Brunch di Kopitiam

Ada berbagai bendera kopi tiam di Indonesia. Dari yang bergaya sederhana sampai yang bergaya mewah. Tapi menurutku sih kopi tiam pantasnya yang bergaya santai dan intim. Kedai kopi, di mana pengunjungnya bisa menikmati menu pesanannya dengan suasana santai.

Kali ini, aku dan Bebi Vendra menikmati brunch di Kopitiam, Living World, Tangerang Selatan. Waktu itu memang sudah hampir waktu makan siang, namun perut belum merasa terlalu lapar.

Minumannya, aku memilih Kopi C, alias kopi dengan susu. Namun aku minta susunya dipisah, supaya aku bisa menentukan sendiri tingkat rasa manis yang sesuai lidahku. Kopinya enak. Kuat namun tidak didominasi rasa pahit yang tidak menyenangkan. Hanya ditambah 2 sendok teh susu kental manis pun sudah cukup.

Untuk mengganjal perut, aku memesan Traditional Kaya Set. Roti panggang dengan selai kaya dan mentega, disajikan dengan telur rebus dan kentang goreng. Aku suka perpaduan manis gurih pada roti panggangnya. Bebi Vendra pun lahap menikmati telur rebusnya.

Tapi aku lupa berapa tagihan kami. Yang kuingat, nilainya lumayan untuk menu sederhana seperti ini.

Advertisements

Gara-gara Ibu Menteri

Setelah pengumuman anggota Kabinet Kerja, beberapa hari lalu, ada satu berita yang diulang-ulang terus di televisi dan akhirnya menarik perhatianku. Ya, Ibu Susi, yang tidak tamat SMA.

Aku pernah mendengar dan membaca beberapa berita tentang beliau. Dan semua berita tentang Ibu Susi ini pun positif. Aku salut sama beliau. Apalagi sampai terpilih untuk ikut andil dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, semakin menguatkan semua berita positif tersebut kalau beliau memang hebat.

Yang menggelitikku adalah, tingkat pendidikan Ibu Susi yang tidak tamat SMA. Dan berita tentang itu diulang-ulang terus di televisi. Bahkan media sosial.

Aku jadi ketawa sendiri. Dan terpikir tentang perusahaan-perusahaan yang memasang kriteria “Bachelor degree from reputable university” dalam iklan lowongan kerjanya.

Aku sendiri pernah merasakan pahitnya diinjak-injak di dunia kerja, gara-gara pola pikir gelar sarjana tersebut. Perusahaan beralasan tingkat pendidikanku tak pantas lah untuk nilai gaji tertentu, atau sang Manajer SDM menuntutku untuk segera menyelesaikan kuliah S1-ku lah.

Dan, sejujurnya kuakui, bahwa aku sempat kuliah hanya untuk memuaskan hasrat para petinggi manajemen soal gelar sarjana tersebut. Setelah kupikir-pikir lagi, aku punya pengalaman dan prestasi pekerjaan yang baik, kalau aku tambah dengan gelar sarjana, apakah mereka mampu membayar gajiku?

Penunjukan Ibu Susi untuk masuk ke barisan kabinet seperti memberi pembenaran bagiku. Untuk kinerja yang hebat, nggak harus sarjana dulu. Tapi kemampuan pribadi yang harus terus diasah.

Well, saat ini, aku sedang nggak ingin melamar pekerjaan pula. Setelah beberapa perusahaan nyalinya ciut gara-gara nilai gaji yang kuminta. Dan aku sudah nyaman dengan Kippabuw.

Kenapa Pada Suka Blackball?

Sudah lama sih, Blackball jadi bahan postingan para pengguna media sosial Indonesia. Namun, aku baru sempat mencobanya sebulan lalu. Dan baru sempat menulisnya sekarang.

Karena nggak tahu harus coba yang mana, aku minta rekomendasi kepada si Mbak Kasir yang melayaniku. Beliau menyarankan Blackball Signature with Green Tea Ice Cream. Entah karena memang menu tersebut patut direkomendasikan, atau karena menu tersebut paling mahal. Aku sendiri lupa, berapa tepatnya, harganya. Sekilas aku ingat, tidak jauh dari 50.000 rupiah. Berlebihan juga untuk satu porsi pencuci mulut. Apalagi kalau ternyata rasanya nggak enak.

Dan benar! Aku menyesal. Rasanya nggak seenak yang dibilang orang-orang di media sosial. Terlalu manis, meskipun aku sudah minta supaya jangan terlalu manis.

Lalu kenapa gerai Blackball selalu ramai dan postingan orang selalu heboh?

Bebi Vendra Potong Rambut

Setelah berbulan-bulan tampil dengan rambut gondrongnya, akhirnya Bebi Vendra mau potong rambut. Bahkan, ketika tulisan ini dipublikasikan, rambutnya sudah gondrong lagi.

Buatku pribadi, membujuk anak untuk potong rambut, atau bahkan sekedar potong kuku, harus minta ijin secara baik-baik. Jangan sampai tergoda untuk memotongnya ketika si anak sedang tidur. Ini akan melukai perasaannya, juga menjatuhkan kepercayaan dirinya.

Bagaimanapun, anak adalah individu utuh. Lebih banyak hal yang harus dimintai persetujuan pribadinya, terutama soal tubuhnya sendiri. Memaksa dengan keras justru akan membuatnya memberontak dan balik melawan. Sebagai orang tua, kita yang harus sabar membicarakannya pelan-pelan dan memberinya pengertian.

Weekend Brunch di D’LLYST

Hari Minggu ini, aku dan Bebi Vendra sedang berkutat di Pantai Indah Kapuk, untuk bazaar yang didakan oleh event marketing Golf Island.

Aku pun tertarik untuk mencoba resto yang terletak di Rukan Crown Golf, yaitu deretan tempat makan yang terletak dekat Tzu Chi Center.

Aku mencoba Kopitiam Breakfast. Empat potong roti panggang dengan selai kaya dan telur (boleh pilih mau scrambled alias orak arik atau sunny side up alias telur mata sapi) dan pilihan minuman es teh, jus jeruk, jus sirsak. Aku memilih es teh tawar dan telur orak-arik.

Sebagai tambahan, aku memesan Potato Wedges. Seperti biasa, dengan cocolan mayones.

Tak lupa, Hot Caramel Latte. Kopinya terasa pahitnya saja. Dan susu melulu. Aku tak mengecap rasa karamel, sebenarnya.

Total tagihan kami 109.575 rupiah. Pelayanannya oke, makanannya juga lumayan.

Menikmati Original Ramen di Roppan

Roppan, identik dengan kreasi roti beraneka topping. Namun, coffee shop kasual bergaya Jepang ini juga terus menambah variasi menunya, terutama bergaya Jepang.

Salah satunya, Original Ramen. Mi kuah ala Jepang dengan tumis ayam dan jamur, rumput laut, jagung rebus pipil dan telur mata sapi. Kuahnya cukup terasa bumbu dan kaldunya. Namun mi-nya terasa anyep. Jadi, baru separo porsi sudah eneg.

Memang porsi segini sih untuk dinikmati kami bertiga.

Cuppa Coffee’s Caramelatte

Aku baru beberapa kali ke Mal @ Alam Sutera. Ternyata pusat perbelanjaan yang terletak di Tangerang Selatan itu nyaman untuk jalan-jalan dan nongkrong. Gedungnya hanya 2 lantai, tapi panjang banget. Jadi, tetap saja, kaki pegal menjelajahinya.

Yang seru, pusat perbelanjaan ini punya Alfresco Dining. Area kafe dan resto di bagian luar. Jadi tambah seru nongkrongnya.

Satu yang jadi favoritku, juga Bebi Vendra, adalah Cuppa Coffee. Aku nggak pernah tertarik untuk mencoba Cuppa Coffee, tapi yang di Mal @ Alam Sutera ini tampak menarik.

Jadilah, kami mencobanya. Sebagai tes, tentu harus mencoba kopinya. Aku pun mencoba Hot Caramelatte. Sang pelayan merekomendasikan yang ukuran kecil. Ternyata memang cangkir mereka besar!

Ukuran kecil saja sudah cukup besar. Kopinya juga enak, bukan pahit tidak menyenangkan. Latte art nya pun lucu-lucu.

Ditambah, dengan kartu Dwiputra Group, aku akan mendapatkan diskon. Tak hanya di Cuppa Coffee, tapi juga di Mister Baso dan Rice Bowl.

Sekarang, kalau ke Mal @ Alam Sutera, Bebi Vendra pasti mengajakku nongkrong di Cuppa Coffee.