hiperlaktasi

Aku tak pernah menyangka, hal paling alami seperti menyusui pun tak semudah itu. Bayi dan ibu, keduanya harus sama-sama belajar.

Welcome to My World!

Pada awalnya, Bebi Vendra juga harus berusaha keras untuk perlekatan yang benar agar bisa dapat ASI optimal dan aku tak kesakitan. Sekarang, setelah masalah perlekatan agak bisa diatasi (atau diakalin?), kami harus sering berantem lagi gara-gara ASIku berlebih alias hiperlaktasi.

Caraku mengatasi (mengakali?) masalah ini adalah dengan menyusui Bebi Vendra pada saat tanda-tanda awal laparnya muncul. Jika sudah terlalu lapar, Bebi Vendra akan nggak sabaran dan mudah ngambek.

Disela-sela menyusui Bebi Vendra yang masih tenang itu, aku memerah sedikit ASIku agar tidak memancar terlalu deras. Makanya, ketika akan menyusui, aku mempersiapkan lap untuk membersihkan mulut Bebi Vendra dari ASI yang berceceran, tempat menampung ASI perahan, lap untuk keringatku sendiri. Tak lupa, sebelum menyusui, aku meletakkan lap di payudaraku yang satu lagi, karena saat menyusui, ASI akan mengucur juga dari sana.

Welcome to My World!

Semoga masalah ini segera beres dan Bebi Vendra bisa dapat ASI secara optimal agar ia bisa tumbuh sehat dan cerdas.

Advertisements

day 23

Welcome to My World!

Dua hari ini aku banyak berantem sama Bebi Vendra. Ia marah karena ASIku terlalu mengucur, sedangkan mulut kecilnya belum bisa menelan dengan cepat. Akhirnya, aku harus menyaksikan aksi koliki Bebi Vendra yang jengkel.

Tapi aku terus berusaha agar masalah ini segera beres. Mungkin aku bisa mencoba rokok? Karena rokok dipercaya mengurangi produksi ASI, tapi nikotinnya bisa tersalur ke Bebi Vendra.

Ah, itu sih memang Mamanya saja yang ingin merokok lagi.

Kelapa Muda Jeruk

Selama hamil, hingga sekarang, saat menyusui, aku banyak mengkonsumsi kelapa muda. Ada yang bilang, air kelapa baik untuk air ketuban. Ada juga yang bilang, air kelapa bisa membuat jabang bayi memiliki kulit yang bersih saat lahir. Aku nggak tahu pasti kebenarannya. Yang kupercaya, air kelapa adalah minuman yang paling mirip cairan tubuh, sehingga mudah diserap.

Ini adalah salah satu caraku untuk menikmati kelapa muda. Yaitu dengan menambahkan sedikit sirup jeruk. Hasilnya adalah minuman segar dengan rasa kecut dan sedikit manis dari jeruk berpadu dengan rasa creamy dari kelapa.

During pregnancy, until now, when I breastfeed my beloved Bebi Vendra, I often consume young coconut. There are many tales on consuming coconut water in pregnancy, such as would makes the baby having a fair skin, also good for the amniotic fluid. I don’t know for sure about the truth of those tales. But I believe that coconut water is similar to body fluid. So it would be optimally absorbed.

This is one of my own way to enjoy a refreshing young coconut. I add a few table spoons of orange syrup. The result is a cool drink with sour-sweet taste of orange mixed with creamy taste of coconut.

day 22

Welcome to My World!

Bebi Vendra semakin aktif! Tidur saja bisa lari-lari kemana-mana. Bahkan sampai popoknya copot.

Welcome to My World!

Hm, kebayang polahnya saat semakin besar nanti. Sepertinya, berat badanku bisa segera kembali ke berat badan pra kehamilan.

Welcome to My World!

Aku sempat berpikir tentang kembali bekerja. Memang terlalu cepat. Jadi aku tak terlalu memikirkannya. Sekarang aku harus fokus merawat Bebi Vendra dulu.

Taoge Tahu Kecap

Lagi-lagi teman makan nasi yang sederhana, mudah disiapkan namun cukup bergizi. Rasanya pun nggak buruk-buruk amat.

Panaskan 1 sendok makan minyak goreng dengan api sedang. Tumis 1 siung bawang putih geprek dan setengah bawang bombay iris tipis hingga harum.

Tambahkan 2 buah tahu kuning dipotong dadu ukuran 1 cm dan setengah gelas air. Tunggu mendidih.

Tambahkan segenggam taoge, sedikit garam dan lada hitam tumbuk, serta 1 sendok makan kecap manis. Aduk hingga tercampur rata. Tunggu 1 menit. Angkat. Sajikan dengan taburan bawang goreng.

This tofu and mung bean sprout stir fry with sweet soy sauce is very simple and easy to prepare. Gives you good nutrition value, and tastes nice.

Medium low heat 1 table spoon oil. Sauté 1 garlic crushed and a half onion chopped until the aroma comes out.

Add 2 pieces yellow tofu cut into cubes, 1 centimeter each and a half cup of water. Bring to boil.

Add a handful mung bean sprouts, a pinch of salt and black pepper ground and a table spoon sweet soy sauce. Stir well. Wait a minute, then take it out of the heat. Serve with sprinkles of fried shallot.

day 21

Kemarin, kami mengunjungi DSA, dokter spesialis anak di RSIA Mutiara Bunda. Suamiku mencium aroma tak sedap dari telinga Bebi Vendra. Aku langsung panik, kupikir telinganya kena infeksi.

Sedih, pastinya. Apalagi membayangkan Bebi Vendra harus kena antibiotik di usia semuda ini.

Di rumah sakit, kami harus menunggu lama untuk sampai giliran kami. Hampir 2 jam. DSA memang selalu laris ya?

Berat Bebi Vendra sudah naik lagi ke 3,4 kg. Dan setelah diperiksa oleh dr. Toniman, ternyata Bebi Vendra sehat. Cairan kekuningan yang keluar dari telinganya adalah akibat sering tidur miring. Tapi tidak menjadi masalah. Sang dokter meresepkan salep, kalau-kalau nantinya telinga Bebi Vendra jadi gatal.

Tenang rasanya, jika sudah mendengar dokter bilang Bebi Vendra sehat. Ngantrinya lama banget, periksanya sebentar banget. Kenapa selalu gitu ya? Pasien-pasien pada ngapain sih, lama amat?

the birth story

Senin, 7 Juni 2010, aku terbangun dari lelapku karena rasa kurang nyaman di perutku yang buncit. Waktu menunjukkan kurang pukul 3 pagi. Aku berusaha untuk kembali tidur. Tapi rasa tak nyaman itu terus mengganggu.

Hm, aku curiga sudah mulai kontraksi nih. Aku pun mulai mencatat waktunya. Ternyata kontraksi ringan tersebut teratur muncul setiap 6-10 menit sekali, dengan durasi yang tidak lama, sekitar 15 detik. Sangat ringan, tidak terlalu mengganggu, tapi pikiran tentang persalinan yang sudah di depan mata, yang membuatku jadi nggak bisa tidur lagi.

Sampai hari terang, aku cuma terbaring namun terjaga. Masih mencatat waktu kontraksi. Sempat bingung memberitahu sang papa. Aku takut, kalau salah omong, beliau malah jadi panik.

Untungnya, suamiku nggak panik. Ia ke kantor sebentar untuk handover pekerjaan kepada rekannya. Sementara aku masih menikmati kontraksi yang buatku masih cukup ringan. Mengingat kram perut parah setiap datang bulan yang kuderita, sebelum menikah.

Sepanjang hari, aku cuma rebahan dan makan serta minum. Kupikir, aku harus menyiapkan energi yang banyak untuk proses persalinan.

Menjelang magrib, kontraksi semakin kuat dan jaraknya semakin dekat. Suamiku membawaku ke RSIA Mutiara Bunda, Mencong, Tangerang, yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Sampai sana, bidan yang memeriksaku bilang kalau aku baru pembukaan 1 dan prosesnya masih lama, bisa sampai 16 jam lagi.

Kuputuskan untuk pulang dulu saja. Aku nggak mau menunggu di rumah sakit. Justru membuatku stres.

Sampai di rumah, kontraksiku malah semakin kuat. Rebahan miring, duduk, berdiri, jalan-jalan, nungging, posisi apapun tak ada yang membantu. Mules plus pinggang belakang pegal bukan main. Seperti kram datang bulan dalam versi yang sangat berlebihan.

Suamiku tetap sabar menemaniku. Ia tampak bingung, harus berbuat apa untuk membantuku merasa lebih baik. Aku sendiri nggak tahu. Apalagi membayangkan harus menahan sakit sehebat itu hingga esok hari. Kuatkah aku?

Kemudian aku mulai gemetaran. Saat itulah aku tersadar kalau itu adalah tanda bahwa pembukaanku hampir lengkap. Namun, aku tak sempat bilang pada suamiku karena mulesnya datang silih berganti tak tertahankan.

Tiba-tiba, aku merasa sesuatu yang bulat menyembul dari vaginaku. Aku panik. Kupikir itu kepala. Jadi kuminta suamiku untuk melihatnya.

Ternyata bukan kepala. Sesuatu itu semakin menyembul keluar, lama-lama seperti balon yang sedang ditiup. Ya, itu adalah kantong ketuban. Mules yang kurasakan semakin tak tertahankan. Rasanya seperti ingin mengejan. Tapi berusaha kutahan, karena mengejan sebelum pembukaan lengkap bisa mengakibatkan leher rahimku bengkak.

Saat mules hebat itu muncul lagi, akhirnya balon tersebut pecah dan air ketuban berceceran di kakiku. Rasanya setengah mati!

Aku sempat bertanya pada suamiku, apa warna air ketubanku? Saat ia menjawab seperti kencing, aku agak tenang. Yang kutakutkan jika warnanya kehijauan atau kehitaman, yang bisa meracuni bayiku.

Kami langsung ke rumah sakit lagi. Sesampainya di sana, kami langsung ke ruang bersalin. Bidan meminta suamiku mengurus administrasi, sementara aku langsung rebahan.

Karena sudah akan lahir, dokter yang seharusnya menolongku tak sempat datang. Akhirnya aku ditolong bidan.

Proses persalinan berlangsung begitu cepat. Aku hanya mengejan sebentar dan muncullah sesosok bayi mungil, putih, ganteng yang kemudian menangis keras.

Awalnya aku masih percaya nggak percaya, bayi itulah yang selama ini hidup dan bertumbuh di perutku. Tapi aku bersyukur, ia lahir dengan selamat dan sehat. Bidan meletakkannya di dadaku, karena aku bilang ingin IMD, Inisiasi Menyusui Dini.

Sayangnya, para tenaga kesehatan yang menolongku pada nggak sabaran. Bebi Vendra diambil untuk dibersihkan, kemudia dibawa ke ruang bayi agar tidak kedinginan.

Proses menjahit luka sobekku sangat menyakitkan. Nggak tahu aku dapat berapa jahitan. Yang jelas, banyak banget. Aku sampai menangis saking sakitnya.

Setelah semua akhirnya selesai, suamiku muncul dengan wajah blank andalannya. Tapi kutahu ia bahagia, seperti aku. Kami berdua melewatkan malam di ruang bersalin. Seumur hidup, baru sekali ini aku dijahit, rawat inap di rumah sakit, sekaligus diinfus.

Welcome to My World!

Esok paginya, seorang perawat datang melihat keadaanku dan melepas infusku. Karena tanganku sempat menahan tubuhku saat hendak bangun, darah mengucur deras dari bekas jarum infus. Tapi bisa segera dihentikan.

Suamiku membantuku membersihkan luka jahitan. Kemudian kami ke kamarku. Rasanya tak sabar ingin melihat Bebi Vendra lagi!

Beberapa lama kemudian, perawat mengantarkan Bebi Vendra yang sudah mandi. Dan ternyata sudah kenyang susu formula.

Welcome to My World!

Itulah saatnya aku mulai merasa stres. Aku sangat ingin memberikan ASI eksklusif untuk Bebi Vendra! Tapi mereka sangat tidak peduli.

Esok harinya, akhirnya kami boleh pulang. Lega, karena otoritasku atas putraku sendiri telah kembali. Meskipun sesekali masih diinterupsi keluarga.

Aku berusaha untuk mengalihkan Bebi Vendra ke ASI. Tidak mudah pada awalnya. Putingku sempat lecet. Belum lagi engorgement yang melengkapi penderitaanku. Tapi demi Bebi Vendra, aku terus berjuang.

I love you so much, Bebi Vendra Galeny!

day 16

Aku menyusui Bebi Vendra. ASI eksklusif.

Welcome to My World!

Aku mengganti popok Bebi Vendra. Dulu, kupikir berurusan dengan pup bayi adalah hal yang menjijikan. Tapi ternyata, pup anak sendiri nggak seburuk itu.

Aku memandikan Bebi Vendra. Sesuatu yang tidak pernah terbayang akan kulakukan. Menggendong bayi baru lahir saja aku tak pernah punya cukup nyali.

Welcome to My World!

Aku juga mencuci pakaian Bebi Vendra. Kadang memang agak kurang bersih. Maklumlah, disambi sana-sini.

Aku juga memasak. Menu-menu sederhana tentunya. Lagi-lagi disambi sana-sini. Makan pun kadang diinterupsi tangisan Bebi Vendra.

Aku melakukan semuanya sendirian. Suamiku tersayang membantuku setelah pulang kerja. Aku tak merasa super. Aku perlu tidur sebentar…