Kolak Biji Salak Ubi Ungu

Kebetulan, ketika kami belanja buah dan sayur, ada ubi ungu organik. Bebi Vendra langsung minta dibuatkan Kolak Biji Salak, ketika melihat ubi ungu tersebut. Jadi, begitu sampai rumah, aku langsung mengupas, memotong-motong 2 buah ubi ungu (sekitar 200 gram) dan mengukusnya.

Karena hari sudah larut malam, pekerjaanku dilanjutkan besok paginya. Ubi sudah lunak, bisa kuhancurkan dengan tangan. Kemudian, kutambahkan 6 sendok makan tepung tapioka yang sudah dicampurkan dengan setengah sendok teh himalayan pink salt, sedikit vanila (bagian dalam batang vanila yang berwarna hitam) dan seperdelapan sendok teh kayu manis bubuk. Aku menguleni semuanya dengan tangan hingga tercampur rata.

Setelah itu, buat bulatan-bulatan sebesar kelereng, sembari mendidihkan 2 mug air. Jika air sudah mendidih, bulatan-bulatan tersebut dimasukkan ke dalam panci hingga mengambang.

Tambahkan 1 buah gula jawa (sekitar 50 gram, atau sesuai selera). Masak dengan api kecil hingga gula larut sambil sesekali diaduk. Pada akhirnya, masakan di panci akan seperti bubur kental. Matikan api, biarkan kolak biji salak dingin.

800px

Sajikan dengan siraman santan kelapa yang sudah dimasak sebentar dengan selembar daun pandan dan sejumput himalayan pink salt.

Selamat mencoba!

Jalan-jalan di Ikea Alam Sutera

Kunjungan pertama kami ke Ikea Alam Sutera adalah sekedar iseng. Waktu akan pulang, lewat tol Jakarta-Tangerang, kami belok dulu. Dan waktu itu aku memang cuma penasaran saja. Tidak membeli apapun.

Kunjungan kedua kami pun melanjutkan acara melihat-lihat sebenarnya. Aku pribadi memang suka melihat-lihat sembari mencari inspirasi. Dan, terus terang, barang-barang di Ikea tidak banyak yang merupakan kebutuhan kami, harganya pun belum terjangkau untuk kami.

Mengunjungi toko Ikea pertama di Indonesia ini memang sebaiknya di hari kerja dan jam kerja. Kalau berani mencobanya di akhir minggu atau hari libur, mungkin harus mencari tempat parkir sembari ngomel dulu.

Kalau sudah masuk ke toko Ikea, pengunjung jadi seperti harus mengikuti alur menelusuri seluruh bagian toko. Dimulai dari pajangan contoh ruang-ruang tamu atau ruang keluarga, beberapa simulasi rumah dengan luas terbatas, contoh kamar tidur, contoh ruang kerja, contoh ruang anak, contoh dapur, dan lantai 1 toko ini berujung pada restoran.

Kami mencoba Bola Daging dan Mixed Salad. Harga makanan dan minuman di sini cukup terjangkau. Bahkan kopi, teh dan minuman ringan bisa diisi ulang sepuasnya. Rasa makanannya pun lumayan. Dan pengunjung diajarkan untuk membersihkan meja sendiri, setelah makan.

Satu yang menarik perhatianku pada kunjungan pertama kami adalah pilihan selimut kecil namun cukup hangat dan harga terjangkau. Akhirnya, di kunjungan kedua ini aku membelinya satu. Selimut tersebut memang sengaja ingin kusimpan di mobil kami. Terutama untuk Bebi Vendra, ketika ia tertidur di mobil.

Mal Kupu-kupu

Karena ada logo kupu-kupu besar, Bebi Vendra menyebutnya Mal Kupu-kupu. Ia cukup sering mengajakku nongkrong di mal yang terletak di Alam Sutera, Tangerang, ini. Bisa 2 sampai 3 kali seminggu.

Ada beberapa alasan juga yang membuatku senang-senang saja diajak Bebi Vendra nongkrong di Mal @ Alam Sutera:
1. Parkir
Ketika pergi ke suatu tempat, urusan parkir adalah salah satu hal penting. Mal ini menyediakan lahan parkir yang luas. Jadi, dalam keadaan sangat ramai pun masih mungkin dapat tempat parkir. Ramp atau lintasannya pun tidak sesempit kebanyakan mal di Jakarta. Ditambah, tarif parkirnya yang manusiawi, yaitu maksimum 4.000 rupiah di hari Senin-Jumat dan maksimum 10.000 rupiah di hari Sabtu dan Minggu. Jadi, urusan parkir di mal ini tak membuatku stres.
2. Tenants
Bisa dibilang, tenants di mal ini “nggak aku banget”. Jadi, aku tidak akan tergoda untuk boros di mal ini. Namun, banyak tenants yang inspiratif. Seru untuk dilihat-lihat saja untuk mendatangkan ide.
3. Alfresco Dining
Mal ini menyediakan area makan atau ngopi di luar ruangan yang nyaman. Meskipun letaknya di luar ruangan, namun tidak terasa gerah. Kami jadi bisa nongkrong berlama-lama sembari menikmati kopi, ice blended atau kudapan dengan harga terjangkau. Tak jarang, Bebi Vendra mengajakku berlama-lama nongkrong di salah satu coffee shop di sini untuk sekedar main mobil-mobilan dan aku bisa sambil bekerja di laptop.
4. Lokasi
Mal ini berlokasi sekitar 10 kilometer dari tempat tinggal kami. Tapi, karena arahnya ke pinggiran dan bukan ke arah Jakarta, jadi lalu lintasnya lebih bersahabat. Ada beberapa jalur alternatif pula, baik lewat tol maupun jalan biasa. Memang, ada beberapa titik yang agak padat, namun nggak cukup bikin stres.

Kentjan di Nanny’s Pavillion

Gara-gara menemukan tempat bermain anak di luar ruangan yang seru dan ada bak pasirnya, Bebi Vendra jadi cukup sering mengajakku ke Summarecon Mal Serpong. Di mal ini juga banyak tempat makan.

Salah satu yang Bebi Vendra tertarik untuk mencobanya adalah Nanny’s Pavillion. Namun, karena waktu itu kami tidak terlalu lapar, jadi kami cuma memesan Nachos dan segelas coklat panas.

Ternyata yang datang adalah seporsi besar kripik jagung dengan daging giling pedas dan kacang merah, irisan jalapeno, serta dua macam keju. Cukup ngos-ngosan juga menghabiskannya. Dan perjuangan kami jadi semakin berat karena lama-lama pedasnya cukup membakar mulut.

Namun, secara keseluruhan, menu ini cukup membuatku terkesan. Karena disajikan dengan serius, tidak seperti sekedar kudapan siap saji yang biasa ditemui di bioskop atau convenient stores.

Ra-Mochi di Marutama Ra-Men

Kami cukup sering ke Living World, Tangerang Selatan. Selama ini cuma melewati saja gerai Marutama Ra-Men yang mungil nyempil di pojokan. Setelah segala pandangan sebelah mata itu, aku mencoba gerai bergaya Jepang tersebut.

Bingung. Bingung. Bingung. Akhirnya, aku mencoba paket Ra-Mochi. Isinya semangkuk Marutama Ramen (bisa pilih, mau dengan ayam atau babi), ocha (bisa diisi ulang, dan bisa pilih mau ocha panas atau ocha dingin), juga satu porsi Mochi Ice Cream (ada pilihan rasa teh hijau, ogura atau mangga). Harganya 85.000 rupiah sebelum pajak dan biaya pelayanan.

Pelayanannya ramah, para staf melayani kami dengan baik dan tanggap. Juga sabar, menghadapi kami yang bingung memilih menu, karena baru pertama kali datang.

Tempatnya pun ternyata nyaman, meskipun dari luar tampak sempit. Tapi di dalam, kami bisa menikmati suasana tenang sambil mengobrol santai.

Sebagai makanan pembuka, kami mencicipi Grilled Gyoza. Tersedia juga pilihan daging ayam atau babi. Jika terbiasa makan gyoza di Ramen 38 Sanpachi, yang ini jadi terasa terlalu basah dan kurang garing. Secara rasa pun agak sedikit anyep.

Marutama Ramen nya enak banget! Aku girang banget, akhirnya menemukan ramen yang enaknya seperti di Ramen 38 Sanpachi, tanpa perlu berjibaku dengan lalu lintas yang menyebalkan. Kuah kaldunya kental, gurih, tidak terlalu asin. Mi-nya tipis tapi tidak mudah lembek meskipun kami makan perlahan. Menu ini langsung masuk daftar makanan yang kusukai!

Ngomong-ngomong soal pelayanan, sang pramusaji pun menyediakan mangkuk plastik kecil, lengkap dengan sendok dan garpu plastik untuk Bebi Vendra. Tampaknya, ia juga menyukai ramen ini.

Setelah selesai makan, es krim mochi pun disajikan. Rasa es krim teh hijaunya kurang nendang. Didominasi manis dan kurang terasa teh hijaunya.

Secara keseluruhan, aku menikmati pengalaman makan di gerai ini. Mungkin aku akan kembali lagi, terutama karena rasa ramennya yang membuatku terkesan.