20 Things You (Might) Don’t Know About Me

1. Doyan banget mengunyah es batu
2. Melepas alas kaki waktu nyetir mobil
3. Menahan marah dengan menggeretakkan gigi
4. Peminum berat air putih
5. Dairy junkie
6. Mengetik SMS dengan tangan kiri
7. Kesulitan dengan kloset jongkok
8. Nggak kuat makanan pedas
9. Nggak biasa dipijitin, apalagi dikerokin
10. Bodoh banget dalam hal menghitung
11. Cengeng
12. Suka ngomong sendiri
13. Nggak tahan sama kipas angin
14. Mabuk kalau naik mobil atau bis
15. Alergi debu dan perubahan suhu ekstrim
16. Malas mandi
17. Nggak tahan cahaya terang
18. Gampang mual
19. Cerewet soal taste tapi nggak bisa masak
20. Ngantuk kalau minum kopi

Natural Born Unordinary

Jangan tanya sejak kapan aku dan Mandra pacaran! Karena kamu nggak bakalan dapat jawaban yang memuaskan.

Aku dikenalin ke Mandra oleh mantan kekasih pada malam tahun baru 2004. Waktu itu, Nothing, band metalcore tempat aku biasa teriak-teriak sambil bersenandung sumbang, main di acara Malioboro Fair. Waktu itu aku males banget sama Mandra, mentang-mentang anak Jakarta, sombong sama anak Jogja. Belakangan, Mandra mengklarifikasi kalau waktu itu bandnya habis main di Jawa Timur. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, ia dan teman-temannya mampir Jogja. Malam itu dia mabuk berat, lokalan pula, makanya sok cool. Jadi, bukan bermaksud sombong.

Memang, Mandra nggak sombong. Setelah pertemuan pertama kami itu, kontak terus terjalin. Lewat e-mail, YM, juga FS. Kami pun jadi sahabat yang cukup intens bertukar kabar, berbagi cerita, dan yang jelas, saling memamerkan foto-foto jalan-jalan kami. Kebetulan, kami memang doyan banget jalan-jalan.

Tahun demi tahun berlalu, dan Mandra masih aja setia menjadi sahabat baikku. Masih aja setia mendengar ceritaku. Masih aja setia membagi kisahnya denganku. Sampai suatu saat, kami sama-sama menyadari kalau kami merasa nyaman satu sama lain. Merasa cocok dalam banyak hal. Dan, parahnya lagi, merasa saling jatuh cinta.

Sejak itulah keinginan untuk menghabiskan sisa hidup bersama muncul. Baru beberapa bulan lalu. Tapi kami sudah saling mengenal, luar dan dalam. Kami sudah saling yakin dan percaya.

Nggak ada proses dramatis, Mandra menyatakan cintanya padaku, lalu memintaku untuk jadi pacarnya, apalagi dengan cara yang romantis seperti di film atau sinetron. Semuanya mengalir begitu saja.

Waktu kami berniat untuk mengesahkan hubungan kami secara hukum negara pun, nggak ada proses dramatis juga. Mandra menanyakan, “Would you marry me?” sambil berlutut siap menyematkan sebentuk cincin indah di jari manis kiriku, kemudian aku menjawab, “I do.” Itu tidak pernah terjadi. Yang ada, kami diskusi berdua, gimana cara meyakinkan keluarga kami masing-masing soal pernikahan beda agama. Gimana cara menyampaikan kepada keluarga kami masing-masing bahwa kami berdua cuma ingin sebuah kebaktian pemberkatan nikah secara Kristen dan sebuah prosesi akad nikah secara Islam, tanpa perlu menggelar resepsi pernikahan. Gimana cara menyampaikan kepada keluarga kami masing-masing bahwa kami nggak mau pakai prosesi melamar yang formal banget, apalagi secara adat. Kami mau semua berjalan serba nyantai dan kekeluargaan aja.

Jadi, jangan minta diundang ke pernikahan kami juga ya! Karena kami nggak bakalan ngadain resepsi. Tapi kalau mau datang ke pemberkatan atau akad nikahnya, kami akan senang banget. Lagian, belum ada tanggal fix, kapan kami akan menikah.

Enjoyable Work, Pleasant Places, Memorable Tastes Part 2

Yuk, nongkrong sambil icip-icip lagi yuk!

Tamansari Food Court, Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta.

Orange Sunset
Salah satu minuman favoritku di Tamansari Drink Corner. Isinya orange concentrate, ice cube, simple syrup, serutan kelapa muda, dan taburan selasih. Segar dan cukup mengenyangkan.

Barbeque French Fries
Kentang goreng shoestring dengan bumbu barbekyu ini tersedia di konter Oishii Bento.

Thai Coffee Float
Ini juga salah satu minuman favoritku. Kopi yang diimpor langsung dari Thailand (Ibu bos Tamansari Drink Corner, yang juga istri sang pemilik plaza terbesar se-Jateng & DIY ini, memang sering jalan-jalan keluar negeri dan pulang membawa menu-menu baru yang menarik, bahkan berani mengimpor langsung bahan-bahannya), ice cubes, satu scoop ice cream vanilla, dan whipped cream. Dulu sih rasa kopinya mantep banget. Belakangan, mungkin untuk menekan cost, taste kopinya jadi berkurang.

Cheese French Fries
Shoestring dengan taburan keju parut. Kalau melihat harganya, murah banget!

Excelso Café, Malioboro Mall, Yogyakarta.

Chocolacinno
Ini salah satu minuman favoritku di Excelso Café. Berhubung kemarin sempat kecewa sama Chocolacinno di Kedai Kopi, jadi aku mau balas dendam! Creamy coffee topped with whipped cream dengan serutan dark chocolate yang lumer ketika diaduk. Ngeliatnya aja udah cukup bikin ngiler.

Bengawan Solo Coffee, Galeria Mall, Yogyakarta.

Hazelnut Latte
Kopi dengan taste yang smooth, susu dengan foamnya, dan sirup hazelnut merk ternama di dunia perkafean. Aku suka menyeruputnya tanpa gula.

Frappio Coffee & Ice Cream, Yogyakarta.

Choco Disco
Hot chocolate yang rich banget, topped with whipped cream. Sayangnya, buatku masih terlalu manis.

Lime Squash
Soda, jeruk nipis, ice cubes dan satu scoop vanilla ice cream. Jeruk nipisnya kerasa banget. Sodanya pas, jadi nggak terlalu pahit. Eskrimnya membuat minuman ini jadi tambah seru. Segar, kecut, dengan sedikit karakter creamy yang nggak eneg.

Frappe Chocolate
Kopi dengan taste yang smooth namun cukup kuat, diblend dengan coklat yang rasanya lebih dominan.

Plain French Fries
Maksudnya plain disini, kentang goreng straight cut ini nggak pakai garam atau bumbu apapun. Tapi, karena sudah battered/coated, jadi rasanya sudah gurih. Tingkat kegaringannya pas buatku. Bagian luarnya renyah, tapi bagian dalamnya empuk.

All The Best Wishes

Aku tahu rasanya jatuh cinta. Aku pernah merasakan sensasi jatuh cinta yang berbeda-beda.

Cinta pertama, hm, sebenarnya rada lupa. Waktu itu aku masih berseragam putih abu-abu. Cinlok sama teman seband. Hihihi… Aku merasa senang berada di dekatnya. Meskipun pada kenyataannya, aku dan dia berada di ‘frekuensi’ yang berbeda. Beda cara pandang terhadap hubungan kami, beda ekspektasi terhadap hubungan kami. Yang jelas, aku merasa senang ketika berada di dekatnya.

Setelah itu, sensasi jatuh cinta yang kurasakan adalah rasa nyambung dengan sang lelaki. Pandangan kami terhadap hubungan itu sejalan. Ekspektasinya juga. Aku ingat, kami sampai digelari ‘pasangan hardcore abad ini’, hihihi… Yang lebih lucu lagi, ada juga yang menyebut kami ‘Anang-Krisdayanti nya YKHC’. Hahahaha…

Selanjutnya, rasa nyaman berada di dekatnya. Padahal aku sering dibikin nangis sama cowok itu. Tapi aku sudah sangat tergantung padanya. Jadi, meskipun sering dibikin nangis karena sebel, gondok, marah, sedih, kecewa, aku tetap berusaha bertahan demi dia. Sampai akhirnya aku mentok, baru aku sadar kalau hubunganku dengannya tak ada masa depan.

Yang kurasakan sekarang adalah rasa nyaman yang benar-benar nyaman. Cara pandang kami terhadap hubungan ini sejalan, ekspektasi kami pun persis sama. Dan kami sama-sama punya kesadaran untuk bersikap terbuka dalam menghadapi masalah berdua. Sama-sama punya kesadaran untuk saling mendukung. Sama-sama punya kesadaran untuk saling memberikan yang terbaik. Ini sungguh sempurna buatku!

Walaupun begitu, aku nggak lalu melupakan begitu saja semua yang pernah kulalui. Seperti yang sering kubilang, rasa sayang nggak akan pernah berubah, tapi ekspektasi bisa berganti. Bagaimanapun, para lelaki di masa laluku sudah berjasa mengantarkanku melalui sebuah proses pembelajaran dan pematangan diri, hingga akhirnya aku menjadi aku yang sekarang ini.

Ya, kuakui kalau sekarang ini aku sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Sedang merasakan bahagianya dicintai sepenuh hati. Sedang merasakan senangnya bisa berguna buat orang lain. Sedang merasakan bangganya punya seseorang yang memang bisa dibanggakan. Sedang merasakan antusiasme menyongsong masa depan kami berdua.

Karena itu, aku bisa ikut berbahagia untuk teman-teman yang juga sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Cheers! Mari kita rayakan…

The Reason #1 Not to Marry Me

Istri harus selalu ngertiin suaminya yang capek kerja banting keringat peras tulang demi keluarga.

Well, the fact is that I work as hard as men do. Yet smarter though.

Aku bekerja bersama banyak cowok, baik relasi, kolega, maupun kompetitor.

Aku harus wira wiri kesana kemari, nyetir sendiri.

Aku sering kerja sampai larut malam, pulang sendirian, kadang dalam keadaan agak mabuk.

Aku dituntut untuk bisa multitasking, kerja fisik juga kerja otak.

Kamu bisa ngertiin aku juga sayang? Seperti aku ngertiin kamu?

Enjoyable Work, Pleasant Places, Memorable Tastes

Ini dia beberapa tempat yang barusan aku tongkrongin:

Coklat Café, Yogyakarta

French Fries

This could be the best serving french fries among cafés in my playground. Bumbu cheesenya pas, nggak terlalu banyak tapi cukup memberi rasa. Renyahnya juga pas. I guess they use a professional deep fryer properly, jadi hasil gorengannya oke banget.

Iced Mocca Latte

Iced mocca lattenya lumayan. Taste kopinya ngangkat, bisa ngimbangin taste yang rada nggak keruan dari sirup mocca yang mereka pakai (I guess it’s kinda cheap local syrup).

Kedai Kopi, Yogyakarta

Chocolacinno

Waktu order, aku ngebayangin Chocolacinno yang sama dengan Excelso Café punya. Ya, at least nggak jauh-jauh amat lah. Ternyata aku dibuat rada kecewa karena terlalu manis dan chocolatenya kurang rich. Murah, minta selamet?!

House of Raminten, Yogyakarta

Jus Purworukmi dan Nasi Kucing Plus Telur Dadar

Warung jamu dengan konsep mirip garden resto yang sangat traditionally homy dan familiar ini memang masih terbilang baru. Para waiters dan waitressesnya mengenakan kemben jarik dan kelom kayu klotak-klotak. Karena aku kurang suka minum jamu, aku tanya rekomendasi mereka, apa yang favorit di sana.

Jus Purworukmi. Kalau aku nggak salah ingat, isinya buah apel dan yogurt diblend. Kemudian topped with a pinch of ice cream (I got chocolate and strawberry), whipped cream dan sebuah stroberi. Waduh, di hotel bintang lima, serving secantik itu harganya bisa mendekati seratus ribu rupiah. Tapi disini, cukup tujuh ribu rupiah saja. Worth a lot, dengan rasanya yang seger, ada kecutnya, nggak terlalu manis dan nggak eneg. Aku jatuh cinta pada sruputan pertama!

Disini nggak menyediakan makanan-makanan berat. Nasi kucing inilah yang paling berat. Pasti pada nggak percaya kalau aku bilang harga satu porsi nasi kucing tanpa telur adalah seribu rupiah saja, sedangkan jika memakai telur harganya dua ribu lima ratus rupiah. I’m serious! Aku pun shock waktu itu. Satu piring isinya setumpuk kecil nasi (tapi buat aku itu cukup), sedikit oseng tempe yang buatku terlalu asin, sedikit oseng teri yang nggak kumakan karena waktu itu aku lagi puasa paskah, dan sedikit sambal yang nggak terlalu pedas tapi asin banget. Lumayan lah buat harga segitu.

Mereka juga menyediakan massage khusus cowok. Mau coba?

Fru-fru Café & Bakery, Salatiga

Club Sandwich, French Fries, Hot Cappucino

Ini menu wajibku kalau ke Salatiga. Club sandwich dengan roti freshly home made (kan selain café, tempat ini juga bakery) yang ditoast dengan tingkat kegaringan yang pas banget. Isinya daun selada, irisan bawang bombay, irisan ketimun, irisan tomat, mayones, keju lembaran dan chicken patty yang mereka bikin sendiri juga. French friesnya biasa aja.

Hot cappucinonya oke juga. Kopinya soft, foamnya juga cukup. Aku bisa menikmatinya tanpa perlu menambahkan gula. Oya, paket hemat tersebut harganya hanya tujuh belas ribu lima ratus rupiah saja.

Suatu Sabtu di Kepuh Permai

Udah lama nggak menikmati weekend di Jogja, my own home. Weekend lalu, aku ada kerjaan di Salatiga. Weekend sebelumnya, aku hanimun di Bandung bersama Mandra.

Bangun tidurnya tetap pagi, tapi bermalas-malasan dulu di kasur. Setelah menenggak lebih dari setengah liter air putih, aku menyeduh my own favorite Dilmah T-Series Rose with French Vanilla black tea, kasih sedikit madu. Aku suka taste rose dan vanillanya yang smooth tapi ngena. Madu sengaja kutambahkan untuk sedikit membantu menetralisir tumpukan racun dalam tubuhku, yang beberapa minggu terakhir dijejali oleh berbagai jenis racun, terutama nikotin dan alkohol. Madu juga dipercaya bagus untuk membantu menjaga ketahanan tubuh dan stamina. Cuaca lagi nggak menentu, sebentar panas menyengat, tiba-tiba hujan deras, lalu mendung, abis itu panas lagi. Ah, tubuhku yang lemah ini bisa ambruk karenanya.

Sarapan my own favorite Cajun seasoned french fries. Bumbu Cajun, yang merupakan salah satu bumbu khas Meksiko, paling cocok dinikmati bersama Zinfandel wine. Wah, berarti timingnya nggak pas. Beberapa hari lalu aku barusan mencicipi Delicato White Zinfandel. Tapi hari ini baru makan Cajunnya.

Sambil makan, aku ngerumpi sama my own beloved brother, Yosie. Hal yang rasanya udah lama banget, mengingat beberapa minggu ke belakang aku sibuk wira wiri kesana kemari. Dia sendiri sibuk bekerja juga sekarang, jadi intensitas ketemuan kami rada berkurang. Kangen banget deh jadinya.

Iced teh tarik sambil YMan di teras rumah yang masih terasa sejuk, padahal sudah mendekati tengah hari. Slurrrrp… Akhirnya aku bisa minum es yang es batunya dari air yang dimasak.

Teman setia, my own favourite Lucky Strike Menthol!

Rada siangan, ada tukang sol sepatu lewat. Langsung cegat. Sepasang high heels yang biasa kupakai kerja haknya sudah tipis. Si Mang logatnya Sunda, jadi kami malah ngobrol dengan bahasa Sunda sekalian. Jadi kangen Bandung…

Do-it-yourself French manicure. Udah lama banget nggak mendandani kuku-kukuku. Kayanya, terakhir kali french manicure waktu open day Emirates Airlines, sekitar bulan September.

Siang-siang, gerah, Mix Max Cranberry Grapefruit dingin, segerrr. Padahal baru tadi pagi detoks, heheheh.

Siang sampai sore, hujan yang sudah lama nggak nongol pun meleleh juga. Hawanya jadi adem. Enakan mlungker di my messy room. Zzzzz…

Sore: Destressing body scrub Ginger & Lavender.

Dilanjut hair mask. Rambut panjang memang perlu perawatan ekstra. And I’m very bad on that.

Udah seger, cantik dan wangi, nyruput my own favorite white coffee anget. Aroma kopinya yang soft, ditambah non dairy creamer yang creamy banget. Nggak perlu gula juga udah nikmat.

Hujannya awet. Beberapa teman ngajakin have fun di Bunker. Ada gig, Final Attack main. Teman-teman lain juga ngajakin party di Vino. Kangen imported white wine juga sih. Finally, I prefer untuk pewe di rumah sambil jalan-jalan di dunia maya.

Aduh, rasa nggerus itu tiba-tiba datang menyemarakkan suasana. Eh, Mandra nelpon. Lagi di venue, ada gig punk. Tapi dia datang untuk ketemu sama temannya aja. Setelah urusan selesai, katanya mau terus pulang.

Alergi kumat. Aku pun batuk-batuk dengan anggunnya. Tubuhku memang kurang tahan banting. Cuaca dingin, tiba-tiba panas banget, aku bersin-bersin. Cuaca panas, tiba-tiba dingin banget, aku batuk-batuk. Mlungker aja dibalik selimut polkadot biru muda kesayangan (yang seharusnya sudah sejak 2 minggu lalu aku laundriin tapi lupa terus), yang sudah lama nggak memeluk tidurku karena malam-malam kemarin panas banget. Gudnetz!

Jauh di Mata, Dekat di Hati

Ungkapan tersebut berlaku banget buat aku dan Mandra.

Mau gimana lagi?

Motorku plat AB, motornya plat B. Bahasa sehari-hariku “aku-kamu”, bahasa sehari-harinya “elu-gue”. Dan kami terpisah sejauh 45 menit terbang plus hampir 2 jam naik Damri, atau 10 jam berdesakan di gerbong beraroma besi berkarat.

Orang-orang sering mengungkapkan rasa heran mereka terhadap kami, sudah tahu jauh tapi masih nekad pacaran.

Anyway, ini memang pengalaman pertamaku punya pacar yang domisilinya berjarak lebih dari 15 kilometer dari domisiliku. Tapi sejak pertama kenalan, malam tahun baru 2004, situasi kami memang sudah begini. Jadi kami memang sudah terbiasa menjalin kedekatan lewat telepon, SMS, YM, FS, MS, FB atau e-mail. Kalau dulu kami sekedar bertukar kabar, sekarang kami saling mengapdet, hampir setiap saat. Dari situ kami jadi merasa dekat. Karena aku selalu diinfo, dia sedang ngapain. Aku yakin, dia pun tenang kalau selalu dikasih tau aku sedang ngapain.

Di hari dan jam kerja, kami memang sama-sama sibuk dengan tugas masing-masing. Jadi, kalau agak lama nggak ada kabar, kami sudah saling mengerti. Tapi kalau kebetulan lagi sama-sama longgar, kami bisa kehabisan baterai henpon sebelum waktunya bubaran kantor gara-gara ngobrol di telepon seharian. Nggak jarang kami menggarap pekerjaan kami, atau ngobrol sama rekan-rekan kerja kami masing-masing, dengan sambungan telepon di antara kami masih aktif. Hihihi…

Pernah, henpon aku rusak dan harus opname. Pada saat yang sama, SIM card Mandra error dan nggak beres-beres. Waktu itu kami benar-benar sedang diuji. Diuji kadar saling percayanya. Diuji kreativitasnya dalam menjaga komunikasi di antara kami. Diuji kesabarannya. Syukurlah, kami masih diberi kekuatan, sehingga bisa melaluinya dengan selamat. Semoga kami juga bisa melalui semua yang ada di hadapan kami dengan selamat.