#KippabuwHoliday2015

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Desember adalah bulan yang paling saya tunggu-tunggu, dalam satu tahun. Tidak hanya acara pulang kampung, bertemu keluarga besar tercinta, tapi juga jatahku untuk menikmati kebersamaan dengan suami tersayang dan Bebi Vendra. Sepanjang tahun, kami masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan sendiri-sendiri. Apalagi, tahun ini, Bebi Vendra mulai masuk sekolah. Saya, si ibu penuh waktu, jadi agak merasa sendirian, ketika kedua lelaki kesayangan itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Kami biasa mudik bertiga, bersama CiKA, si City car AKAP, yaitu Suzuki New Karimun Estilo warna abu-abu metalik. Karena itu, beberapa hari sebelum jalan, saya terbiasa melakukan pengecekan kondisi kendaraan di bengkel resmi Suzuki, Tangerang. Wipernya sudah diganti baru, sebulan lalu. Jadi, tinggal ganti oli mesin. Dan kami siap berpetualang.

Kami berangkat dari Ciledug, Tangerang, hari Sabtu malam, 19 Desember 2015. Seperti biasa, lewat jalur selatan. Situasi lalu lintas belum terlalu padat. Sekitar jam 2 pagi, kami istirahat di sebuah pom bensin, di Jalan Raya Gentong, Tasikmalaya. Menikmati kopi hitam dengan madu, ditemani udara yang mulai sejuk. Tak lama, kami malah terlelap di dalam mobil, hingga hari terang.

Perjalanan berlanjut hingga Restoran Pringsewu Banjar. Kami menikmati sarapan dulu, sembari numpang mengisi ulang daya baterai ponsel masing-masing. Setelah tenaga tubuh dan daya ponsel penuh lagi, kami meluncur lagi. Mulai Gombong, perjalanan agak tersendat, karena banyak titik jalan yang sedang diperbaiki, sehingga kendaraan yang melintas harus berjalan bergantian. Akhirnya, kami tiba di rumah orang tua saya, di Sleman, setelah 26 jam perjalanan.

Senin pagi, kami ingin sarapan. Bingung, saking banyaknya tujuan kuliner yang sudah diincar sejak masih di Tangerang. Karena lokasinya dekat dari rumah, maka kami memutuskan untuk sarapan nasi dan ayam goreng bacem empuk Pak Kromo III, Paingan. Bebi Vendra, yang tidak begitu suka makan daging ayam karena malas mengunyah, pun mampu melahap satu potong paha ayam.

Setelah makan, saya merasa ingin gelato. Entah kenapa, sejak tiba di Yogyakarta, saya jadi berhasrat untuk mencicipi berbagai sajian gelato, yang katanya bertebaran seantero kota. Tadinya, saya kepikiran untuk mencicipi gelatonya Parsley Bakery & Café, yang berlokasi di Jalan Solo. Ternyata tidak ada. Hanya roti, kue dan restoran. Akhirnya, kami nyasar nongkrong di Eastern Kopi TM, Seturan. Rasanya berat, untuk menjelajah terlalu jauh dari seputar area tersebut.

Hujan pun sempat mengguyur dengan deras. Membuat kami semakin malas bergerak jauh-jauh. Tak terasa, hari sudah hampir gelap. Kami beranjak, bermaksud pulang, namun mampir nongkrong (lagi) di angkringan dekat rumah. Setelah habis sebungkus nasi kucing dan segelas susu jahe, kami segera mendarat di rumah dan terlelap dalam waktu singkat.

Besoknya, kami ingin sarapan lontong opor di Condong Catur. Sayangnya, sudah kehabisan. Jadi kami bablas ke warung makan Mbak Diah. Kebetulan, di bagian depan warung makan tersebut ada tempat pencucian mobil dan motor. Jadi, CiKA bisa sekalian dibersihkan dari debu dan lumpur yang menderanya, setelah perjalanan sejauh 500 kilometer lebih. Nasi merah dengan gudangan alias urap dan tempe mendoan serta siraman kuah sayur asem, masih tetap jadi favorit saya.

Kali ini, kami menjelajah jauh ke daerah selatan Yogyakarta. Yap, apalagi kalau bukan Nanamia Pizzeria. Salah satu tujuan makan yang tidak boleh terlewatkan, ketika mengunjungi Yogyakarta. Kami nongkrong dari siang sampai malam di sana. Hehehe. Karena ketika tiba di sana, disambut hujan, maka bagian taman restoran tersebut agak becek. Namun, di situlah, Bebi Vendra menemukan kebahagiaan. Lengkap dengan sepatu botnya, anak 5,5 tahun itu asyik becek-becekan hingga pakaiannya basah kecipratan.

Pulangnya, kami dapat kabar duka kalau salah satu teman kami telah berpulang. Jadi, besoknya, kami siap untuk melayat. Sekaligus reuni dengan teman-teman yang sudah lama banget tidak jumpa. Setelah melayat, Bebi Vendra minta jalan-jalan ke Lippo Plaza, Yogyakarta. Tapi, Mama dan Papa, yang haus akan alam terbuka, bersekongkol untuk membelokkan tujuan kami ke Kaliurang. Wedang ronde, bakso, mi ayam, teh poci, roti bakar, pun kami nikmati di depan Taman Kaliurang, di tengah cuaca gerimis dan berkabut. Menjelang gelap, kami turun. Mampir menikmati Mister Burger di Jalan Kaliurang. Lalu pulang dan tertidur.

Hari Kamis, kami sarapan di Pecel Madiun, Mbak Yanti, di seputar Jalan Tajem, Maguwoharjo. Lalu meluncur ke Mary Anne’s yang berlokasi di depan Hotel Santika. Tak jauh dari Tugu Yogyakarta. Saya sempat melepas rindu dan bercengkrama sedikit dengan beberapa teman alumni #KippabuwSoapClass. Setelah mereka berpamitan, kami bertiga masih nongkrong sampai hari gelap.

Gelato yang bikin saya jatuh cinta adalah Double Choco Almond. Choco Rum Raisin-nya juga lumayan, tapi Baileys-nya terlalu samar. Tadinya, saya berencana untuk lanjut ke ibadah malam natal di GKJ Sawokembar. Tapi jadwal ibadah yang terlalu malam, membuat saya sudah lelah duluan. Maka kami pulang dan segera pulas.

Hari Natal, kami sekeluarga ke GKJ Maguwoharjo. Lalu sarapan bakso Sidan di perempatan stadion Maguwoharjo. Arah pulang, kami membungkus es oyen yang mangkal tak jauh dari situ.

Di rumah, kami sempat merem sebentar, lalu meluncur ke makam Terban. Janjian sama Opa, juga Tante dan anak-anaknya, yang meluncur dari Semarang. Menengok makam Oma kami. Saya, suami tersayang, Bebi Vendra, adik tercinta dan kekasih hatinya langsung mlipir. Akibat celetukan Bebi Vendra, kami nyangkut di Mary Anne’s lagi.

Kali ini, kami kelaparan, jadi kami masing-masing memesan makanan utama. Setelah itu, saya dan Bebi Vendra tak mau melewatkan gelato. Kami pulang karena dicariin para orang tua, yang menuntut kami semua kumpul keluarga. Hehehe.

Tanggal 26 Desember, sesuai rencana, kami piknik ke pantai Parangtritis. Sebenarnya, saya pribadi lebih suka ke pantai Gunung Kidul. Namun jarak yang agak terlalu jauh, akses yang agak merepotkan, juga bayangan akan keramaian yang terjadi, membuat kami mengurungkan niat. Bebi Vendra suka ke pantai untuk main pasir. Tapi ia ogah kalau diajak main air di bibir pantai.

Setelah beberapa lama menunggu Bebi Vendra main pasir, sembari menikmati sebuah kelapa muda segar, kami pindah ke Gumuk Pasir. Ini merupakan surga lain bagi Bebi Vendra. Hanya hamparan pasir luas, tanpa air sama sekali!

Bebi Vendra main lagi di pasir, selama beberapa lama. Para orang dewasa pun sibuk sendiri berfoto. Menjelang gelap, kami menuju rumah Ardha untuk menumpang mandi. Tubuh kami sudah bauu keringat tak keruan, ditambah pasir yang menempel, bercampur aroma amis sisi laut. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami pamitan pulang.

Agak padat di salah satu titik Ring Road Selatan. Waze melaporkan, ada kecelakaan. Ternyata sebuah Nissan Evalia ringsek melintang di tengah jalan. Ring Road memang jalur yang perlu konsentrasi tinggi. Lintasannya lurus mulus, tak jarang membuat para pengendali setir terlena menginjak pedal gas.

Mendekati rumah, kami mampir ke angkringan, untuk menikmati segelas minuman hangat. Pilihan saya, selalu, susu jahe. Saya dan Bebi Vendra juga sempat berbagi sebungkus nasi kucing yang dinikmati bersama sepotong mendoan. Sampai rumah, kami langsung pulas.

Hari Minggu pagi, suami tersayang ada janji temu dengan kenalannya, sesama penggemar burung dara, di daerah Kalasan. Saya dan Bebi Vendra mengantarkannya, kemudian meluncur menuju Lippo Plaza Yogyakarta. Rasa penasaran Bebi Vendra pun terjawab sudah. Di pusat perbelanjaan tersebut tidak ada apa-apa yang menarik. Bebi Vendra kecewa. Maka saya mengajaknya pindah ke Galeria Mall.

Awalnya, ia tertarik ingin makan di Wendy’s, namun antrian yang lama, karena pelanggan di depan terlalu bingung untuk memesan menu apa, kami pindah ke Suba Foodcourt. Saya langsung memesan bubur di Moy Moy. Sebelum pulang, kami membungkus beberapa paket nasi dan ayam goreng Wendy’s, untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga kami di rumah.

Saya sempat melirik beberapa toko kain di Jalan Urip Sumoharjo. Namun, tak ada yang tampak menarik. Harganya pun terlalu mahal. Sedangkan saya ingin membeli kain untuk dijahit menjadi pakaian untuk kami bersembilan. Saya, suami tersayang, Bebi Vendra, Mama, adik, kekasih adik, Mama mertua, adik ipar perempuan, dan adik ipar laki-laki. Rasanya tidak rela, mengeluarkan hampir sejuta rupiah untuk kain dengan motif yang kurang saya sukai.

Sampai di rumah, kami makan bersama, lalu Bebi Vendra asyik sendiri menonton film anak-anak di televisi. Hari itu kami habiskan dengan bersantai di rumah.

Tanggal 28 Desember, kami berencana meninggalkan Yogyakarta. Suami tersayang bermaksud ingin mampir mengunjungi kawannya di Ketanggungan, Brebes. Tapi tujuan kami sebelumnya adalah mata air Guci, Tegal. Setelah sarapan ayam goreng Pak Kromo, juga membungkus satu ayam goreng utuh, kami pun meluncur. Hujan deras dan banjir ketika akan keluar Temanggung. Lalu kami makan siang di Warung Djoglo, Wonosobo.

Perjalanan naik turun bukit pun dilanjutkan. Lalu Waze mengerjai kami, membuat kami harus melalui jalan menanjak super tinggi yang terasa tak berujung. Kami sampai di kawasan wisata Guci, sekitar jam 9 malam. Mencari penginapan, lalu beristirahat.

Besok paginya, kami berkeliling melihat pemandangan kaki gunung Slamet yang sejuk. Lalu berendam air panas. Setelah mandi, makan, berfoto, dan menikmati susu jahe, kami melanjutkan perjalanan menuju Ketanggungan.

Lagi-lagi, Waze menunjukkan jalan pintas yang absurd untuk dilalui. Kami bermalam di Ketanggungan. Dan hari Rabu pagi, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ciledug. Sebelum masuk gerbang tol Pejagan, masih ada beberapa titik jalan yang diperbaiki. Sehingga kendaraan harus bergantian melintas.

Tol agak ramai, tapi tidak macet. Beberapa tempat istirahat sudah mulai beroperasi, namun kebanyakan masih seadanya. Bahkan, minimarketnya masih berupa tenda. Kalau dibandingkan dengan tempat-tempat istirahat di tol Cipularang, di tol Cipali ini jauh dari tampak menarik dan kelihatannya dibangun asal-asalan. Sudah udaranya panas khas pantura, tempat istirahatnya kurang nyaman. Uh!

Sisa perjalanan kami cukup lancar. Saya sempat berburuk sangka, mulai Cikampek, Bekasi, lalu lintasnya macet, ternyata tidak. Kami sampai di rumah kontrakan kami, di Ciledug, sebelum magrib. Debu sudah cukup menumpuk, jadi saya harus bersih-bersih sedikit, menggelar kasur, lalu beristirahat.

Demikianlah petualangan kami sejauh 1524 kilometer dan 73.02 liter Pertalite. Tak sabar untuk petualangan lainnya!

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s