Cara Saya Merawat Rambut

Rambut saya memang banyak melalui penyiksaan. Rebonding, di sekitar tahun 2005. Lalu gonta-ganti warna hingga sekarang.

Hasilnya, rambut saya kering dan rapuh. Karena itu, perlu ritual perawatan khusus. Heboh, memang, tapi tidak sulit, dan saya menikmatinya.

Saya keramas 3-4 hari sekali. Karena keramas terlalu sering dapat membuat rambut menjadi semakin kering. Bahkan, kelenjar minyak bisa jadi terpicu untuk memproduksi semakin banyak minyak, hingga akhirnya jadi lepek dan mudah kotor.

Saya keramas pakai madu. Hanya 2 sendok makan madu dan 2 sendok makan air minum biasa, yang digosokkan di kulit kepala. Pijat lembut selama semenit. Lalu dibilas hingga bersih.

Kondisionernya, 2 sendok makan cuka apel dan 5 tetes minyak esensial oil lavender, yang diencerkan dengan air bersih hingga menjadi satu cangkir. Siramkan di kulit kepala. Pijit-pijit lembut selama 1 menit, lalu bilas lagi hingga bersih. Keringkan rambut dengan cara menepuk-nepuk lembut handuk bersih kering.

Ketika rambut setengah kering, oles tipis Kippabuw Hair Oil di batang rambut, terutama bagian ujung rambut.

Perawatan yang paling penting adalah dari dalam. Yaitu dengan pola makan seimbang. Banyak sayur dan buah, cukup air putih, cukup istirahat dan tidak stres. Produk perawatan rambut hanya membantu menyempurnakan perawatan dari dalam.

Selamat merawat rambut!

Advertisements

Soal Keselamatan Berlalulintas

Kemarin, jadwal saya adalah servis rutin mobil, lalu arisan bersama teman-teman alumni #KippabuwSoapClass. Selama 3 tahun lebih, CiKA (alias City car AKAP), Suzuki New Karimun Estilo, setia mengantarkan kami kesana kemari. Dan saya rajin membawanya servis rutin di bengkel resmi.

Dalam perjalanan menuju arisan, saya mendapat peringatan adanya kecelakaan di ruas tol. Pantas saja, macetnya gila-gilaan. Sudah emosi macet, saya semakin emosi pada si penyebab kecelakaan, sehingga macetnya bikin emosi.

Saya langsung menghakimi mereka dengan sumpah serapah (dalam hati, dan sekarang ingin saya muntahkan di tulisan ini), bodohnya mereka asal bisa menginjak pedal gas langsung merasa pantas mengemudikan kendaraan di jalanan. Tanpa paham betul etika berlalulintas dan keselamatan berkendara. Sehingga mengganggu perjalanan orang lain. Banyak orang.

Setelah saya dipuji penjaga toko suku cadang kendaraan bermotor, karena berinisiatif mengganti wiper mobil demi keselamatan berkendara di cuaca yang sering hujan. Lalu membuat mekanik di bengkel resmi takjub, karena saya memperhatikan lampu kecil mobil saya yang mati sebelah, lalu minta diganti yang baru. Kemudian saya terjebak macet parah akibat kecelakaan. Rasanya jengkel!

Kecelakaan lalu lintas, ada yang bilang tidak sengaja, bahkan ada yang menyebutnya takdir. Menurut saya, kalau semua pengguna jalan mau peduli terhadap kondisi dan keselamatan kendaraan yang dikemudikannya, juga mau tahu soal etika berlalulintas, seharusnya kecelakaan lalu lintas bisa diminimalisir. Semua orang tidak mau kecelakaan kan? Jadi memang sudah sepatutnya, semua orang peduli keselamatan berlalulintas. Dan bukan hanya bermodal bisa nginjak pedal saja, atau sekedar jagoan mencet klakson membabibuta.

Roti Bir Hitam

Akhirnya saya sempat mencoba bikin roti bir hitam, setelah berminggu-minggu penasaran.

Campurkan 2 cangkir tepung gandum (saya pakai rolled oats yang digiling halus) dengan 1 cangkir rolled oats, 1 sendok teh soda kue, setengah sendok teh garam, 2 sendok makan minyak kelapa, 1 sendok makan madu, setengah cangkir kismis, 1 cangkir bir hitam (sebaiknya yang sudah diangin-anginkan), 1 sendok teh yogurt tawar. Aduk menggunakan sendok saja, karena adonannya memang seperti bubur.

Saya menggunakan cetakan aluminium foil satuan, sekitar dua sendok makan per cetakan. Panaskan wajan dengan api kecil. Tempatkan adonan roti dalam cetakan di wajan, tutup. Masak hingga kecoklatan. Biasanya, roti akan mudah lepas dari cetakan jika sudah matang.

Aroma rotinya cukup kuat, agak beraroma seperti kacang. Rotinya padat tapi empuk. Dan ada sensasi renyah oat ketika dikunyah.

Sajikan bersama secangkir teh hitam dengan madu hangat. Selamat menikmati!

Sebelum Belanja #Kippabuw

Handmade bath & body products, alias produk perawatan tubuh buatan tangan, belakangan ini memang semakin menarik perhatian. Berbagai bahan alami dan kemasan menarik, juga bentuk yang unik, membuatnya tampak semakin menarik.

Yang saya bicarakan kali ini adalah sabun, pelembab kulit, pelembab bibir, sampo, scrub tubuh, balsem, pewangi tubuh, deodoran, pembersih toilet, sabun cuci pakaian, sabun cuci peralatan makan, juga minyak pembersih wajah, yang dibuat dengan tangan, bukan dengan mesin pabrik, disediakan sesuai permintaan, dan meminimalisir penambahan bahan-bahan kimia yang tidak perlu.

Sudah hampir 3 tahun, saya menjual produk-produk Kippabuw. Yaitu, produk-produk buatan tangan saya sendiri, dengan berbagai pilihan varian, seperti yang saya sebutkan tadi. Orang-orang yang belum terbiasa dengan produk-produk non-mainstream tersebut, biasanya akan heran, atau malah ragu. “Hah? Bikin sabun sendiri?”

Namun, kebanyakan pelanggan Kippabuw adalah orang-orang yang memang sudah sadar akan pentingnya beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan dan meminimalisir bahan-bahan kimia yang tidak perlu. Untuk pelanggan yang seperti ini, saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi, karena kebanyakan sudah paham soal konsep produk buatan tangan ini.

Ketika harus menghadapi orang-orang yang mindset-nya masih berpegang teguh pada produk-produk komersial, bahkan yang sangat percaya pada ketenaran merek, tentu banyak yang perlu dijelaskan.

Intinya, produk buatan tangan ini memang berbeda dengan produk terkenal di pasaran. Harganya cukup mahal, tentu karena bahannya juga beda, dan kapasitas produksinya tidak semassal pabrikan. Bahan-bahannya lebih mudah diucapkan, ketimbang bahan-bahan kimia yang tertera di kemasan produk komersial. Kebanyakan, malah produk yang biasa dinikmati sebagai bahan makanan maupun minuman sehari-hari.

Dan, produk buatan tangan ini bukanlah produk yang dijual dengan embel-embel janji. Konsepnya, seperti perawatan tubuh sendiri di rumah, dengan bahan yang tersedia di dapur. Jadi, tidak mungkin kulit akan berubah drastis dalam waktu singkat. Saya sendiri percaya, kecantikan dan kesehatan tubuh dan kulit lebih ditentukan oleh pola makan dan gaya hidup.

Jadi, sebelum berbelanja produk perawatan kulit dan tubuh, juga produk pembersih buatan tangan, sebaiknya, lupakan dulu iklan-iklan produk komersial pabrikan. Supaya tidak kecewa, sudah terlalu tinggi berharap. Padahal, ketika janji mereka tidak terbukti, kebanyak konsumen maklum-maklum saja. Tapi jika produk buatan tangan, yang tidak menjual janji, dan ternyata tidak sesuai harapan yang tidak sesuai sasaran, malah dicela habis-habisan.

Well, misi saya sendiri sebenarnya untuk berbagi pengetahuan soal gaya hidup yang meminimalisir bahan kimia yang tidak perlu, terutama dalam produk perawatan kulit dan tubuh, juga pembersih sehari-hari.

Roti Kismis

Beberapa hari lalu, kami sarapan roti kismis bikinan sendiri. Ini adalah resep yang diwariskan Oma saya, dengan sedikit modifikasi. Beliau biasa memanggangnya menggunakan baking pan, tapi saya hanya pakai wajan.

Tempatkan 1 cangkir susu tawar dan setengah sendok makan mentega di mangkok kaca tahan panas. Tempatkan mangkok di atas sedikit air yang baru mendidih. Tujuannya untuk menghangatkan susu dan melumerkan mentega. Tak perlu sampai panas.

Siapkan mangkok besar. Masukkan 2 cangkir tepung terigu, setengah sendok teh garam dan 1 sendok teh ragi instan. Tambahkan susu dan mentega. Tambahkan 1 butir telur dan 2 sendok makan madu. Uleni hingga kalis, lalu bulatkan. Diamkan selama sekurangnya 1 jam.

Tinju adonan untuk mengempeskannya. Bagi menjadi 6. Bulatkan masing-masing bagian, pipihkan, isi kismis, bulatkan lagi. Silakan berimprovisasi sendiri soal isian. Roti bisa diisi coklat meses, potongan coklat masak, keju, selai kacang, prunes kering, atau cranberry kering. Sesuai selera.

Lapisi wajan penggorengan dengan aluminium foil. Tata adonan roti. Masak dengan api kecil selama 20-30 menit. Sebaiknya ditutup.

Roti kismis bikinan sendiri pun siap dinikmati bersama secangkir teh hangat.

Sebelum Tidur…

Di malam-malam yang biasa saja, tanpa kehebohan, di mana besoknya kami harus memulai rutinitas pagi-pagi sekali, maka saya bisa menjalankan ritual kecantikan.

Saya tahan-tahan untuk tidak mandi sore, karena setelah mandi sampai waktunya tidur, tubuh akan berkeringat lagi. Tidur dengan kulit yang terasa lengket, tentu tak nyaman. Jadi, saya mandi beberapa saat sebelum tidur. Bukan kebiasaan yang baik, memang.

Biasanya, saya mandi dengan Active Charcoal Soap. Tapi belakangan ini, saya sedang suka mandi pakai Blue Clay Active Charcoal Tea Tree Soap. Wajah hingga seluruh tubuh, hanya perlu satu sabun saja. Sudah cukup.

Di hari-hari tertentu, saya suka pakai Kippabuw Unscented Liquid Soap dengan tambahan minyak esensial. Cedarwood atau Eucalyptus, ketika sedang merasa kurang enak badan. Clarysage atau Bergamot, ketika sedang perlu penjaga suasana hati, terutama di tanggal-tanggal PMS. Sama saja, satu sabun untuk merawat wajah hingga ujung kaki.

Di hari-hari yang terasa melelahkan, saya akan mandi pakai air suam-suam kuku ditambah garam merah muda Himalaya.

Setelah mandi, mengeringkan tubuh dan berganti pakaian, saya mengoleskan Shea Butter di kulit kaki dan tangan. Shea Butter ini adalah hadiah dari seorang teman, yang juga pelanggan setia Kippabuw.

Untuk wajah, saya mengaplikasikan Kippabuw Face Balm.

Setelah itu, minyak esensial pepermin di telapak kaki. Untuk menjaga kondisi tubuh. Apalagi tidur dengan paparan penyejuk ruangan. Terasa nyaman, memang, tapi jika kondisi tubuh tidak dijaga, maka saya akan bangun keesokan paginya dengan hidung mampet atau rasa tidak nyaman di tenggorokkan.

Tak lupa, pasang headphones dan menyetel lagu pengantar tidur.

Selamat malam!

Ulasan Produk: Wall’s Tim Tam Choco Blast

Saya baru mencoba produk es krim keluaran Wall’s ini, dua hari lalu. Tertarik dengan judulnya “Choco Blast”. Sebagai penggemar coklat, tentu saya jadi penasaran, ‘secoklat’ apa sih es krim ini?

Ternyata lumayan rasa coklatnya. Dan serpiham biskuit Tim Tam di dalam es krim membuat pengalaman menikmati es krim menjadi seru. Secara keseluruhan, saya suka varian yang satu ini. Namun memang cepat bosan dan eneg.

Fetucini dengan Keju Chedar

Ini menu makan siang kami kemarin. Sederhana dan mudah membuatnya.

Rebus 2 gelas air dengan 1 sendok teh garam hingga mendidih. Masukkan 1 buah kentang yang sudah dikupas dan dipotong dadu. Rebus selama 5 menit, lalu tambahkan fetucini. Rebus lagi selama 10 menit. Angkat, tiriskan. Namun air rebusannya jangan dibuang.

Panaskan 1 sendok makan minyak kelapa dan mentega di wajan. Tambahkan setengah sendok teh bawang bombay kering, setengah sendok teh lada putih bubuk, satu sendok makan krim, segenggam keju chedar parut dan 3 sendok makan air rebusan pasta dan kentang.

Hancurkan kentang menggunakan garpu. Masukkan kentang dan fetucini. Aduk rata hingga sausnya tercampur. Angkat, sajikan.

Lebih sedap jika menggunakan penne, sebenarnya. Tapi saya sedang tidak punya stok penne di rumah. Selamat makan siang!

Ulasan Film: Chef (2014)

Ini adalah film tahun 2014. Bukan film yang populer, tapi karena kisah tentang makanan dan pekerjaan kuliner, saya tertarik untuk menontonnya. Ternyata, saya tidak rugi.

Ceritanya tentang seorang koki yang cukup ternama di lingkungannya, kedatangan tamu seorang food blogger yang juga cukup ternama. Sang pemilik restoran yang ketakutan terhadap kritik, justru membatasi kreativitas si chef dan memintanya menyajikan masakan andalannya yang sudah bertahun-tahun biasa disajikannya.

Hasilnya, si kritikus menulis kritik pedas di blognya. Si chef yang frustrasi pun meluapkan emosinya dan video memalukan tersebut tersebar di media sosial, membuat posisi si chef semakin terpuruk.

Akhirnya, si chef kehilangan pekerjaannya, dan malah beralih berjualan makanan di food truck. Dari situ, si chef mendapatkan popularitas dan reputasinya lagi. Hingga si food blogger yang sempat berselisih paham dengannya memberi modal untuk membuat restorannya sendiri, dengan kebebasan berkreasi.

Film ini lucu, bikin gregetan (ya memang begitulah para chef, perfeksionis dan keras kepala), dan penuh keseruan media sosial. Pantas untuk dinikmati.