Tantangan Ibu Penuh Waktu

Mungkin banyak orang yang menyepelekan peran ibu penuh waktu alias ibu yang tinggal di rumah. Mendedikasikan seluruh waktu dan tenaganya untuk mengurusi anak, rumah dan menunggu suami pulang. Bukan cuma orang lain, si pemegang peran pun seringkali menyepelekan peran tersebut.

Padahal, jadi ibu penuh waktu juga perlu wawasan super luas, bukan hanya pendidikan akademis yang cukup.

Masih segar di ingatanku, karena baru kemarin kusaksikan sendiri. Seorang tetanggaku memberikan balitanya yang berusia sekitar2 tahun, permen karet!

Tentu saja si balita menelannya, karena belum mengerti. Dan si ibu malah cengengesan karena menganggapnya lucu. Dan aku sendiri cuma bisa meringis miris.

Aku juga menyayangkan, ibu penuh waktu yang tidak memberikan, minimal ASI eksklusif selama 6 bulan kepada anaknya. Kalau yang kerja kantoran saja bisa ngotot tetap memberikan ASI hingga setidaknya si anak berumur 2 tahun, lalu apa masalahnya dengan ibu yang tinggal di rumah?

Tinggal di rumah sepanjang waktu bersama anak kecil yang tak jarang rewel kadang memang membosankan dan membuat stres. Kalu ibu sudah stres, tentu anak yang kena imbasnya. Inilah tantangannya, yaitu ibu harus bisa kreatif agar tidak terjebak kebosanan. Dukungan dari si ayah serta anggota keluarga yang lain juga penting. Apalagi mungkin si Ayah adalah satu-satunya orang yang banyak di luar rumah, sedangkan si Ibu selalu di rumah sepanjang waktu. Jadi, sebaiknya memang si Ayah mendukung dengan wawasannya yang lebih luas itu.

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s