Berhenti Kerja Kantoran

Sudah hampir setahun, aku tidak lagi bekerja kantoran. Selama ini, ada beberapa tawaran, dengan nilai rupiah (bahkan dolar amerika) menggiurkan. Tapi pada akhirnya aku ragu, dan memutuskan untuk tidak kembali bekerja kantoran.

Aku bekerja kantoran sejak 2002. Sejaki itu, citra diriku sebagai ‘wanita karier’ semakin kuat. Meskipun aku sendiri merasa tak nyaman disebut demikian. Menurut pendapat pribadiku, label ‘wanita karier’ menggambarkan seorang perempuan yang tak punya kehidupan lain, di luar pekerjaan kantorannya. Menyedihkan, menurutku.

Aku sendiri masih sempat nge-band, tour band, rekaman bersama band-bandku, jalan-jalan, pacaran, bahkan menikah dan punya anak, sembari menjalani pekerjaan kantoranku, dulu.

Bukan berarti, aku tak menikmati pekerjaan kantoranku. Aku justru merasa beruntung bisa mendapat kesempatan bekerja kantoran yang bisa dinikmati. Tak jarang teman yang iri. Karena itu, aku merasa bersyukur.

Tapi kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran?

Alasan yang paling mendasar adalah aku merasa punya potensi. Banyak ide berkelebatan liar di otakku. Apalagi, sebagai tenaga penjualan, aku dituntut untuk kreatif dan inovatif, ya agar penjualan dapat melesat naik, sesuai harapan setiap perusahaan. Tapi tak jarang, ide-ideku malah mental dan tak bisa terwujud. Padahal, aku mengajukan ide-ide tersebut bukan tanpa pemikiran matang. Lagipula, aku yang setiap hari berinteraksi langsung dengan para pelanggan. Jadi aku tahu situasi di lapangan, dan apa yang diperlukan para pelanggan untuk mendongkrak penjualan.

Dari situlah aku kepikiran. Daripada bekerja pada suatu perusahaan, dimana ide-ideku tak bisa diwujudkan, kenapa aku tak bekerja sendiri saja? Aku yang ‘punya perusahaan’, aku bosnya, dan aku sendiri yang mengeksekusi ide-ide tersebut. Tak ada yang bisa menentangku lagi.

Kippabuw yang kurintis saat ini adalah perwujudan dari banyak aspirasiku yang tersandung, pada saat bekerja kantoran dulu. Dan masih banyak ide lagi di kepalaku. Tapi aku paham, aku harus melangkah dengan cerdik. Jangan sampai ambisi yang menggebu-gebu justru menjadi bumerang untukku sendiri.

Pelan-pelan, aku akan membuktikan, kalau aku punya cara sendiri dalam berdagang. Dan caraku akan berhasil.

Selain itu, aku bisa menjalani hobi yang menghasilkan uang ini sambil tetap menghabiskan waktu bersama Bebi Vendra, juga suamiku tercinta.

Ya! Aku sangat menikmati ‘pekerjaan’ baruku ini.

Madu vs. Soda Kue

Aku bermaksud membanding keramas menggunakan madu dengan keramas menggunakan soda kue.

Bagi yang belum tahu, aku tidak pakai sampo untuk keramas. Kadang-kadang pakai sabun Kippabuw sih, dalam rangka menguji produk.

Keramas Menggunakan Madu
Aku mencampur satu sendok makan madu dengan 3 sendok makan air minum. Kemudian digosok-gosok lembut di kulit kepala selama satu sampai dua menit dan dibilas dengan air bersih dingin.

Sudah. Tak perlu kondisioner lagi. Tampaknya, metode ini cocok buat rambutku yang kering dan rusak, karena dulunya rajin disiksa. Mulai dari bleaching, rebonding, cat rambut warna merah cabe, catokan rambut, sampai menggelungnya untuj waktu lama, ditambah sering panas-panasan di luar tanpa pelindung. Rambutku sekarang jadi tampak sehat berkilau, lembut, meskipun kadang terasa lepek.

Aku keramas 3-4 hari sekali.

Keramas Menggunakan Soda Kue
Caranya, campurkan satu sendok makan soda kue dengan satu cangkir air. Aduk rata hingga soda kue larut seluruhnya. Gosok-gosok lembut di kulit kepala hingga terasa licin. Bilas dengan air bersih.

Tanpa kondisioner rambut pun sebenarnya tak apa, terutama untuk jenis rambut berminyak.

Tapi untuk rambutku sendiri terasa sangat kering. Meskipun ritual keramas ini kuakhiri dengan bilasan air lemin dan air beras. Setelah kering, di ujung-ujung rambut akan tampak sangat kering.

Sudah coba keramas tanpa sampo?

Roti Lapis Lengkap Praktis

Aku menyiapkan menu ini hanya sekitar 10 menit. Bukan untuk sarapan pula, tapi ketika kami kelaparan tengah malam. Itu sebabnya, foto-fotonya kurang bagus.

Bahan-bahannya:
3 lembar roti tawar, silakan pilih roti kegemaran masing-masing, tapi kami makan roti gandum
1 buah telur
2 sendok makan daging sapi cincang, bisa diganti dengan daging cincang lain, atau tahu yang dilumat menggunakan garpu, untuk para vegetarian
2 sendok makam mayones
2 lembar keju cheddar

Cara membuatnya:
1. Kocok telur dan daging cincang, kemudian buat 2 buah omelet
2. Oleskan mayones di sisi roti
3. Tempelkam keju cheddar lembaran
4. Tumpuk dengan omelet
5. Tumpuk lagi dengan roti, mayones, keju dan omelet. Terakhir, tumpuk dengan roti lagi.
6. Potong menjadi 2 atau 4 bagian
7. Sajikan. Tambahkan keripik kentang atau kentang goreng, jika suka.

Mudah dan cepat.

Selamat mencoba!

Air Lemon

Hari Minggu lalu, aku mengajak Bebi Vendra jalan-jalan.

Ace Hardware, Living World, Tangerang Selatan, adalah pilihan yang ‘adil’ untuk kami. Aku bisa memuaskan mata melihat-lihat pernak-pernik rumah nan lucu (seringkali, melihat saja aku sudah cukup senang), dan Bebi Vendra bisa puas main di playground yang tersedia di toko Ace Hardware yang katanya terbesar di dunia itu.

Anak-anak, kalau sudah asyik bermain, suka lupa minum, apalagi makan. Padahal tenaga dan keringatnya cukup terkuras. Karena itu, sesekali aku mengingatkan Bebi Vendra untuk sekedar meneguk sedikit air minum yang biasa kubawa dari rumah.

Tak ada yang istimewa, aku hanya menambahkan seiris jeruk lemon ke dalam botol air minum kami. Tujuannya hanya agar kami bisa menikmati juga manfaat baik jeruk lemon, yang dipercaya dapat menyeimbangkan kadar asam basa dalam tubuh, merangsang sistem pencernaan, membantu menahan keinginan mengudap gula dan lemak berlebihan, menambah asupan vitamin C, juga membantu menjaga sistem kekebalan tubuh.

Namun, ada seorang Ibu yang penasaran, kenapa ada jeruk di dalam botol minum kami?

Aku pun menjelaskan manfaat tadi kepada beliau. Sambil dalam hati agak heran, karena ternyata masih banyak orang yang belum paham manfaat menambahkan jeruk lemon ke dalam air minum kita.

Mungkin pada kunjungan selajutnya ke Ace Hardware, aku akan membagikan selebaran mengenai manfaat air lemkn kepada seluruh pengunjung, juga karyawan. Hahahaha!

Chicken Cordon Bleu Kegemaran Kami

Aku sempat merasakan beberapa hidangan Chiocken Cordon Bleu di beberapa kafe atau restoran berbeda. Tapi pada akhirnya, yang paling kami sukai adalah hidangan dari Solaria.

Harganya pun masuk akal, 35.000 rupiah per porsi, sudah termasuk kentang goreng dan salad sayuran. Daging dada ayam tanpa tulang yang tebal, dengan lelehan keju mozarella dan selembar daging sapi asap, dibalut tepung roti. Disiram semacam saus barbekyu dan mayones.

Bebi Vendra pun suka.

Si Little Food Critic ini bisa jadi referensi menu juga. Karena indra pengecapnya yang masih sangat peka.