Belum Siap ke Jalan?

Aku suka bepergian naik mobil. Dan aku memang suka berada di balik setir. Sampai-sampai, suamiku tercinta menganugerahi sebutan “Wanita AKAP”. Hehehe.

Tapi, dengan situasi jalan saat ini, aku jadi sering mengemudi sembari menahan emosi, atau malah mengumbar sumpah serapah sepanjang jalan.

Hei, biarpun aku “Wanita AKAP”, tapi aku tidak suka ngebut. Apalagi ugal-ugalan. Sejujurnya, aku nggak suka tancap gas karena aku tak suka menginjak pedal rem. Jadi, maksudnya, aku mengendalikan kecepatan agar tak perlu mengerem, kecuali ketika akan benar-benar berhenti.

Dan aku termasuk pengemudi yang tidak suka pindah-pindah jalur. Dari kanan tiba-tiba ke kiri, ke kanan lagi, ke kiri lagi. Buatku itu dosa, karena mengemudi jadi tidak efisien. Berapa banyak bahan bakar yang terbuang percuma, kalau menyetir dengan gaya labil seperti itu? Kasihan mesin mobilnya juga.

Aku juga terbiasa berhenti di lampu merah. Memang untuk itulah lampu pengatur lalu lintas diciptakan, bukan? Namun di beberapa ruas jalan di Tangerang dan Jakarta, orang malah berisik mengklakson ketika ada kendaraan berhenti di lampu merah. Namun, di saat lain, banyak juga yang menghalangi jalur bagi yang ingin belok ke kiri, dimana ada rambu bertuliskan “belok kiri langsung” atau “belok kiri jalan terus”.

Tambahkan lagi pengendara sepeda motor yang beramai-ramai melawan arus, alias nekad berkendara di jalur yang arahnya berlawanan dan ada pembatas jalannya. Alasannya, karena tak ingin terjebak macet. Ah… Alasan banget. Nggak macet pun tak jarang kok yang melawan arus begitu. Dan, hei, yang bikin macet itu pengendara-pengendara yang nggak tertib!

Belum lama ini juga ada kecelakaan yang mengorbankan nyawa seorang ibu hamil. Gara-gara pengendara sepeda motor yang ngeyel naik jalan layang non tol, padahal sudah ada tanda kalau motor tidak boleh naik ke jalan tersebut. Ketika ada polisi, si pengendara lebih memilih celaka dan kehilangan istri juga calon anaknya yang bahkan belum sempat lahir ke dunia, dengan berbalik arah dan bertabrakan dengan pengendara lain, sehingga sang istri terlempar ke bawah jalan layang.

Pelajaran nih buat para gadis; jangan mau menyerahkan hidup pada lelaki yang bahkan tidak menghargai nyawa kalian! Pikir lagi deh, kalau kelakuan pacar kalian di jalanan nggak keruan.

Tapi mungkin memang banyak orang yang bangga terjebak macet. Terbukti dengan perilaku berlalulintas yang bukannya semakin santun, melainkan semakin brutal. Macet, buru-buru, selalu jadi alasan. Kalau belum siap (menerima segala konsekuensi) mengemudikan kendaraan bermotor di jalanan (yang mengharuskan kita tertib, patuh pada peraturan dan sopan pada pemakai jalan lainnya), kenapa nggak di rumah saja sih?

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s