Ulasan Film: Finding Dory

Sudah cukup lama, saya tidak nonton film di bioskop. Beberapa film, terlewat begitu saja masa tayangnya. Dari masih ramai antri, sampai akhirnya sudah turun tayang.

Karena sudah pernah nonton Finding Nemo, Bebi Vendra sudah familiar dengan film ini. Menurut saya sih lucu, namun kebanyakan lucu di dialog, sedangkan Bebi Vendra belum bisa baca teks subtitle dan belum begitu cepat memahami dialog dalam bahasa Inggris. Jadi, film ini kurang bisa dipahami anak 6 tahun, sebenarnya.

Alur ceritanya pun bisa ditebak. Dan penonton sebenarnya bisa tenang saja, karena sudah pasti berakhir bahagia.

Ulasan Drama Korea: Entertainer – 딴따라 (2016)

Biasanya, saya menonton drama setelah komplit tayang. Rasanya gregetan tidak sabar gitu, kalau mengikuti masa tayang. Tapi karena acara menunggu dengan penuh rasa penasaran tersebut, drama yang sebenarnya biasa ini jadi terasa seru.


Photo taken from wikipedia

Baca sinopsisnya, tentang seseorang dan teman-temannya yang berusaha bertahan di kerasnya dunia hiburan Korea. Satu faktor sudah cocok nih, yaitu drama yang kisahnya berputar di suatu profesi. Ditambah, lebih spesifik lagi, kisah ini berputar di sebuah band. Sebagai anak band, tentunya saya jadi semakin tertarik menikmati drama berdurasi 18 episode ini.

Belakangan, setelah baca ulasan penonton lain, yang bilang drama ini biasa, saya tersadar kalau saya bisa menikmatinya karena bercerita tentang kehidupan anak band. Jadi, saya bisa memahami kisahnya. Lalu jadi mengingat-ingat serunya ketika band saya dulu sibuk tur kesana-kemari, rekaman, bahkan piknik bareng.

Cerita berawal dari seorang direktur agensi artis besar di Korea, dengan segala kesibukan dan sepak terjangnya. Hidupnya yang sudah ‘enak’ harus dimulai lagi merangkak dari bawah. Belum lagi urusan jegal-menjegal.

Kisah berlatarbelakang profesi memang seru untuk dinikmati. Satu hal yang harus diingat, ketika memangku suatu jabatan yang tinggi, jangan bertingkah tidak menyenangkan. Karena kita tidak tahu, kapan kita akan jatuh, atau membutuhkan bantuan orang-orang yang dulunya kita injak-injak sebagai bawahan, atau ketika kita melihat mantan bawahan melesat jauh tinggi melewati jenjang karier kita sendiri.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, drama ini biasa. Bahkan banyak bagian yang terasa terlalu didramatisir. Namun dengan selipan beberapa adegan lucu dan musik latar yang sedap untuk dinikmati, jadi tak sia-sia masa penantian saya untuk setiap episodenya.

Ulasan Drama Jepang: Mother Game -マザー・ゲーム~彼女たちの階級~

Ini bukan drama baru. Sudah sejak beberapa bulan lalu saya menonton episode 1-3. Lalau mandeg. Dan pas banget, saya selesai menikmati 10 episode, kemarin.

Pas sama apa? Bertepatan dengan ulang tahun Bebi Vendra, hari ini. Yah, saya hanya nyambung-nyambungin saja sih.

Kisahnya tentang seorang ibu tunggal, yang jungkir balik mencari TK untuk anaknya. Kemudian bertemu dengan direktur sebuah TK, yang mengundang si anak untuk masuk ke TKnya.

Tanpa gambaran apapun, ternyata itu TK elit. Dengan komunitas ibu-ibu yang berlomba menunjukkan kekayaan dan kehebatan keluarganya masing-masing. Padahal, si ibu tunggal ini orang biasa yang ditelantarkan suaminya, yang membawa lari seluruh tabungannya.

Hari-hari sekolah dengan berbagai dinamika interaksi antar anak, antar ibu, juga masalah masing-masing keluarga. Semuanya mengajarkan nilai-nilai tentang keluarga, suami-istri, dan tentunya tentang pendidikan anak usia dini. Semua ibu, ayah, guru, harus nonton drama ini! Dan mengambil nilai-nilai yang baik bagi masa depan anak. Masa depan para generasi penerus.

Yang saya tangkap dari drama ini:
Jadi ibu tidak perlu sempurna.
Mendidik dan membesarkan anak adalah tanggung jawab semua orang, tidak bisa semua dilimpahkan ke ibu, lalu tutup mata.
Ibu bekerja atau ibu penuh waktu, sama saja. Yang penting adalah kebahagiaan anak. Di drama ini, ibu yang ‘tidak ada kerjaan’ malah jadi menggangu ibu lain lho!

Kebetulan, hari ini Bebi Vendra berulangtahun yang keenam. Sudah semakin bertumbuh, semakin pintar, semakin kritis, semakin cerewet, semakin ingin tahu, semakin aktif. Saya sendiri, tak jarang kewalahan menanggapi anak ini.

Ketika anak berumur 6 tahun, maka Mama juga baru ‘berumur’ 6 tahun. Kita akan sama-sama melangkah ke depan, sambil sama-sama belajar. Jangan tumbuh dewasa terlalu cepat ya, Beb! Mama masih ingin menggandeng tanganmu.