Seseruan di Pekan Produk Kreatif Indonesia 2013

Tanggal 27-28 November lalu, aku menghabiskan hari bersama Bebi Vendra di PPKI 2013, sembari melapak. Ini dia beberapa momen seru kami.

Dan dua foto berikut adalah hasil jepretan Bebi Vendra!

<

Seru kan, bisa cari duit sambil menghabiskan waktu bersama anak tersayang?!

Caraku Mencuci dengan Tangan

Biasanya, aku mencuci pakaian kami bertiga setiap 3 hari sekali. Kira-kira sebanyak 20 potong pakaian. Bisa dikira-kira, muatan pakaian satu orang perempuan dewasa, pakaian satu orang laki-laki dewasa dan pakaian satu balita yang tidak lagi mengenakan popok pakai buang.

Jika ada pakaian yang luntur atau pakaian putih, tentu aku memisahkannya. Namun, dalam keadaan normal, aku mencampur semuanya.

Rendam dahulu pakaian kotor tersebut dalam air bersih selama 15-30 menit. Gunanya untuk melarutkan bau dan kotoran ringan. Biasanya, bau keringat, debu dan polusi jalanan, serta sedikit bau pesing.

Buang air rendaman, lalu ganti dengan air bersih yang ditambahkan satu sendok makan pencuci pakaian buatan tanganku sendiri. Sebenarnya, merupakan sabun batangan buatan tangan yang diparut, kemudian dicampurkan dengan soda kue.

Karena soda kue adalah garam, maka air rendaman tidak akan berbusa banyak seperti deterjen. Rendam saja pakaian kotor tadi selama minimal 30 menit.

Siapkan air bersih di ember lain, tambahkan 2 sensok teh sitrun atau citric acid.

Kucek sedikit cucian tadi, kemudian peras sedikit, dan masukan ke dalam air dengan sitrun tadi.

Tunggu selama sekurangnya 5 menit. Sitrun ini berfungsi sebagai pelembut alami. Setelah itu, peras setiap potong pakaian, dan jemur.

Kenapa menggunakan sabun buatan tangan?
– Tidak membuat tangan terasa panas atau terkelupas
– Tidak meninggalkan residu bahan kimia aneh di pakaian. Kebayang dong kalau residu bahan kimia aneh dari pencuci pakaian itu menempel di pakaian anak tersayang?
– Lebih hemat air
– Tidak mencemari lingkungan, karena air bekas cuciannya lebih bersahabat dengan alam.
– Lebih ampuh menghapus noda

Selamat mencuci dan have a pleasant day!

Club Sandwich di Kopi Luwak Epiwalk

Siang ini, kami bingung mau makan apa. Epiwalk tidak memberikan pilihan tempat makan dan menu yang menarik. Akhirnya, aku berbelok ke Kopi Luwak.

Aku memesan Club Sandwich. Roti gandum isi daging asap, potongan chicken katsu, timun jepang, selada, tomat dan keju cheddar. Rasanya biasa banget. Mayonesnya terlalu encer. Dan, ada rambut di dalam sandwichku!

Parahnya, mereka tak malu-malu menyodorkan tagihanku tanpa sedikitpun itikad baik untuk menebus kesalahan mereka. Yuck!

Pekan Produk Kreatif Indonesia 2013

Tanggal 27-28 November 2013, Kippabuw ikut berpartisipasi dalam Pekan Produk Kreatif Indonesia, yang diadakan di Epiwalk, Jakarta Selatan. Sebenarnya tanpa rencana, karena temanku, Vantiani, yang sebenarnya dapat jatah booth tidak bisa setiap hari ada untuk acara tersebut. Jadilah, aku dan Uthie mengisinya di dua hari pertama.

Secara bisnis, kupikir hari pertama dan kedua tidak begitu bisa diharapkan. Tapi, aku tetap semangat. Bahkan, berusaha untuk datang pagi karena acara akan dibuka oleh Bapak Wakil Presiden.

Tidak berpengaruh juga sih, karena beliau membuka acara di area yang berbeda dari tempatku melapak. Pun, beliau ternyata tidak mampir menilik para pengrajin yang menggelar dagangannya masing-masing.

Penjualan produk-produk Kippabuw juga tidak bisa dibilang sepi. Apalagi di tengah situasi dimana aku tak punya banyak pilihan produk untuk ditawarkan.

Serunya lagi, Kippabuw mendapat penghargaan dari Majalah Femina Indonesia sebagai salah satu produk unggulan Pilihan Editor untuk acara Pekan Produk Kreatif Indonesia 2013!

Kaget. Tentu.

Waktu itu aku sedang duduk santai di area booth, kemudian booth kami diserbu sekelompok perempuan cantik. Salah satunya menanyakan siapa pemilik lapak sabun. Ketika kujawab bahwa akulah pemilik, sekaligus pengrajinnya, beliau langsung menyerahkan sebuah piala. Rasanya senang bukan main, juga hampir tak percaya.

Hei, bisnis ini masih seumur jagung, tapi sudah mendapat penghargaan seperti itu!

Aku hanya bisa bersyukur kepada Yang Punya Hidup. Juga berterimakasih kepada semua yang tak pernah bosan mendukungku.

Aku juga berharap, Kippabuw bisa semakin baik. Dan konsepku tentang kecantikan, yang tak harus berkulit putih, namun justru mengurangi penggunaan bahan kimia yang tidak perlu dan lebih bersahabat dengan alam, dapat diterima oleh masyarakat.

Ramen 38 Sanpachi Kamome yang Baru

Ramen 38 Sanpachi ini tadinya terletak di lantai 2 Gedung Kamome, Jakarta Selatan. Sekitar trimester 2 tahun ini, mereka pindah ke bagian depan gedung. Setelah beberapa bulan lalu selesai renovasi, aku baru sempat datang ke restoran barunya, Minggu malam lalu.

Tadinya kupikir, setelah renovasi, mereka akan kehilangan suasana restoran Jepang. Namun ternyata dugaanku salah. Meskipun tempatnya jadi lebih apik dan resik, nuansa Jepangnya tidak hilang.

Seperti biasa, kami memesan menu set ramen. Bisa pilih ramen yang diinginkan, ada gyoza, juga mini chahan. Boleh pilih juga, mau yang halal atau non halal. Kami harus membayar sekitar 102.000 untuk makan malam seru sekeluarga. Rasanya juga tetap enak, meskipun terlalu asin.

Tiga Hari di Indiecology Cafe Sagan

Akhir minggu lalu, aku berkesempatan menyaksikan sendiri keseruan Craft Carnival 3, yang bertempat di Indiecology Cafe, Sagan, Yogyakarta. Tiga hari nongkrong di kafe, tentu tidak afdol kalau aku tidak mengulasnya.

Kafe yang baru mulai beroperasi sekitar sebulan lalu ini berupa rumah bergaya lama, dengan halaman yang cukup luas untuk berkeliaran. Tambahan ornamen-ornamen yang berkesan kuno di sana-sini, membuatnya semakin nyaman dan terasa seperti di rumah.

Harga menu, sejujurnya, cukup tinggi untuk ukuran kantong Yogyakarta. Untung saja, suasana kafe ini nyaman, sehingga tidak terlalu merasa rugi membayar harga tersebut.

Hari pertama, aku mencoba Kopi Tarik panas dan Reuben Sandwich.
Kopi Tariknya nggak enak! Yang kurasa hanya manis, manis dan manis banget. Susunya kurang terasa, apalagi kopinya.
Sedangkan Reuben Sandwich adalah roti lapis isi lembaran daging asap tebal dengan lembaran keju cheddar dan saus thousand islands. Sepertinya, keju dan daging asapnya yang membuat roti lapis ini terasa sangat asin.

Hari kedua, aku mencoba Teh Sereh dan Tempe Mendoan.
Teh Serehnya kurang terasa. Baik tehnya maupun aroma serehnya.
Tempe Mendoannya lumayan. Apalagi dipadukan dengan kecap pedas yang disajikan. Aku suka!

Hari ketiga, aku mencoba Teh Jahe dan Tahu berontak.
Teh Jahenya disajikan dalam cangkir kaleng lurik berukuran besar. Jahenya dibakar, disajikan dengan gula batu. Lumayan untuk cuaca hujan.
Tahu Berontaknya juga enak. Sayangnya, agak terlalu asin untukku.

Aku juga sempat mencoba Soklat dingin. Rasanya mirip Milo atau Ovaltine dengan es batu dan sedikit busa susu.

Secara keseluruhan, kafe ini lumayan. Agak kurang sepadan sih rasa sajian dengan harganya. Harus pintar memilih menu yang tidak akan membuat menyesal ketika membayar tagihan. Menurutku, paduan Teh Jahe dengan Tahu Berontak adalah yang paling direkomendasikan.

Lampu Tanda Bahaya

Rupanya masih sangat banyak orang yang belum paham penggunaan lampu hazard atau lampu tanda bahaya, yaitu ketika lampu sein kanan dan kiri menyala berkedip-kedip berbarengan. Memang, keberadaan tombol bergambar segitiga merah di dashboard mobil itu sungguh menggoda. Mungkin ada perasaan keren ketika seseorang memencetnya. Tapi, percayalah, kenyataannya tidak sekeren itu.

Saat mobil di depan tiba-tiba menyalakan lampu hazard, aku pasti kaget dan refleks mengerem. Kemudian, jika ternyata tidak ada apa-apa, aku jadi mengomel sendiri, “ndhesoooo!”

Dari yang kubaca, menurut peraturan internasional, penggunaan lampu hazard adalah sebagai berikut:

– Ketika berhenti di tengah jalan atau bahu jalan, karena mogok atau ban bocor, agar kendaraan yang lewat berhati-hati.

– Ketika mengerem mendadak, karena ada bahaya di depan atau ketika kita tersadar ada yang tidak beres dengan mobil yang kita kendarai. Maksudnya agar kendaraan di belakang berhati-hati.

– Untuk kendaraan berat atau membawa beban berat yang melaju di bawah kecepatan yang diharuskan di ruas jalan yang dilewati. Harusnya sih, sudah tahu kendaraannya berat, ya jalan yang tenang saja di lajur kiri.

– Dalam keadaan gawat darurat, biasanya dinyalakan bareng dengan sirene pada ambulans atau pada mobil pribadi yang membawa orang yang pelu segera mendapatkan pertolongan media di rumah sakit terdekat. Perlu diingat, penyalaan lampu tanda bahaya dapat membingungkan kendaraan lain ketika hendak berganti lajur atau berbelok.

Warna lampu sein yang kuning membuat pupil mata yang melihatnya bereaksi membesar dan mengecil, sehingga dapat mengakibatkan hilang fokus. Itulah sebabnya, lampu tanda bahaya tidak boleh dipakai sembarangan.

Untuk konvoi kendaraan, penggunaan lampu tanda bahaya adalah salah. Tapi tidak jarang aparat atau personel yang seharusnya paling mengerti soal ini pun salah. Seharusnya, nyalakan lampu utama ketika konvoi. Ini akan membuat pengendara lain berhati-hati dan minggir. Namun aku pribadi benci banget sama konvoi kendaraan yang tidak penting. Nggak keren sama sekali!

Dalam keadaan hujan deras pun yang harusnya dipakai adalah lampu utama, bukan lampu tanda bahaya. Karena kedipan lampu warna kuning di tengah guyuran air hanya akan membias dan membuat pengendara lain kehilangan fokus.

Setelah ini jangan norak lagi ya!