10 Maret 2009

Fiuhhhh… Lega rasanya bisa merebahkan tubuh di My Messy Room, kamarku yang sangat berantakan namun aku betah berlindung di dalamnya.

Kilasan-kilasan akan apa yang sudah kulewati hari ini pun mulai seliweran dalam pikiranku…

Sebuah panggilan di ponselku telah membangunkanku dari tidur yang nyaman di samping suamiku tersayang, dan langsung menyentakku. Gara-gara telepon dari private number yang nggak ngomong ketika kujawab itu, aku jadi sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 04.24. Padahal aku harus naik pesawat jam 06.00 untuk pulang ke Jogja, setelah long weekend hebatku bersama kekasih tercinta. Tanpa membuang lebih banyak waktu, kami langsung meluncur dengan taksi super ngebut. Sepanjang jalan kami saling membisu. Aku bisa merasakan, kami berdua cukup panik hingga segan untuk bicara karena takut membuat situasi makin kacau.

Otakku pun langsung bekerja keras. Kalau aku benar-benar missed flight, yang sesungguhnya hal yang paling membuatku malu kalau sampai kejadian, aku mungkin akan mencoba mengecek penerbangan pengganti. Kupikir, lebih baik sekalian besok aja. Kereta api pun sepertinya nggak bisa diharapkan.

Hey! Tapi ide menambah satu hari lagi bersama si dia di Jakarta kedengarannya oke juga. Heheheh… Aku cuma bisa menoleh ke arahnya, yang tampak masih ngantuk itu sambil tersenyum.

Sampai di Cengkareng, aku langsung ke konter cek in. Syukurlah, ternyata aku masih bisa cek in. Dapat window seat pula, meskipun nomer 2 dari belakang.

Aku keluar lagi untuk memeluk kekasihku yang menunggu dengan muka blank andalannya. Ia tampak lega, walaupun masih juga setengah blank, ketika kubilang masih bisa cek in. Kami berciuman, lalu aku masuk lagi untuk boarding

Aku baru touchdown Adisucipto, menyalakan henpon, mengirim kabar pada orang-orang tersayang, lalu sebuah panggilan masuk soal pekerjaan. Baru jam 06.56, tapi aku tahu ini bakalan jadi hari yang sibuk dan penuh usaha memeras otak.

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, aku dan seorang rekan join visit ke hotel di Jalan Solo. Kami bermaksud menemui sang purchasing staff untuk menagih PO yang sudah dijanjikan untuk segera difax tapi setelah beberapa hari masih belum muncul juga. Kami bertiga malah jadi diskusi serius tentang hidup dan kehidupan. Rupanya, Bapak purchasing staff ini termasuk orang yang sangat religius. Beliau membagi kisah tentang pelajaran-pelajaran hidup, juga hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan. Beliau percaya, dalam hari-hari mendatang akan lebih banyak lagi kesusahan dan bencana, yang sesungguhnya disebabkan oleh sifat-sifat jelek manusia sendiri. Aku merasa dikuatkan untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Empunya Hidup.

Oya, aku jadi bersyukur, kalau telepon dari private number yang membangunkanku tadi pagi adalah salah satu cara Dia menolongku. Ya ampun, aku yang bandel begini aja masih disayangi sedemikian hebatnya.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.13, sedangkan aku dan rekanku itu masih ada appointment jam 14.30 di resto yang terletak di Jalan Kaliurang, kami pun menyudahi obrolan seru dan berpamitan.

Tiba di resto tepat waktu. Kami disambut seseorang yang pada pandangan pertama membuatku menyimpulkan kalau ia seorang cowok. Tapi, setelah diperhatikan lebih seksama, kok aku jadi ragu. Meskipun ia berambut plontos, jalannya gagah, tubuhnya perkasa dan dada rata, tapi feelingku mengatakan kalau ia cewek. Ia pun mengajakku menemui bosnya. Seorang bule paruh baya, yang mukanya aku rada familiar. Setelah bertukar kartu nama, aku mendapat jawaban. Bule itu seorang Perancis yang dulu aku pernah dengar berita kalau ia pernah dipukuli sekelompok orang yang mengaku taat beragama sampai masuk rumah sakit karena luka yang parah, hanya gara-gara ia seorang homoseksual!

Dalam perjalanan kembali ke kantor, aku dan rekanku sepakat kalau resto tersebut penuh dengan kaum gay. Secara pribadi, kami nggak ada masalah. Tapi kami bisa membayangkan, jika nanti resto tersebut sudah beroperasi akan jadi seperti bagaimana…

Di kantor, kami kedatangan tamu yang akan membagi pengetahuan dan keahliannya soal whipping cream dan soda maker. Kami sempat ngobrol rame-rame. Aku merasa seperti ketemu teman lama, karena obrolan kami nyambung banget. Field tamu tersebut adalah field yang sama denganku, di pekerjaanku sebelumnya…

Bubaran kantor, aku dan rekanku mampir ke kafe di Jl. Perumnas. Kami ngobrol seru dengan sang pemilik kafe, sambil mencicipi beberapa jenis menu yang mereka sediakan.

Harga mahasiswa, taste nggak main-main!

Sampai di rumah, aku baru sadar kalau charger henponku tertinggal di Jakarta. BAGUSSSS…

Sekarang, aku mau tidur. Hari yang melelahkan…

Advertisements

Published by

veronicalucia

Enjoying life...

4 thoughts on “10 Maret 2009”

  1. masih penasaran gw sama yg miscall jam segitu pake private number, kalo emang bener Tuhan su, sebenernya ada beberapa hal yg pengen gw omongin. he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s