bensin setelah keluar kota Pekalongan.

Setelah hari terang, kami melanjutkan perjalanan dan mampir ke pantai Widuri, Pemalang. Bebi Vendra main pasir bersama mainan truk dan ekskavatornya, juga majn air. Sedangkan saya dan suami duduk santai menikmati udara pantai sambil ngopi dan mengobrol.

Menjelang tengah hari, kami melanjutkan perjalanan. Setelah berhenti di tempat istirahat tol Cipali km 120, sisa perjalanan sejauh 150 kilometer bisa digeber tanpa menginjak pedal rem. Dan sisa 5 kilometer lagi, setelah keluar tol Joglo, agak padat. Namun kami merasa bersyukur bisa sampai rumah lagi setelah sekitar 27 jam perjalanan.

Kami pun merayakan malam pergantian tahun di rumah. Selamat tahun baru, teman-teman! Mudah-mudahan, apa yang diharapkan di tahun 2017 ini dapat terwujud.

Makan Siang di Ikkudo Ichi, Puri Indah Mall

Seminggu yang lalu, sepulang sekolah, kami keluyuran ke area Puri Indah. Ada beberapa barang yang perlu dibeli. Setelah berkeliling dan belanja, kami mulai merasa lapar.

Awalnya, ingin makan di Marutama Ramen. Tapi ternyata gerainya sudah tutup, dan akan digantikan Sunny Side Up. Ada Marugame Udon, di dekatnya, tapi saya pribadi kurang suka udon. Entah kenapa.

Lalu teringat, ada gerai Ikkudo Ichi juga di sana. Kami pun sepakat untuk makan siang di sana.

Anehnya, ketika memesan, kami malah tidak memesan ramen sama sekali. Justru Chicken Karaage Don, Gyoza, dan Chahan.

Bebi Vendra suka gyoza goreng di gerai ini. Memang, gyoza goreng di Ikkudo Ichi rasanya paling cocok di lidah kami. Garing dan renyah, namun tidak kehilangan rasa khas. Di tempat lain, gyoza goreng yang disediakan cenderung seperti kue pastel.

Bebi Vendra juga minta nasi dengan ayam goreng tepung. Karaage di Ikkudo Ichi rasanya unik. Tepungnya tebal namun terasa ringan dan nggak bikin eneg. Kalaupun tidak habis 1 porsi, ya karena kapasitas sekali makan kami yang kecil. Toh sisa separo porsi yang dibungkus untuk dibawa pulang, langsung ludes, tak lama kami sampai di rumah.

Saya suka chahan, nasi goreng khas Jepang dengan rasanya yang gurih. Favorit nomor satu adalah chahan dari Ramen 38 Sanpachi. Sajian Ikkudo Ichi ini adalah favorit nomor dua. Keduanya punya rasa khas sendiri. Dan Ikkudo Ichi menambahkan sayuran potong ke dalamnya.

Selama kunjungan makan, kami cukup berisik. Sedang dalam mood jahil. Mohon maaf ya atas gangguannya. Hihihi…

#ootd saya, sangat sederhana. Hanya kaos hitam, dipadukan dengan celana jins hitam dan sepatu Airwalk andalan.

#fotd nya juga tidak menonjol. Hanya Kippabuw Autumn Colors Nude Tinted Balm sebagai pelembab wajah. Maybelline Hyper Sharp Liner sebagai eyeliner. Kippabuw Autumn Colors Brow Balm untuk alis mata. Dan Kippabuw Rose Tinted Balm untuk bibir.

Makan Siang di Mujigae

Seminggu yang lalu, kami iseng ke Supermal Karawaci. Sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat. Lalu kami mulai lapar. Bebi Vendra menunjuk gerai Mujigae.

Ia minta ayam goreng dengan nasi, jadi saya memilihkan Paket Chicken. Disajikan dengan japchae, kimchi dan es teh.

Untuk saya sendiri, Dolsot Bibimbap. Nasi putih dengan berbagai jenis sayuran, daging sapi cincang dan telur. Disajikan dengan kimchi dan es teh.

Kedua menu tersebut, rasanya biasa saja sih. Jadi saya tidak bisa menulis banyak. Interior restonya nyaman dan unik. Cara pesan dan minta tagihan pun canggih, karena di setiap meja disediakan iPad. Bahkan bisa menonton video cara pembuatan bibimbap.

Harga pun lumayan. Tagihan kami tak sampai 100.000 rupiah. Pelayanannya ramah dan menyenangkan. Itu saja.

Koiyaki, Lippo Mal Puri

Gerai es krim lembut bergaya Jepang ini memang sudah lama buka di Lippo Mal Puri, Jakarta Barat. Tapi, kami baru tertarik mencobanya kemarin.

Ada 4 pilihan rasa es krim, yaitu Milk (susu), Houjicha (thai tea), Matcha (teh hijau), dan Chocolate (coklat). Penyajiannya pun bisa dengan sugar cone, atau dengan cone berbentuk ikan yang lucu.

Kami mencoba yang rasa thai tea. Disajikan dengan berondong jagung, biskuit stik, kue lidah kucing, dan berondong beras. Harganya 28.000 rupiah nett.

Kami tertarik karena rasa es krim thai tea tidak banyak yang menjual. Perpaduan rasanya juga seru. Manis ketemu manis dengan intensitas dan sensai yang berbeda, dari setiap komponennya.

Makan Siang di Go!Curry

Beberapa hari lalu, saya dan Bebi Vendra makan siang di Go!Curry, Lippo Mall Puri, Jakarta Barat.

Saya memilih Brown Curry, tidak pedas sama sekali (maklum, makan bersama anak-anak), dengan Chicken Katsu dan Long Grain Rice. Dengan tambahan Low Carb, alias sayuran rebus.

Saya suka menu yang praktis dan lengkap, sudah termasuk karbohidrat, protein dan sayuran. Soal rasa, menu yang disajikan Go!Curry ini memang nasi kari yang paling cocok di lidah saya. Pernah coba di beberapa restoran kasual Jepang, tapi rasanya masih belum pas.

Kari yang disediakan Go!Curry ini cukup kuat, namun tidak berlebihan. Kekentalannya cukup, perpaduan bumbu-nya pun tidak saling mendominasi, tapi saling melengkapi.

Chicken Katsu-nya, ayam goreng dengan tepung, potongannya cukup besar. Daging ayam-nya cukup empuk, hingga Bebi Vendra, yang malas mengunyah daging ayam pun bisa melahapnya. Dengan nasi putih panas, juga sayuran rebus (kembang kol, wortel, jagung muda, kentang kecil, dan string beans), keseluruhan menu ini membuat kami kenyang namun senang.

Untuk makan siang kali ini, saya harus membayar sebesar 140.421 rupiah. Pantas juga sih. Porsi besar, pas untuk saya dan Bebi Vendra. Enak pula.

Soal pelayanan, hmm… Entah karena kami pengunjung pertama di hari itu, atau memang para staf sedang kurang konsentrasi bekerja. Saya memergoki satu staf di dapur mengaduk masakan sambil fokus ke ponsel. Juga 2 staf di belakang konter, tampak asyik dengan ponsel masing-masing.

Di restoran ini juga disediakan pensil warna, untuk anak-anak yang ingin mewarnai alas makan mereka yang sederhana namun lucu. Yaitu gambar polos kostum daerah-daerah asal kari yang disajikan. Ada Jepang, Thailand, Indonesia.

Sarapan di Mobil, GIIAS 2016, Pameran Alutsista, Kyochon Living World

Hari Jumat lalu, saya mengantar Bebi Vendra ke sekolah. Sembari saya mengemudikan mobil, Bebi Vendra duduk di belakang, di child seat booster-nya dengan sabuk keselamatan terpasang, sarapan bubur ayam yang dibeli dekat rumah, menggunakan wadah kaca bulat bertutup dari Ikea.

Pulang sekolah, saya langsung mengemudikan mobil menuju ICE BSD. Sejak malam sebelumnya, saya memang sudah berniat untuk mengajak Bebi Vendra mengunjungi GIIAS 2016, pameran otomotif yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Saya berpikir, Bebi Vendra akan senang melihat mobil-mobil mewah atau aksesorisnya.

Saya juga dapat info kalau menunjukkan STNK asli kendaraan Suzuki akan mendapatkan 2 tiket masuk pameran. Gratis!

Lumayan banget kan. Karena tiket masuk di hari biasa 50.000 rupiah per tiket, dan 70.000 rupiah di akhir minggu.

Tak disangka, ternyata ada pameran karoseri bus dan pameran truk juga. Jadi, Bebi Vendra malah berkeliaran seru di area kendaraan-kendaraan besar tersebut. Mobil mewah, sudah tak dipedulikannya lagi. Bahkan, Bebi Vendra langsung pasang pose di depan truk-truk tersebut dan minta difoto.

Kami mulai merasa lapar. Saya mengemudikan mobil lagi ke Living World, Alam Sutera, Tangerang. Kami makan siang di Kyochon (쿄촌 치킨).

Saya memilih Combo 2, nasi dengan Green Salad, 2 potong Salsal (daging ayam tanpa tulang yang digoreng dengan tepung beras), 2 potong sayap ayam (boleh pilih yang Original/ tidak pedas, atau Red/ pedas), dan segelas es teh. Harga per paket 65.000 rupiah, sudah termasuk pajak dan service.

Bebi Vendra tampak menyukainya, karena ia berhasil menghabiskan 1 porsi. Atau mungkin memang lapar, setelah mengarungi luasnya ICE BSD?

Sejak waktu makan, Bebi Vendra sudah tidak konsentrasi. Perhatiannya terpecah ke halaman luar mal. Di sana ada Pameran Alutsista (alat utama sistem sejata) Tentara Nasional Indonesia. Selesai melahap makanannya, ia langsung mengajak saya segera mengajaknya melihat pameran tersebut.

Beberapa kendaraan khusus tentara tampak diparkir di area halaman mal. Banyak yang bisa dinaiki. Lagi-lagi, Bebi Vendra pasang pose dan minta difoto.

Lihat saja ekspresi kegembiraan di wajahnya.

Sampai rumah, ia langsung mandi sore. Lalu mengambil buku gambar dan peralatan menggambarnya. Dan ia mulai menggambar truk-truk yang dilihatnya tadi.

Paldo Jjajangmen (팔도 짜장면)

Saya suka jjajangmyeon, alias mi instan dengan kacang hitam. Biasanya, favorit saya adalah Nongshim Chapagetti. Belakangan, produk ini sering tidak tersedia. Jadi, saya mencoba produk lain yang tersedia, yaitu Paldo Jjajangmen (팔도 짜장면).

Harganya bervariasi di supermarket yang berbeda, 11.000-19.000. Bahkan supermarket yang sama, di lokasi berbeda pun harganya bisa berbeda.

Jjajangmen merk Paldo ini lebih praktis. Bumbunya sudah siap pakai berupa pasta. Rasanya bumbu kacang hitam-nya juga tidak terlalu tajam. Tapi tekstur mi-nya tidak kenyal seperti Nongshim.

Jadi, kalau mi-nya Nongshim dipadukan dengan bumbu kacang hitam-nya Paldo. Tentu akan sempurna.