My Own World

Beberapa hari lalu, saya ke Gramedia, berniat membeli buku cerita untuk Bebi Vendra. Saya malah dibikin terpesona oleh rak-rak dengan buku mewarnai untuk dewasa yang tumpah ruah.

Sudah beberapa lama, memang, saya lihat di media sosial, kalau mewarnai untuk dewasa sedang ngetren, belakangan ini. Ternyata, di toko buku, memang segitu hebohnya.

Satu yang menarik perhatian saya, adalah buku ini. Karena judulnya My Own World. Waktu saya mengambil buku tersebut, lalu mengambil ponsel dari tas, dan bermaksud berfoto bersama buku tersebut, sang pramuniaga ramah mengatakan kalau buku ini salah satu yang paling laris.

Hihihi… Saya tidak berniat untuk membelinya. Saya hanya ingin berfoto, karena judulnya sama dengan judul blog saya.

My Own World sebenarnya adalah nama fanzine independen, yang saya publikasikan sendiri, di tahun 2004. Namanya diambil dari potongan lirik lagu band saya, Nothing, yang berjudul Alone in Crowd. Kemudian, karena jarang berada di depan komputer, zine tersebut mandeg di tahun 2006. Dan akhirnya, saya pindahkan ke dalam bentuk blog pribadi, pada tahun 2009.

Soal mewarnai, saya juga ikut-ikutan mewarnai. Untuk menemani Bebi Vendra mewarnai juga, sebenarnya. Kegiatan anak akan lebih seru jika Mama terlibat kan? Gambarnya pun mengambil dari yang tersedia online.

Mengalihkan Anak dari Gawai

Jaman sekarang, anak akrab dengan gawai adalah hal yang dianggap lumrah. Padahal, idealnya, anak tidak pegang gawai (bahkan tidak menonton televisi) sampai usia 13 tahun.

Bebi Vendra juga termasuk anak yang hebat soal gawai. Ponsel, phablet atau komputer tablet siapapun yang dipegangnya, ia paham betul mengoperasikannya. Komputer tablet pertama Bebi Vendra, raib digondol maling, di sebuah kedai, sekitar dua tahun lalu. Kisahnya ada di sini. Lalu, kedua komputer tablet selanjutnya, rusak di bagian konektor, akibat ditarik paksa ketika mengisi daya.

Jadi, saat ini, Bebi Vendra tidak ‘punya’ gawai.

Yes! Mama senang. Hehehe…

Tapi, tugas Mama tidak selesai sampai situ saja. Slot kosong tersebut, harus diisi. Salah satunya, dengan Lego. Saya memilih Lego Classic, karena isinya cukup untuk menyibukkan Bebi Vendra.

Ini beberapa hasil karya beliau.

Mewarnai gambar juga seru. Apalagi, saat ini sedang ngetren mewarnai untuk dewasa juga. Jadi, Mama dan anak bisa melakukan kegiatan ini bersama-sama. Saya mengambil gambar yang tersedia online, lalu mencetaknya.

Atau, membaca buku cerita bersama. Kadang-kadang, bergantian bercerita juga. Jadi, tidak selalu Mama yang bercerita. Anak bisa mengambil alih peran sebagai yang bercerita. Ini buku yang sedang saya nikmati bersama Bebi Vendra.

Yah, itu tadi baru beberapa kegiatan pengalih perhatian Bebi Vendra dari gawai. Kami bisa menikmati kegiatan bersama. Dan saya merasa cukup tenang.

Ulasan Film: In the Heart of the Sea

Saya baru ngeh, kalau film hasil karya Ron Howard ini sudah mulai diputar di bioskop, gara-gara menonton The Graham Norton Show yang menghadirkan sang sutradara tersebut, juga Chris Hemsworth. Kemudian, saya mengecek jadwal pemutaran filmnya di laman 21cineplex.com, dan saya merasa tertarik untuk menikmatinya di teater Imax.

Hari Sabtu lalu, saya dan Bebi Vendra menonton film In the Heart of the Sea. Memang, film ini diperuntukkan bagi usia remaja. Tapi, saya pikir, pemandangan laut, kapal laut dan ikan paus, mungkin akan tampak menarik bagi Bebi Vendra. Meskipun ia tidak mengerti betul isi ceritanya. Dan, kisah tentang kanibalisme para awak kapal untuk bertahan hidup pun disampaikan tidak dengan vulgar. Jadi, Bebi Vendra tidak menyadarinya.

Yap, film ini merupakan adaptasi dari novel fiksi karya Herman Melville, yaitu Moby Dick. Novel fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata. Alur cerita di film ini pun mudah dimengerti. Yaitu, ketika Herman Melville mengunjungi Simon Nickerson tua, untuk mendengarkan kisah beliau tentang perjalanan kapal Essex.

Di bagian-bagian dialog, di darat, Bebi Vendra tentu merasa bosan dan bahkan sempat tertidur. Namun, ketika si paus putih misterius muncul, ia memperhatikan dengan saksama. Dari The Graham Norton Show, saya dapat info kalau paus-paus dalam film ini adalah CGI alias computer-generated imagery, jadi tidak ada paus asli yang tersakiti. Mengingat hal itu, saya terpesona, betapa halus dan nyata efek yang dibuat untuk film ini. Yang jelas, film ini memang pantas untuk dinikmati. Dan, tidak rugi menikmatinya di teater imax.

Bebi Vendra: Syuting Video Pembelajaran PAUD

Dua minggu lalu, ketika menjemput Bebi Vendra pulang sekolah, saya celingukan mencari si bocah 5,5 tahun itu. Teman-teman satu kelompoknya sudah keluar kelas semua, namun Bebi Vendra tak tampak muncul di lobi sekolah. Lalu, gurunya menginfokan kalau Bebi Vendra (dan beberapa teman lainnya) terpilih untuk casting, jadi masih tinggal di salah satu ruang kelas.

Seminggu kemudian, gurunya mengundang saya dan beberapa Mama lain untuk menghadiri rapat. Anak-anak kami lolos casting dan dipilih untuk mengikuti syuting video materi pembelajaran PAUD. Rapat tersebut untuk meminta persetujuan orang tua mengijinkan anak-anak ikut proses syuting, yang mungkin akan memakan waktu seharian.

Jadi, Jumat minggu lalu, Bebi Vendra dan 14 anak lainnya berkegiatan di sekolah. Mulai dari bermain di area bahan alam, bermain di area balok, bermain di halaman, hingga acara makan kudapan dan makan siang bersama, direkam kamera. Beberapa Mama, termasuk saya, menunggu di sekolah selama proses berlangsung. Sekedar memberikan dukungan moral bagi anak-anak kebanggan kami masing-masing itu.

Oiya, proses pembuatan video ini merupakan salah satu kegiatan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu dari Ditjen PAUD. Nantinya, hasil pembuatan video ini akan disebarkan ke TK dan PAUD se-Indonesia, sebagai bahan acuan materi pembelajaran PAUD. Ada 5 TK di Indonesia, yang menjadi contoh, salah satunya TK tempat Bebi Vendra bersekolah ini.

Syuting selesai sekitar jam 3 sore. Saya dan Bebi Vendra langsung pulang. Saya pikir, Bebi Vendra kelelahan dan langsung terlelap. Nyatanya, ia masih sibuk bermain Lego, mewarnai, nonton film anak-anak di DVD. Malah saya sendiri yang teler. Zzzz…

Sehari bersama Vero

Hello!

Saya akan berbagi cerita tentang kegiatan saya, sejak bangun tidur di pagi hari, hingga saatnya tidur kembali, di malam hari. Ambil contoh, suatu hari Rabu.

Well, saya menyetel alarm bangun pagi sebanyak 4 kali; jam 05.11, jam 05.17, jam 05.23, dan jam 06.13. Pilihan angka menitnya random, sekedar untuk berjaga-jaga supaya tidak tergoda untuk merem lagi. Namun, sebelum alarm pertama berbunyi, biasanya, saya sudah melek karena dorongan untuk ke kamar mandi. Sebagai tambahan informasi, nada yang saya pilih untuk alarm tersebut adalah Heroes (We Could Be) – Screamo Cover, Break Free – Screamo Cover, Animals – Screamo Cover, dan Bang Bang Bang-nya Big Bang. Paling tidak, kalau saya terlena, orang lain di rumah akan merasa agak terganggu tidurnya akibat lantunan musik dengan gitar distorsi dan vokal teriak, juga musik dance yang rancak berbahasa Korea.

Dari kamar mandi, saya menuju ke dapur. Kopi hitam adalah minuman wajib untuk memulai hari. Saya suka menikmati biji kopi arabica giling, yang diseduh dengan cara dripping menggunakan saringan kertas atau kain. Favorit saya, Excelso Classic. Atau, saya akan menyeduh biji kopi giling yang sudah dikemas per sachet, sudah lengkap dengan dripping filter berbahan kertas sekali pakai. Yang ini, merk favorit saya adalah Opal Coffee.

Sambil menunggu kopi dripping, saya sedikit merapikan rumah. Tak jarang, mainan Bebi Vendra atau barang-barang milik suami tersayang berserakan sembarangan. Lalu mengepel lantai dengan cara saya sendiri: 1 sendok makan cuka bakso dan beberapa tetes essential oil untuk 2 liter air. Kali ini, saya pakai tea tree.

Kemudian, saya mandi, atau sekedar cuci muka, hehehe. Berganti pakaian, memakai lensa kontak. Mata saya -1,50, dan sepertinya bertambah. Karena itu, lensa kontak sangat penting untuk kenyamanan beraktivitas sehari-hari, apalagi saya tidak betah pakai kacamata. Lalu mengaplikasikan pelembab wajah dan tubuh, Face Balm dan Skin Butter Kippabuw, bikinan saya sendiri.

Kopi saya pasti sudah dripping sempurna, dan temperaturnya sudah agak turun. Madu akan rusak jika dilarutkan di air panas. Lalu saya akan menenteng cangkir kopi ke teras rumah kontrakan kami di sub urban Tangerang ini, dan mulai menikmati suasana pagi yang tenang, sembari mainan ponsel. Mengecek dan membalas email, pesan whatsapp atau BBM, juga komentar-komentar di Instagram atau Facebook. Jika waktu masih sangat pagi, saya bahkan sempat menulis blog, memperbarui website Kippabuw atau Tealovero, juga menulis novel, di laptop. Tentunya, dengan playlist musik mengalir melalui headset Philips kesayangan.

Ritual pagi hari itu akan diinterupsi oleh Bebi Vendra, yang muncul dengan rambut berantakan dan mata belekan. Sembari Bebi Vendra mandi, saya menyiapkan pakaian yang akan dipakai bocah 5,5 tahun itu ke sekolah hari ini. Lalu, sambil Bebi Vendra berpakaian, saya menyiapkan sarapan untuknya. Kami tidak terbiasa makan berat di pagi hari. Jadi, Bebi Vendra biasanya minta semangkuk sereal sarapan Milo dengan susu segar. Kadang, selembar roti gandum dengan olesan selai kacang. Atau, ia hanya minta secangkir Milo hangat.

Sebulan sekali, ada kegiatan berenang, di sekolah Bebi Vendra. Kolamnya ada di sekolah, jadi kegiatan tersebut terintegrasi dengan kegiatan sekolah harian. Celana renang, handuk, sabun cair Kippabuw, Eucalyptus essential oil, tabir surya buatan sendiri, juga kantong plastik untuk pakaian basah, sudah saya siapkan sejak semalam, di dalam tas sekolah Bebi Vendra.

Sekitar jam 7, kami sudah meluncur menuju ke sekolah Bebi Vendra, yang berjarak 15-20 menit berkendara santai dari rumah. Saya mengantarnya sampai lobi, dan menyerahkannya kepada guru piket yang menyambut kedatangan murid-murid. Tak lupa, saya mengisi daftar absen pengantar.

Di hari-hari biasa, setelah mengantar Bebi Vendra, saya kembali pulang untuk beberes rumah atau bikin sabun, lalu menjemputnya lagi. Karena hari ini ada kegiatan berenang, kebanyakan orang tua tinggal di sekolah, untuk memandikan dan menggantikan baju anaknya masing-masing.

Saya bukan ibu yang doyan ngerumpi dengan sesama ibu. Tapi, saya orang yang cukup ramah (ditambah, nyeleneh, dengan rambut pirang dan sering berganti warna, juga tak jarang berpenampilan tomboy). Jadi, banyak orang tua murid di sekolah, yang tahu kalau saya adalah ‘Mama Bebi’. Plus, kebetulan, saya terpilih sebagai anggota komite sekolah juga. Posisi yang tidak terlalu penting, yaitu koodinator kelas, tapi cukup membuat saya harus cukup banyak berinteraksi dengan orang tua murid lainnya.

Pulang sekolah, kadang-kadang Bebi Vendra minta ke mall, seringnya minta langsung pulang untuk menghabiskan waktunya bersama mainan-mainannya. Kalau ke mall, Bebi Vendra mengganti pakaian seragam sekolahnya di dalam mobil. Jadi, ia tidak berkeliaran memakai seragam sekolah. Dan saya memang selalu sedia pakaian ganti Bebi Vendra di mobil.

Di mall, kami makan, atau nongkrong di coffee shop atau menikmati sajian pencuci mulut di food court, sambil berbagi cerita atau sibuk selfie berdua. Kalau sedang ada film yang menarik, kami nonton di bioskop.

Sekitar jam 3 atau 4 sore, kami sudah sampai di rumah. Bergantian mandi sore, lalu Bebi Vendra nonton beberapa film anak di televisi sampai magrib. Sedangkan saya sendiri menghadap laptop, untuk merekap pesanan-pesanan Kippabuw dan Tealovero yang masuk. Senin dan Kamis adalah jadwal pengiriman. Saya juga mulai menyiapkan beberapa produk yang harus dibuat fresh ketika ada pesanan, seperti Skin Butter, Body Oil, Cleansing Oil, Hair Oil, Body Mist, atau Toilet Seat Spray.

Saya hampir tidak pernah masak. Kami hanya tinggal bertiga di rumah ini. Tiga orang dengan pola makan sedikit-sedikit namun sering. Masak sendiri, seringnya berakhir dengan membuang makanan yang tersisa. Jadi, kami lebih sering beli makanan jadi, dalam porsi sekali makan habis. Lagipula, ada layanan Go-Jek, yang bisa diandalkan untuk mengantarkan makanan yang kami inginkan. Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya bisa mengerjakan hal lain di rumah, sebagai ganti waktu yang terbuang percuma untuk adegan bermacet-macetan, bahkan untuk ke tempat makan yang hanya berjarak 2 kilometer dari rumah. Tapi, saya membuka aplikasi Go-Jek hanya jika ketika kami ingin makan yang fancy. Di dekat rumah ada banyak penjual makanan. Mulai dari nasi goreng, mi goreng, sate Madura, sate Padang, soto, pecel lele, sampai martabak.

Saya juga menyediakan simpanan mi instan Korea, telur ayam, kentang beku, tahu Bandung, jamur kancing dan daging asap, di rumah. Saat sedang bosan dengan makanan di luaran, saya akan berimprovisasi, dengan apa yang tersedia di rumah.

Bebi Vendra belum begitu paham urutan hari dalam seminggu, belum paham tanggal, namun sudah paham siklus kegiatan seminggu. Kalau besok masih harus sekolah, jam 9 malam, ia sudah membereskan mainannya, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, gosok gigi, dan naik ke tempat tidur. Saya menemaninya sampai ia tertidur. Kadang, karena asyik mengobrol, kami malah tidak jadi langsung tidur.

Setelah Bebi Vendra tidur, saya akan kembali menghadap laptop (menjawab email, menulis blog, menulis novel, browsing, streaming Youtube, atau nonton film), atau bikin sabun atau bereksperimen dengan produk perawatan tubuh, atau mencuci pakaian, atau mencuci perlengkapan makan minum yang kotor (jika ada), atau nyicil membungkus pesanan yang akan dikirim, atau menyetrika pakaian. Kadang-kadang, saya ikutan terlelap bersama Bebi Vendra juga sih.

Tidak ada jadwal pasti, jam berapa saya tidur. Kalau merasa lelah, tentu saya akan tidur, sebanyak apapun pekerjaan yang masih menunggu untuk diselesaikan. Saya belajar untuk mengatur waktu, di mana 24 jam dalam sehari terasa kurang untuk melakukan semua pekerjaan mama, istri dan pembuat sabun. Seringnya, saya harus multitasking dan jadi gurita, dengan 2 tangan anugerah Tuhan ini. Tapi, saya juga belajar untuk menerima bahwa tidak semua dapat dan harus dikerjakan sendiri. Dari situ juga, saya jadi belajar prioritas.

Terima kasih, sudah mengikuti kegiatan saya seharian. Sekarang, saya mau ganti daster, membersihkan wajah dengan Cleansing Oil dan Active Charcoal Soap-nya Kippabuw. Pakai Face Balm lagi, lip balm bikinan alumni Kippabuw Soap Class, dan Skin Butter Kippabuw, lalu menyelinap ke balik selimut kesayangan. Good night!

Ikkudo Ichi, Flavor Bliss

Kemarin, kami sedang berkeliaran di seputar Alam Sutera. Habis dari Ikea, untuk belanja beberapa kado Natal, lalu mulai merasa lapar. Menengok situasi di restoran Ikea yang antrinya panjang banget, saya jadi gentar. Lalu, terbersit ide untuk makan ramen di Marutama, Living World. sampai di Living World, ternyata Marutama sedang renovasi atau apalah. Tutup.

Belum kehabisan ide, saya memutuskan untuk menyeberang ke Flavor Bliss dan makan di Ikkudo Ichi. Saya memesan Yaki Gyoza dan Ramen.

Kuah ramennya tidak sepekat Marutama atau Sanpachi, tapi lumayan. Gyozanya sangat berminyak, namun ladanya tidak sekuat Sanpachi punya. Total tagihan kami waktu itu 103.200 rupiah. Ingin mencoba chahan, sayangnya kehabisan.

Bebi Vendra: Wisata Edukasi Semester I 2015

Hari Selasa, 8 Desember 2015 lalu, Bebi Vendra bersama teman-teman sekolahnya mengikuti kegiatan wosata edukasi semester pertama di Pelita Desa, Ciseeng, Kabupaten Bogor. Kami berangkat dari sekolah, dengan 3 bis besar dan satu bis kecil. Hampir setiap anak didampingi, oleh mamanya, atau oleh papanya.

Tiba di lokasi, kami disambut welcome drink teh hangat super manis dan sepotong jagung rebus. Lalu, kami mulai berkegiatan seru bergaya outbound. Menyeberangi jembatan goyang, jembatan tali, naik kerbau pembajak sawah, menanam padi, menumbuk padi, memerah sapi, naik rakit, meluncur dengan flying fox, lomba tarik tambang, main air, menangkap ikan di kolam. Di tengah-tengah kegiatan, kami dapat snack semangkuk bakso komplit. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami makan siang bersama.

Sekitar jam 3 sore, kami sudah meluncur kembali ke sekolah lagi. Jalanannya rusak parah di beberapa titik. Lelah, tapi kami merasa senang. Dan saya sendiri takjub, anak-anak kota, yang biasanya takut kotor, semuanya bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di sana. Sayangnya, saya tidak bawa kamera. Foto-foto di atas saya ambil dari grup kelompok kelas. Wisata selanjutnya, mungkin saya ingin menempelkan action camera di dada Bebi Vendra, hihihi.

Ulasan Film: Dino yang Baik

Seminggu yang lalu, saya dan Bebi Vendra menonton film Dino yang Baik di XXI CBD, Ciledug, Tangerang. Waktu itu, kami spontan saja ingin nonton. Ketika mengecek jadwal pemutaran film melalui website 21cineplex.com, ternyata film The Good Dinosaur, yang sudah beberapa bulan kami tunggu-tunggu, sudah mulai diputar di bioskop.

Lucunya, ada judul versi bahasa Indonesia-nya juga. Dan yang akan diputar dalam waktu yang dekat dengan rencana kedatangan kami di CBD Ciledug adalah versi bahasa Indonesia. Kupikir, Bebi Vendra akan lebih mudah memahaminya.

Ternyata, banyak juga yang menonton bersama kami, waktu itu. Tentunya, kebanyakan anak-anak. Dan, memang, waktu itu adalah Sabtu sore.

Animasinya halus, lengkap dengan pemandangan alam yang cantik. Kisahnya seru dan penuh pelajaran. Emosi penonton diaduk-aduk oleh berbagai adegan lucu, mengharukan, kemudian konyol lagi, lalu menakutkan, membuat sedih, dan tertawa lagi. Tapi, yah, sudah bisa dipastikan bahwa akhirnya bahagia.

Dan kemarin, saya menonton versi aslinya, The Good Dinosaur, dalam bahasa Inggris. Jika dibandingkan, suara tokohnya hampir sama, hanya beda bahasa yang diucapkan. Jadi, tidak perlu meragukan film Dino yang Baik. Atau khawatir sulih suaranya akan terdengar menggelikan seperti banyak sulih suara yang dibuat asal-asalan di televisi.

Saya sendiri merasa cukup bangga, akhirnya Indonesia mulai menyulih suara film asing. Memang, dalam bahasa aslinya, terutama film dalam bahasa Inggris, akan lebih dapat pesan dan emosi yang ingin disampaikan. Tapi, melihat film-film Hollywood banyak disulih suara ke bahasa lokal, di Amerika Latin, atau negara-negara berbahasa khusus di Eropa, saya jadi merasa kita punya kebanggaan yang sama dengan bahasa ibu sendiri.