Red Velvet

Beberapa tahun belakangan ini, Red Velvet Cake menjadi semakin populer. aku juga salah satu penggemar kue berwarna merah yang berlapis-lapis dengan krim di setiap lapisannya ini.

Berikut beberapa Red Velvet Cake yang pernah mampir di indera pengecapku.

Starbucks Coffee

Red Velvet Cake yang dijual di Starbucks Coffee berbentuk seperti bolu gulung, dengan lapisan kacang tanah tumbuk dan gula di bagian pinggirnya. Bolunya sendiri lembut, empuk, tidak bikin seret, tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu terasa pahit dari pewarna merahnya. Dengan harga 37.000 rupiah per potong, kue ini cocok jadi hadiah bagi diri sendiri di momen-momen tertentu.

BreadTalk

Gerai roti dan bolu ini cukup baik hati soal Red Velvet Cake. Ketika yang lain menjual potongan mungil, tapi BreadTalk menawarkan Red Velvet Cake dengan porsi potongan besar. Dengan harga 25.000 rupiah per potong, aku perlu 2 sesi untuk menghabiskannya. Rasa dan teksturnya mirip dengan punya Starbucks Coffee, tapi kadang aku merasakan semburat pahit, yang mungkin berasal dari pewarna merahnya.

Island Creamery

Salah satu gerai di Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan, ini sedang ada promo gratis teh atau kopi, untuk setiap pembelian kue. Kebetulan. Jadi aku mencoba Red Velvet nya. Ternyata, rasanya kemanisan, dan teksturnya terlalu kering alias bikin seret. Harganya 26.000 rupiah, tentu nggak sebanding dengan menu yang mereka sajikan itu.

Bread Life

Gerai roti bergaya Jepang ini menjual sepotong Red Velvet Cake-nya di harga 25.000 rupiah, namun ukurannya bisa dibilang setengahnya BreadTalk punya. Rasanya pun agak kemanisan buatku. Teksturnya agak lebih lembut dan empuk dibandingkan punya BreadTalk dan Starbucks Coffee.

Wall’s Cornetto Red Velvet

Yang ini sebenarnya bukan cake, tapi Red Velvet juga. Es krim cone dengan rasa red velvet cake yang halus, tidak terlalu manis namun krimi banget. Coklat putih tebalnya yang cukup mengganggu gigi karena manis banget.

Dan… Berikut beberapa red velvet cake yang pernah kucicipi beberapa waktu lalu:

Chez Moi, Yogyakarta

Review lengkapnya bisa dibaca di sini.

The Belly Clan, Jakarta

Silakan baca review lengkapnya di sini.

Advertisements

Rabu Abu 2015

Tak terasa, sudah Rabu Abu lagi. Tahun 2015 ini, Rabu Abu jatuh pada tanggal 18 Februari. Kebetulan, aku diberi kesempatan untuk beribadah di GKI Kebayoran Baru lagi. Persis seperti tahun lalu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku berpuasa tidak makan daging. Dua tahun belakangan, aku masih makan ikan dan hewan-hewan air lainnya. Juga, telur dan produk susu.

Selain itu, aku berusaha mengurangi pemakaian gadget. Memang tidak mungkin kupantangi sepenuhnya, karena itu adalah pekerjaanku.

Aku juga berusaha mengendalikan mulut ini dari mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak mudah, tentu. Baru pulang dari ibadah saja sudah banyak hal yang memancingku mengobral sumpah serapah.

Selamat memperingati Rabu Abu, menghayati masa sengsara, dan menyambut peringatan Paskah.

Makan Malam di Old Town White Coffee

Beberapa hari lalu, aku dan Bebi Vendra menghabiskan waktu di Living World, Alam sutera, Tangerang Selatan. Lewat senja, kami mulai kelaparan. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan malam di Old Town White Coffee.

Aku penasaran sama Nasi Lemak dengan Ayam Goreng bikinan kafe bergaya Melayu ini. Dari daftar minuman, aku memilih Es Coklat.

Nasi Lemak yang diantarkan ke meja kami tampak meriah. Namun, ternyata rasanya kurang ‘menjiwai’ nasi lemak yang biasa kutemui di Malaysia. Es Coklatnya pun agak terlalu manis, tapi bisa diimbangi oleh rasa coklat yang cukup kuat.

Dengan total tagihan sebesar 89.000 rupiah, tentu aku merasa rugi. Karena nasi lemaknya tidak seperti harapanku. Kalau boleh membandingkan, masih mendingan nasi lemak bikinan Kopi Tiam. Yang ternyata, belum sempat kuposkan di blog ini. Segera ya!

Excelso Classic

Belakangan ini, aku lagi gemar menikmati kopi hitam dengan madu. Setelah persediaan kopi Bali di rumah habis, aku belanja persediaan kopi lagi. Kali ini, aku beli Excelso Classic di Loka, Flavor Bliss, Tangerang Selatan.

Ogah repot, aku memilih kopi bubuk Excelso Classic kemasan 200 gram, seharga 33.500 rupiah per bungkus. Kalau biasanya sudah familiar dengan Excelso House Blend, aku tertarik mencoba si Classic ini karena di chart kopi Excelso Body nya di level 1 dan Acidity nya di level 4,5.

Seperti yang sudah kubayangkan dari chart kopi tersebut, kopi ini rasanya ringan, halus, dan agak asam. Cocok dengan lidahku. Mungkin kopi ini memang didesain untuk kaum hawa, yang, kebanyakan, suka kopi yang terasa ringan dan halus.

Kadang, aku juga menyiapkan cold brew coffee di rumah. Kopi diseduh dengan air dingin, kemudian disimpan di lemari es selama semalaman. Cara ini dipercaya dapat mengurangi kadar asam kopi.

Chocolate Waffle di Haato Cafe

Kemarin, Bebi Vendra ingin nyemil. Lalu kami mencoba Chocolate Waffle di Haato Cafe, Mall @ Alam Sutera, Tangerang. Sebenarnya bisa pilih waffle saja, tanpa tambahan gelato. Tapi kami memilih tambahan satu skup gelato Dark Chocolate. Harga per porsinya jadi 49.000 rupiah.

Wafflenya empuk dan wangi, ditambah rasa gurih mentega yang melumer di bagian atas waffle. Berpadu dengan renyah chocolate chips di bagian tengah waffle dan manisnya siraman saus coklat di atasnya. Semuanya jadi lengkap dengan gelato Dark Chocolate yang kaya akan rasa coklat namun tetap krimi.

Sandal Biru

Beberapa minggu lalu, entah kenapa, Bebi Vendra tiba-tiba minta dibelikan sepatu Airwalk di Payless, Mall @ Alam Sutera. Ia sendiri yang memilih sepatu tersebut.

Mumpung di toko sepatu, aku juga jadi melihat-lihat sepatu. Siapa tahu ada yang bikin naksir. Sebenarnya, aku ingin beli sepatu kets, karena sepatu Converse kesayangan sudah tak keruan bentuknya. Tapi, karena ukuran kakiku termasuk ukuran ‘ajaib’, jadi pilihan sepatu untuk kakiku tak banyak yang menarik.

Tapi ada satu yang menarik perhatianku, sebuah sandal berwarna biru yang sederhana tapi cantik. Haknya rata pula, jadi nyaman untuk dipakai jalan-jalan atau berkegiatan sehari-hari. Mereknya Montego Bay Club, tipenya seperti namaku, Veronica. Memang, si pembuat sandal tahu benar kalau Veronica itu pas untuk menggambarkan kecantikan sederhana. Hehehe.

Ketika sampai di kasir, ternyata sandal tersebut diskon 50%. Jadinya, aku hanya membayar 143.500 rupiah. Senangnya!