Ulasan Film & Buku: The Martian

Sudah hampir dua bulan, sejak pertama kali kami nonton film The Martian di XXI Puri Indah Mall. Dan sampai sekarang, kami masih menonton ulang filmnya. Saya sendiri sedang mendengarkan audiobooknya, untuk yang ketiga kalinya. Karena itu, saya akan mengulas film dan buku fiksi ilmiah tersebut.

Saya tidak tahu ada buku hasil karya Andy Weir, sampai saya menonton film hasil karya Ridley Scott tersebut. Dan, tadinya, saya tertarik untuk nonton gara-gara Matt Damon. Salah satu Matt keren, dari dua Matt keren dalam kamus pribadi saya: Matt Heafy & Matt Damon.

Filmnya berdurasi dua jam lebih. Meskipun berjenis fiksi ilmiah, film ini cukup mudah dicerna, bahkan oleh si bocah 5 tahun, Bebi Vendra. Beliaulah yang minta menonton film ini lagi dan lagi. Mungkin, ia suka memanjakan matanya dengan pemandangan menakjubkan kehidupan angkasa luar. Dan astronot, mungkin tampak keren baginya.

Sang sutradara berhasil memvisualisasikan buku ini dengan cantik. Pemandangan alam di planet Mars, adegan-adegan menegangkan tentang cara bertahan hidup, kostum-kostum keren, juga peralatan canggih. Bahkan, film tentang keadaan genting pun bisa dibawakan dengan lucu.

Satu yang menarik perhatian saya, di film ini banyak barang-barang Ikea. Hehehe. Mulai dari rak di bawah monitor pada log entry pertama, kotal plastik stok makanan, lampu, hingga boneka yang ditunjukkan Martinez pada saat video chat dengan anak dan istrinya.

Dan yang jelas, film ini memberikan pelajaran penting untuk lebih mencintai bumi. Tidak ada tempat yang lebih nyaman untuk hidup manusia, selain bumi.

Setelah menonton film ini, saya mulai menemukan ulasan-ulasan di Youtube. Banyak yang menyebutkan bahwa kisah ini mengedepankan aspek ilmu pengetahuan. Saya jadi penasaran sama bukunya.

Saya pun mulai mendengarkan audiobooknya. Kisahnya lebih njelimet daripada filmnya. Banyak perhitungan yang dilakukan secara detail. Mulai dari menghitung berapa hari tepatnya, Mark Watney harus bertahan hidup, sampai pertolongan datang. Menghitung kalori yang diperlukan selama menunggu pertolongan datang, hingga dibagi kebutuhan kalori per hari. Menghitung daya listrik yang diperlukan untuk mendukungnya tetap hidup. Hingga perhitungan daya secara detail dari gula pasir untuk bisa meledak. Dan, tetap saja, buku ini lucu. Kebayang kan, saya ketawa sendiri, dengan headset menempel menutupi kedua telinga?

Kesimpulannya, film The Martian ini adalah film favorit saya di tahun 2015 ini. Beberapa bagian dari buku diubah di film, kadang membuatnya tampak kurang konsisten atau kurang nyambung, karena perubahan tersebut. Bahkan, bagian akhir di film berbeda dengan buku. Mungkin, demi menonjolkan peran Jessica Chastain. Bukunya pun, meskipun njelimet tapi tetap menggoda untuk dinikmati berulang-ulang.

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s