Mencicipi @KodingJkt

Aku sedang suka banget cold brew coffee, kopi seduhan dingin. Setelah beberapa lama menikmati hasil seduhan sendiri, aku mulai tertarik untuk mencoba rasanya diseduhkan orang lain.

Ternyata, banyak yang menawarkan kopi seduhan dingin siap minum. Satu yang menarik perhatianku adalah Koding. Pemilihan namanya sederhana, menarik, namun dapat mewakili produk yang ditawarkan tersebut.

aku pun menghubungi sang pedagang melalui whatsapp, kemudian janjian untuk ketemuan langsung untuk pengantaran produk. Aku sadar, produk minuman segar dalam kemasan botol kaca memang sangat beresiko jika dipercayakan kepada jasa ekspedisi, yang sebenarnya tidak bisa dipercaya. Sabun Kippabuw saja bisa hancur, ketika sampai di tangan pemesan.

Aku memesan 2 botol kopi hitam dan satu botol latte. Semuanya tanpa pemanis. Aku ingin mencicipi rasa kopi aslinya, tanpa diganggu pemanis, apalagi gula.

Latte-nya terasa lembut namun kuat di indera pengecapku. Susunya terasa krimi, namun tidak mendominasi dan kopinya tetap terasa kuat. Tanpa tambahan pemanis pun sudah cukup memanjakan lidahku. Rasa seperti inilah yang membuatku kesulitan melepaskan diri sepenuhnya dari produk susu sapi.

Kopi hitamnya, pas dengan yang kuinginkan. Terasa kuat, namun bukan pahit yang tidak menyenangkan, dan ada semburat rasa asam. Dinikmati dengan sedikit madu, kopi hitam Kintamani ini langsung jadi sahabatku menikmati waktu santai.

Harga per botolnya 20.000, ongkos pengantaran gratis, tapi diantar langsung alias COD (cash on Delivery). Harga yang sangat mengejutkan untuk tanggapan ramah dari sang pedagang, juga produk yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Advertisements

Cronut

Cronut, croissant donut, alias donat dari bahan bukan roti melainkan bahan croissant. Ini membuatnya terasa lebih ringan dan bisa dibuat lebih renyah. Ini dia, beberapa cronut yang pernah kucicipi.

Bread Life

Cronut hasil karya gerai roti bergaya Jepang ini dinamai Crocanut. Tersedia 3 pilihan varian cronut versi Bread Life. Yang Original dihargai 12.500 rupiah per buah, yang lainnya dihargai 13.500 rupiah.

J.Co

Gerai kopi dan donat milik anak bangsa Indonesia ini juga menyediakan cronut di gerai-gerai tertentu. Tersedia 6 pilihan varian; Why Nut, Chocolava, Cinnamon Kiss, Cheese & Cheers, Choco Forest, dan Tira Miss U. Secara keseluruhan, semuanya terlalu manis untuk lidahku (juga gigiku). Tapi satu yang menjadi favoritku adalaha Chocolava. Karena rasanya paling lumayan, dibanding kelima varian lainnya. Manisnya masih bisa kutahan dan kaya akan coklat.

Secara tekstur, cronut hasil karya J.co ini renyah dan garing. Ukurannya cukup-tidak terlalu kecil namun juga tidak besar. Juga wangi. Harga per buahnya 16.000 rupiah.

Dunkin’ Donuts

Gerai donat ini juga punya cronut. Dinamai Cronut Tips, harganya aku lupa. Yang kuingat, cronut bikinan Dunkin’ Donuts ini terlalu manis.

Makan siang di Dadu Seafood

Beberapa hari lalu, aku dan Bebi Vendra makan siang di Dadu Seafood. Terakhir kali makan di restoran yang terletak di kawasan CBD Ciledug ini ketika sedang hamil, bersama seorang teman lama. Setelah hampir 5 tahun, restoran ini jadi tampak sepi, tidak hidup dan kurang menarik. Tapi aku ngeyel makan di sana.

Aku memesan cumi goreng tepung dan sapo tahu seafood. Cumi goreng tepungnya lumayan. Sayangnya, sapo tahu seafood nya terlalu pedas. Dapat ide darimana pula, sapo tahu seafood dimasak pedas?

Kesimpulannya, meskipun sudah masuk ke area restoran, kalau perasaan nggak enak, jangan dilanjutkan. Atau akan kecewa. Jadinya, makan nggak berkah, nambah dosa pula maki-maki anak orang.

Ottogi Cheese Ramen (보들보들치즈라면)

Beberapa hari lalu, ketika jalan-jalan di Hero Supermarket, Living World, Tangerang Selatan, aku tertarik pada beberapa mi instan. Salah satu yang kucoba adalah Ottogi Cheese Ramen.

Karena aku sedang sensitif terhadap makanan pedas, bukan masalah di perut tapi ketika makan sedikit pedas saja, hidungku langsung meler nggak keruan, aku memilih-milih mi instan bergaya Korea yang tidak pedas. Jadilah, aku memasukkan mi instan yang satu ini ke keranjang belanjaku.

Ini video iklan produk ini, yang kutemukan di Youtube.

Rasanya lucu. Tidak biasa, tapi bikin ketagihan. Rasa kejunya mirip bumbu makanan ringan kemasan. Mi-nya sendiri kenyal, seperti mi instan Korea pada umumnya. Yang pasti, bebi Vendra pun bisa ikut menikmati mi instan ini.

Ban Baru CiKA

Setelah ban depan kiri benjol, di bulan November 2014 lalu, kemudian si ban serep akhirnya turun, di awal Maret 2015 ini, ban kanan depan pun ikutan benjol. Yah, namanya juga ban standar bawaan pabrik. Tentunya dipasangkan ban yang semurah mungkin dan kualitasnya kurang bisa bertahan, terlebih di kondisi jalanan yang nggak keruan setelah serangan hujan yang mengakibatkan lubang-lubang besar dan dalam di banyak ruas jalan. Belum lagi marka kejut yang cukup mengganggu (meskipun aku selalu berusahan memelankan laju kendaraan ketika ketemu marka kejut)juga ruas jalan yang ambles. Lengkaplah penderitaan CiKA.

Tapi sebenarnya lumayan juga, CiKA akhirnya ganti ban setelah 2 tahun lebih.

Kata toko ban rekomendasi bengkel resmi Suzuki, ban dengan ukuran tersebut sudah tidak dijual lagi. Entah betulan, atau akal-akalan supaya aku membeli minimal 2 ban. Ya sudah, jadinya aku beli 2 ban dengan ukuran lebar lebih besar merk GT Champiro. Sekarang, aku mau meluncur lagi di tol Jakarta-Tangerang. Bye!

Nonton Shaun the Sheep the Movie

Ceritanya, beberapa minggu lalu, aku dan Bebi Vendra merasa bosan dan kehabisan ide untuk menikmati waktu berdua. Aku pun iseng mengecek film yang sedang tayang di bioskop. Ternyata, Shaun the Sheep the Movie sedang main. Kami pun langsung meluncur ke XXI Alam Sutera.

Karena masih dalam masa promosi Mandiri e-cash, aku membali tiket dengan memanfaatkan diskon 50% tersebut. Lumayan banget kan, bayar 1 tiket untuk nonton berdua.

Di antara para penonton waktu itu, banyak anak-anak kecil, kisaran balita hingga di bawah 10 tahun. Hampir semua ketawa ngakak sejak film dimulai. Aku sendiri merasa film ini kurang lucu, untuk ketawa sampai ngakak begitu. Tapi, yang kita tahu, Shaun the Sheep di televisi memang lucu, kan?

Sekitar 20 menit film berjalan, Bebi Vendra mendadak minta duduk dipangku. Dan tangisnya pun meledak.

Aku langsung mengajaknya keluar dari ruangan teater. Bingung, sekaligus geli. Memang, film tersebut nggak lucu, tapi nggak sedih juga. Tapi mungkin Bebi Vendra punya penafsiran lain. Kami pun melanjutkan hari ke mall yang lain.

Tahu Telur Bikinan Rumahan

Kemarin, aku menyiapkan Tahu Telur sebagai menu sarapan kami sekeluarga. Praktis, mudah, namun cukup lengkap untuk mengisi energi dan memulai hari.

Bahan-bahannya:
2 butir telur ayam, kocok
3 buah tahu (boleh tahu putih, boleh tahu kuning, bebaskan sesuai selera masing-masing), potong dadu
sejumput garam
sejumput lada putih bubuk
segenggam taoge, rebus semenit, kemudian tiriskan
bumbu pecel siap pakai

Cara membuatnya:
1. Campurkan telur ayam dan tahu.
2. Panaskan penggorengan dengan minyak goreng secukupnya.
3. Buat dadar tahu telur. Setelah diangkat dari penggorengan, tiriskan jika ada sisa minyak goreng.
4. Untuk penyajiannya, tata dadar tahu telur, kemudian taoge rebus, siram dengan bumbu pecel. Sajikan langsung, atau bisa juga dinikmati dengan nasi.

Selamat mencoba.

Makan Malam di Food Theatre, Flavor Bliss

Beberapa hari yang lalu, aku dan Bebi Vendra makan malam di Food Theatre, Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan. Setelah memandangi daftar menu untuk beberapa lama, ternyata makanan dan minuman yang disediakan kurang menarik. Atau, mungkin, waktu itu aku sedang tidak terlalu lapar?

Akhirnya, karena ingin ‘main aman’, aku memilih Fetuccine Smoked Beef. Kalau biasanya aku mendapatkan pasta yang terlalu lembek, akhirnya, di sini aku mendapatkan pasta yang aldente. Saus krimnya cukup imbang, antara rasa krimi dan gurihnya. Bebi Vendra pun menyukainya.

Setelah makan, aku memesan Berry Panacota. Puding panacota dengan siraman saus stroberi. Pudingnya agak terlalu padat, tapi manis dan rasa kriminya seimbang. Sausnya cukup mempermainkanku dengan paduan kecut dan manis yang seru.

Total tagihanku 70.000 rupiah. Karena pilihan menunya terbatas pada menu-menu yang kurang kusukai, jadi mungkin aku kurang tertarik untuk makan di sana lagi.

One of My Favorite Cold Brew Coffee Recipe

Belakangan ini, cold brew coffee sedang jadi favoritku. Biji kopi giling yang diseduh dengan air dingin, bukan dengan air panas, apalagi mendidih. Katanya sih, biji kopi giling yang diseduh dengan cara seperti ini akan mengurangi kadar asam kopi yang kita sruput. Namun, karena waktu penyeduhannya lama, kadar kafeinnya cukup tinggi. Pernyataan yang terakhir ini cukup membuatku bingung, sebenarnya. Karena, kafein bereaksi dengan air panas. Logikaku bilang, kalau diseduh dengan air dingin, harusnya kafein tidak jadi lebih tinggi.

Entahlah. Yang jelas, aku suka rasa kopi seduhan dengan cara ini. Terasa lebih halus, dan menyegarkan.

Yang perlu disiapkan hanya sebuah botol kaca, biji kopi giling (tentunya), air dengan temperatur ruangan. Aku suka menambahkan beberapa potong kecil batang vanila, juga sejumput bubuk kayu manis.

Excelso Classic sedang jadi pilihanku, beberapa minggu belakangan ini. Karakternya asam dan halus. Aku menggunakan 1 bagian kopi dengan 3 bagian air. Tambahkan batang vanila dan bubuk kayu manis, jika suka, kemudian simpan di dalam kulkas selama sekurangnya 12 jam.

Saring menggunakan saringan kain, dan tempatkan di dalam botol kaca. Nikmati dengan sedikit madu, untuk rasa manis.