
Sejak awal, aku dan Hendra memang menjalani hubungan yang tidak ‘normal’. Berawal dari pertemanan sesama penyuka musik berisik, sejak malam tahun baru 2004. Kemudian menjadi persahabatan jarak jauh yang cukup intens. Dan akhirnya, rasa nyaman terhadap satu sama lain, yang membuat kami memutuskan untuk hidup bersama. Sesungguhnya, belum genap setahun dari sekarang, kami menyadari rasa nyaman itu sendiri.
Ironisnya, niat untuk menghabiskan sisa hidup bersama itu muncul di saat kami masing-masing sudah terlanjur berjanji pada diri sendiri untuk tidak menikah.
Aku sendiri merasa lelah dengan segala tuntutan para calon suami dan keluarganya agar aku kelak menjadi istri yang patuh pada suami, pandai memasak, pintar mengurus rumah tangga dan anak-anak. Terlebih permintaan nggak masuk akal, aku harus berhenti ngeband dan memutuskan hubungan dengan dunia musik berisik. Hey, itu hobi aku! Sama seperti para cowok punya hobi otomotif atau memancing. Belum lagi, nantinya aku dilarang bekerja, yang sebenarnya karena merasa terancam jika sang istri tampak lebih cemerlang kariernya. Yap, sejak dulu pun, semua orang sudah bisa melihat prestasiku di kerasnya dunia bisnis.
Hendra sendiri muak dengan tuntutan di masyarakat bahwa suami adalah tulang punggung keluarga, yang harus menanggung semua beban ekonomi keluarga, belum lagi kalau istri dan keluarganya pada minta yang aneh-aneh.
Aku dan Hendra sepakat kalau hidup bersama, ya benar-benar serba bersama dalam arti yang sesungguhnya. Semua hal indah dibagi bersama, segala hal buruk dinikmati bersama. Apapun yang dilakukan adalah hasil diskusi berdua dengan pikiran terbuka. Utopis? Kalau kedua pihak komit dan mau berusaha mewujudkannya, tentu saja hubungan yang seimbang akan tercapai.
Kami berdua sebenarnya manusia simpel, suka memangkas hal-hal ribet yang nggak perlu, demi kenyamanan kami berdua. Contohnya adalah pernikahan kami yang serba simpel. Hanya secara agama dan negara, nggak perlu pesta yang nggak penting dan malah merusak sakralnya pernikahan. Jadi, jangan tanya lagi kapan resepsinya, karena kami muak dengan pertanyaan nggak penting itu.






























