LCGC

Belakangan ini sedang heboh LCGC, alias Low Cost Green Car. Maksud yang kutangkap dari pemberitaan atau tulisan di media, maksudnya adalah mobil murah ramah lingkungan. Jadi, mobil-mobil tersebut dijual dengan harga antara 70 juta hingga 150 juta rupiah per unitnya. Katanya sih dengan spesifikasi yang ramah lingkungan.

Tapi entah kenapa, sejak pertama kali mendengar istilah LCGC ini, aku sangsi. Pertama, low cost yang kupahami seharusnya bermakna hemat. Bisa konsumsi bahan bakarnya yang irit, biaya perawatannya yang murah karena ditunjang suku cadang yang awet, sehingga tidak perlu terlalu sering ganti suku cadang, kalaupun harus ganti suku cadang, tentunya dengan harga murah pula. Semurah apa, kapasitas setiap pemilik mobil tentu berbeda. Tapi yang ditekankan di media massa, low cost disini berarti murah. Kenapa nggak menyebutnya Cheap Green Car?

Kedua, sebutan Green Car ini juga tidak jelas kriterianya? Aku nggak percaya, mobil di Indonesia bisa dihargai murah dengan emisi standar Euro4, misalnya. Aku sendiri nggak paham standarisasi emisi. Tapi ‘green’ atau ‘eco’ memang identik dengan mahal kan?

Belum lagi keamanan mobilnya. Ingat kecelakaan Tol Jagorawi kan? Menurutku, kalau mobil si penabrak juga kaleng, seperti mobil yang ditabrak, kemungkinan besar ia akan menjadi salah satu korban nyawa dalam kecelakaan maut tersebut. Dan kenapa yang lain bisa sampai kehilangan nyawa? Bandingkan saja mobil-mobil yang terlibat kecelakaan itu.

Indonesia tidak perlu mobil murah, karena banyak orang bisa ‘memaksa’ diri membeli mobil. Tapi bukan berarti juga lalu harganya dipatok tidak masuk akal (terutama karena kebanyakan pungutan tidak jelas). Selain itu, masih banyak orang Indonesia yang belum siap mental mengemudikan mobil di jalan raya. Itu juga salah satu penyebab kemacetan parah di Jakarta. Kalau saja semua orang bisa berkendara dengan benar dan etis, paling tidak, jalanan tidak terlalu semrawut.

Belum lagi soal konsumsi bahan bakar. Lagi-lagi soal kesiapan mental pengendara. Kalau mobilnya dikendarai dengan benar dan dirawat dengan baik, tentu konsumsi bahan bakar akan lebih optimal.

Well, tulisan ini cuma sekedar uneg-uneg seorang perempuan yang baru 7,5 tahun punya SIM A dan pengalaman mengemudikan mobilnya cuma seputar pulau Jawa saja. Pengetahuan tentang otomotif pun sangat terbatas.

Have a pleasant day!

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

2 thoughts on “LCGC”

  1. “Aku nggak percaya, mobil di Indonesia bisa dihargai murah dengan emisi standar Euro4” standar emisi bahan bakar euro 3 itu baru bulan agustus kemarin itu juga pertamax dan pertamax +, diisi bahan bakar subsidi ya gak ada tuh namanya green…isi euro 2 (premium solar subsidi) ya keluar juga euro 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s