Petualangan Cabut Gigi Bungsu Menggunakan BPJS Bagian 2

Kalau kamu belum baca bagian 1 dari petualangan saya ini, silakan klik di sini.

Hari Selasa, 13 Agustus 2019, sekitar jam 5 pagi, saya berangkat lagi ke RSUD Kota Tangerang. Jam setengah enam sampai di rumah sakit, pintu depan belum dibuka, tapi sudah sangat banyak orang yang menunggu di ruang pendaftaran.

Sekitar jam enam, pengambilan nomor antrean pendaftaran dibuka dan semua orang mengantre. Tapi saya tidak perlu menunggu lama untuk dipanggil dan mendaftar untuk dilayani klinik bedah mulut.

Yang cukup lama adalah menunggu nama saya dipanggil oleh perawat di klinik bedah mulut. Dokter spesialis yang menangani saya memastikan ulang jumlah gigi yang harus dicabut.

Pada kunjungan sebelumnya, beliau menandai gigi bungsu kiri atas, gigi bungsu kiri bawah, gigi bungsu kanan atas dan satu geraham di sebelahnya, juga gigi bungsu kanan bawah yang bersembunyi di dalam gusi.

Saya merasa geraham kanan atas tidak bolong. Dokter mengecek ulang. Dan akhirnya gigi tersebut tidak jadi dicabut.

Kemudian, dokter memberikan surat rujukan untuk tes darah di laboratorium dan rontgen dada di bagian radiologi, serta mengonsultasikan hasil tes tersebut ke dokter spesialis penyakit dalam.

Saya segera beranjak ke laboratorium dan bagian radiologi. Keduanya terletak berdekatan. Saya mengantre di laboratorium dulu. Tak lama, saya dipanggil untuk diambil sampel darah. Tiga ampul, saudara-saudara!

2019-09-25_07-40-17

Setelah itu, saya berpindah mengantre di bagian radiologi. Petugas meminta saya melepas sweter, kaus, bra, dan mengenakan gaun pemeriksaan yang disediakan ruang ganti pakaian.

Saya diminta berdiri dengan menempelkan dada hingga pinggul di depan sebuah panel. Pengambilan foto berlangsung sangat kilat. Saya berganti pakaian lagi lalu diberikan kertas untuk mengambil hasil rontgen.

Karena hasil tes darah baru akan siap besoknya, maka saya memutuskan untuk pulang saja. Hasil rontgen juga akan saya ambil pada saat saya kembali ke rumah sakit.

Hari Kamis, 15 Agustus 2019, saya berangkat pagi-pagi lagi ke RSUD Kota Tangerang. Seperti yang sudah-sudah, antrean sudah sangat panjang. Saya pasrah dan mengantre dengan tertib.

Setelah proses pendaftaran, saya bergegas ke laboratorium dan bagian radiologi untuk mengambil hasil tes saya dua hari lalu. Belum terlalu ramai, jadi saya bisa segera mendapatkan hasil tes tersebut.

Sambil menunggu di klinik spesialis penyakit dalam, saya mengintip hasil tes tersebut. Saya tahu, saya tidak akan mengerti apa yang tertulis, karena biasanya hasil tes darah berupa tabel dengan nilai-nilai angka. Dan hasil rontgen hanya klise foto bergambar tulang.

Pada hasil tes darah, saya melihat beberapa bagian diberi tanda merah L atau H. Dari situ, saya bisa menduga kalau hemoglobin saya terlalu rendah. Saya langsung yakin kalau saya tidak akan bisa segera menjalani operasi.

Sedangkan pada hasil rontgen dada, kelihatannya tidak ada masalah.

Benar saja, ketika tiba giliran saya dipanggil ke ruang dokter, sang ahli penyakit dalam langsung mengomel karena hemoglobin saya terlalu rendah. Beliau memberi pilihan, jika terburu-buru harus operasi, saya perlu dirawat inap untuk menaikkan hemoglobin.

Namun akhirnya, spesialis penyakit dalam itu menyarankan saya banyak makan hati ayam dan bayam. Juga meresepkan suplemen penambah darah. Dengan peringatan, bahwa menaikkan hemoglobin dengan cara alami mungkin dapat memakan waktu hingga 3 bulan.

2019-08-31_04-58-44

Dari klinik penyakit dalam, saya ke klinik bedah mulut. Saya terkejut ketika mendapati papan nama yang ditempel di depan pintu ruang dokter menyebutkan nama dokter yang lain. Spesialis bedah mulut yang menangani saya ternyata berhalangan hadir.

Maka saya pulang dengan agak kecewa, karena saya merasa sudah datang sia-sia. Harusnya, hari itu saya ke Yogyakarta untuk latihan band. Tapi saya memilih untuk ke rumah sakit.

Ada cerita dari ruang tunggu. Ruang di mana saya menghabiskan paling banyak waktu, selama urusan gigi bungsu ini.

Beberapa orang menyapa saya dan menyatakan rasa penasaran karena saya selalu terlihat sendirian. Tidak ditemani siapa-siapa.

Saya memang sengaja pergi sendiri karena harus bergantian dengan suami menjaga anak. Anak saya sehat, jadi saya tidak ingin mengajaknya ke rumah sakit.

Namanya saja rumah sakit, banyak kuman penyakit bertebaran. Saya tidak mau anak saya yang sehat justru jadi sakit gara-gara mengunjungi rumah sakit.

Hari Kamis, 22 Agustus 2019, saya kembali mengunjungi RSUD Kota Tangerang. Karena hanya perlu meminta tanggapan spesialis bedah mulut soal tanggapan rujukan ke spesialis penyakit dalam, saya tidak perlu datang pagi-pagi untuk mengambil nomor antrean.

Setelah menunggu sebentar, nama saya dipanggil. Spesialis bedah mulut menyarankan saya untuk menaikkan kadar hemoglobin darah dulu. Kemudian, beliau memberikan surat kontrol untuk tes darah lagi. Disarankan setelah selesai menstruasi agar kadar hemoglobin darah lebih baik.

Untuk sementara, sang dokter menjadwalkan saya operasi di akhir Oktober 2019. Lama banget, ya?

Tapi saya justru merasa lega. Saya mulai melihat titik terang bahwa urusan gigi ini akan segera beres.

Maaf kalau tidak banyak foto yang bisa saya bagikan. Rumah sakit melarang pengambilan foto atau video, dan saya yang pergi sendirian memang fokus terhadap proses sehingga tidak banyak memegang ponsel atau kamera.

Bersambung ke bagian 3, ya!