The Reason #5 Not To Marry Me

“Sebagai istri, harusnya kamu tahu dong, apa mau aku!”

Sayang, aku ingatkan sekali lagi, aku ini seorang marketing person, bukan paranormal. Jadi jangan paksa aku membaca pikiranmu dong. Kalau aku tampak seperti nggak ngerti apa maumu, ya salahmu sendiri. Kenapa nggak bilang apa maumu?

Tubuhmu lengkap, sayang. Tanpa cacat fisik. Kamu pun sudah dewasa, sudah tahu benar caranya berkomunikasi dengan sesama manusia. Jadi apa sulitnya mengungkapkan apa yang kamu inginkan sih?

Kalau kamu menganggap aku istrimu, seharusnya kamu terbuka sama aku. Kamu percaya sama aku. Kamu ungkapkan semua yang kamu rasakan dan yang kamu pikirkan. Kalau masih ngotot memintaku jadi pembaca pikiran, cari istri seorang cenayang saja sana!

The Reason #4 Not To Marry Me

“Neng, sebenarnya Akang masih rada kurang sreg nih sama sifat kamu yang terlalu tomboy. Akang harap, setelah menikah nanti, kamu bisa berubah jadi keibuan ya?”

Ah, Akang suka mimpi ajah sih. Sifatku yang jauh dari feminin ini udah dari sononya. Bawaan orok! Lagian, waktu kita kenalan dulu kan Akang udah tau kalo aku macho begini. Katanya sayang?

Yang namanya sayang itu berarti perubahan terjadi karena proses. Bukan memaksakan pasangan untuk berubah menjadi apa yang kita mau, dan bukan menjadi dirinya sendiri. Kalau kita masih ngotot ingin mengubah pasangan kita, hm, well, dengan berat hati kukatakan faktanya: itu bukan cinta. Trust me!

Sayang adalah menerima pasangan apa adanya. Berusaha berubah menjadi lebih baik melalui proses pembelajaran bersama. Berusaha berubah menjadi lebih baik karena memang muncul kesadaran dari dalam diri kita sendiri untuk memberi yang terbaik untuk orang yang menyayangi kita apa adanya.

The Reason #3 Not To Marry Me

“Saya ingin punya istri seorang perempuan Kristen yang taat.”

Maaf, Bang. Aku nggak mau telat ke gereja gara-gara nungguin suami lelet yang nyantai-nyantai dengan alasan nungguin istri dandan.

Telat ke gereja (dan kemanapun) tentunya akan membuatku emosi. Sumpah! Kebaktian dalam keadaan emosi itu sangat tidak nyaman.

Kalaupun nggak telat ke gereja, dan mood kita berdua lagi bagus, pasti selama kebaktian kita malah ngobrol dan cengengesan. Lagi-lagi bikin nggak nyaman beribadah. Mau nggak ditanggepin, ntar kamu jadi sebel sayang. Mau aku tanggepin, aku juga sayang melewatkan saat intimku dengan Tuhan.

Dari dulu, memang aku lebih nyaman beribadah sendirian. Aku ke gereja kan mau merasakan nyamannya pelukan Tuhan. Mau menikmati saat indah aku memuji Tuhan lewat nyanyian. Mau khusyuk berdoa, memohon berkat dan lindungan untuk orang-orang yang sayang sama aku. Termasuk kamu, sayang!

Cheers: Delicato White Zinfandel California

Hm, lagi-lagi wine asal California. Yeah, ternyata wine Amerika Serikat nggak terlalu buruk kok rasanya. Selain harganya juga yang masih bisa kugapai.

Penampilannya cewek banget. Botol dan label yang terkesan modern dan simpel, warna wine yang pink bening. Menarik.

Rasanya fruity dan manisnya cocok banget sama kebanyakan lidah Indonesia. Mirip sama Woodbridge Zinfandel. This wine is recommended banget buat (cewek) yang baru mau belajar minum wine.

Enjoyable Work, Pleasant Places, Memorable Tastes Part 3

Yuk, kita nongkrong dan icip-icip lagi yuk!

Frappio Coffee & Ice Cream
Creamypuccino

Creamypuccino
Espresso dengan taste yang cukup strong namun nggak nyegrak, foam susu, dan satu scoop vanilla ice cream yang wangi. Hmm… Aku suka tastenya. Tapi buatku masih agak kemanisan. Untungnya, dalam penyajian minuman ini juga disuguhin segelas kecil air putih.

Café Mocca

Café Mocca
Strong yet smooth coffee, with slightly chocolaty taste. Perpaduan yang nikmat banget.

Warung Kindai, Yogyakarta

Soto Banjar

Soto Banjar Telur Ketupat

Warung yang terletak dekat Jembatan Merah ini memang menjual makanan-makanan khas Kalimantan Selatan. Katanya sih, 80% bumbu masakan mereka didatangkan langsung dari Kalimantan Selatan sana. Mungkin itu yang bikin harganya agak sedikit tinggi. Tapi worth it lah, apalagi untuk putra daerah yang kangen sama daerah asalnya.

Soto khas Banjar ini isinya wortel, spiral macaroni, potongan ketupat, bihun tipis, suwiran daging ayam, naget kentang, telur ayam rebus dan kuah yang bumbunya mirip clear soup, dengan rasa rempah yang pas. Oke banget buat sarapan di Minggu pagi yang cerah.

Pizza Hut Sudirman, Yogyakarta

Strawberry Sparkling Tea

Strawberry Sparkling Tea

Minuman yang menyegarkan ini adalah campuran dari teh hitam yang soft banget, soda, dan sirup stroberi. Manisnya pas.

Excelso Café Galeria Mall, Yogyakarta

Frappio Cookies N Cream

Frappio Cookies N Cream

Siang yang terik, ngadem di kafe ini sambil hotspotan dan menikmati minuman dingin ini. Hmm…

Isinya kopi strong and tasty ala Excelso, susu, dan biskuit semacam Oreo, semua diblend. Mak sruputtt…

Cheers: Franzia Red California

Franzia

Sebenarnya, dulu aku ragu sama wine ini. Pertama, berasal dari California, Amerika Serikat, yang kurang menarik perhatian dibanding Perancis, Australia, atau Chilli. Kedua, nggak ada tahunnya, yang berarti wine ini berisi campuran dari hasil produksi beberapa tahun yang berbeda. Ketiga, screw cap, alias tutup ulir, padahal orang awam seperti aku tahunya kan wine itu pakai cork atau sumbat kayu. Tapi waktu aku beli dulu, harganya cukup murah. Jadi, apa salahnya kucoba?

Warnanya merah keunguan, rada-rada burgundy gitu. Cukup menempel di gelas, yang berarti wine ini nggak terlalu baru juga produksinya.

Rasanya mirip Carlo Rossi Red California, tapi lebih bold. Kecut dan sepetnya terasa, tapi agak slightly fruity, terutama pada after taste. Di labelnya tertulis kandungan alkoholnya 11%.

Secara pribadi, aku suka wine ini. Ditambah, ada pengalaman sentimental dengan wine ini. Tapi sepertinya, aku nggak pernah nemuin lagi wine ini di Indonesia. Mungkin karena kurang laku, jadi nggak didatangkan lagi.